AGAM, METRO–Tragis. Seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi (UIN Bukittinggi), ditemukan tewas mengambang di Danau Maninjau, tepatnya di Muaro Pisang, Jorong Pasar, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Senin (31/7) sekitar pukul 18.15 WIB.
Penemuan mayat mengambang itupun sempat membuat geger warga setempat hingga berbondong-bondong datang ke lokasi. Warga bersama Polisi kemudian mengevakuasi mayat yang ditemukan itu ke tepian Danau Maninjau dan kemudian dibawa ke RSUD Lubuk Basung.
Setelah dilakukan pengecekan, mayat tersebut bernama Hames S Nator (23) yang tercatat sebagai warga Guguak Panjang, Kota Bukittinggi. Korban berada di sana ternyata untuk mengikuti workshop perusahaan Multi Level Maeketing (MLM) PT Melia Sehat Sejahtera yang bergerak di bidang bisnis penjualan obat-obatan.
Sebelum tewas tenggelam, korban bersama komunitasnya yang berjumlah sekitar 30 orang menginap di Home Stay Muaro Beach Danau Maninjau selama dua hari. Mirisnya, hingga acara selesai dan pulang, rombongan tak menyadari jika korban tertinggal hingga ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di Danau Maninjau.
Kapolsek Tanjung Raya, Iptu Muzakkar membenarkan adanya penemuan mayat tersebut. Menurutnya, korban Harmes ditemukan dengan kondisi mengapung di Muaro Pisang, Jorong Pasar, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam pada Senin (31/7), oleh pemilik penginapan.
“Korban sedang ada kegiatan workshop dengan komunitas MLM PT Melia Sehat Sejahtera . Kegiatan itu digelar di penginapan Home Stay Muaro Beach sekitar Danau Maninjau. Total anggota yang mengikuti kegiatan workshop ada 31 orang termasuk korban,” kata Muzakkar, Selasa (1/8).
Dijelaskan Iptu Muzakkar, korban datang ke Maninjau pada Sabtu (29/7) bersama rombongan komunitasnya. Mereka menyewa enam unit kamar di penginapan Home Stay Muaro Beach. Selama di sana, rombongan ini melakukan banyak aktivitas, mulai dari senam bersama main game hingga kegiatan lainnya.
“Lalu, setelah mengikuti serangkaian kegiatan, sebagian rombongan termasuk korban memutuskan untuk bermain ke tengah danau. Mereka meminjam peralatan berupa benen apung dan perahu ke pemilik penginapan. Saat itu, pemilik penginapan sudah mengingatkan, bagi yang tidak bisa berenang jangan bermain ke tengah Danau Maninjau,” ujar Iptu Muzakkar.
Iptu Muzakkar menuturkan, meski sudah diingatkan oleh pemilik penginapan, rombongan itu menyampaikan jika mereka semua pandai berenang. Akhirnya mereka lanjut bermain dengan perahu lalu selesai sekira pukul 15.30 WIB, Minggu (30/7). Setelah kegiatan bermain di danau, rombongan pun melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumahnya masing-masing, sebab acara mereka telah selesai.
“Jadi, awal mula dugaan hilangnya korban, bermula saat makan siang. Karena ketika bermain di tepi danau, korban masih ikut, tapi ketika makan siang, korban telah hilang Namun, hilangnya korban ini, tidak dihiraukan oleh rombongan tersebut. Teman-temannya yang lain mengira korban ada kegiatan lain,” terang Iptu Muzakkar.
Bahkan, dikatakan Iptu Muzakkar, hilangnya korban saat jadwal makan siang itu, kata tidak dilaporkan oleh teman-teman komunitasnya ke pihak penginapan di Danau Maninjau. Namun, pada Senin (31/7), pihak penginapan menemukan sepatu milik korban yang berada di sebuah batu di tepi Danau Maninjau dekat penginapan.
“Dari temuan itulah, pihak penginapan kemudian menghubungi rombongan korban. Setelah diperlihatkan, rombongan itu mengakui jika sepatu yang ditemukan itu merupakan milik korban. Hingga Senin pagi itu, rombongan belum sadar kalau korban ini telah tenggelam di danau. Mereka mengira sepatu itu saja yang ketinggalan, tapi korban ikut dengan mereka pulang,” tutur Muzakkar.
Ditambahkan Iptu Muzakkar, beberapa jam selepas ditemukannya sepatu korban, rombongan tersebut baru sadar jika korban tidak ikut bersama mereka untuk pulang, tapi telah hilang di Danau Maninjau. Atas kejadian ini, pihak penginapan meminta rombongan untuk melapor ke Polsek Tanjung Raya.
“Mendapat laporan itu, kami langsung turun ke lokasi untuk mencari korban. Hingga menjelang maghrib, korban akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa mengapung di Danau Maninjau. Setelah ditemukan, jasad korban dievakuasi dari danau lalu dibawa ke RSUD Lubuk Basung,” katanya.
Terkait tenggelamnya korban, menurut Iptu Muzakkar, dari hasil pemeriksaan saksi-saksi termasuk keluarga korban, ternyata korban memiliki riwayat penyakit kejang-kejang atau epilepsi. Diduga, penyakit itu kambuh saat korban berenang di Danau Maninjau hingga akhirnya tenggelam.
“Dari hasil pemeriksaan tim medis di RSUD, pada tubuh korban tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan atau luka aniaya pada tubuh korban. Sehingga, disimpulkan korban meninggal dunia disebabkan tenggelam di Danau Maninjau,” ungkapnya
Terpisah, Humas UIN Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi (UIN Bukittinggi), Fitrianto membenarkan korban merupakan mahasiswanya yang terdaftar di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi jurusan jurusan BK angkatan 2020.
“Memang benar korban mahasiswa UIN Bukittinggi. Tapi, korban semester kemarin cuti. Keberadaan korban di sana bukan dalam kegiatan kampus. Kabarnya dia mengikuti sebuah training, training itu bukan juga berkaitan dengan kampus,” pungkasnya. (pry)






