Oleh: Reviandi
Dunia politik Sumbar masih cair jelang Pemilu legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres) 2024. Pekan lalu, politisi senior Ali Mukhni kembali berpindah partai, kali ini dari Partai Persatuan Indonesia (Perindo) ke Partai Nasional Demokrat (NasDem). Padahal, Ali baru lima bulanan berada di Perindo dan mendapatkan amanah menjadi ketua DPW Sumbar.
Tak tanggung-tanggung, pelantikan Ali Mukhni langsung dilakukan Ketua Umum DPP Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) di Hotel Mercure Padang, Kamis (16/3/2023). HT berharap Partai Perindo di bawah sentuhan Ali Mukhni bisa menarik Bacaleg yang baik untuk DPR RI dan DPRD Sumbar dan Kabupaten serta Kota di Sumbar.
Saat itu, Ali mengaku siap mencanangkan program-program Partai Perindo yang peduli rakyat kecil. Katanya, program Perindo ini sangat menarik dan peduli rakyat kecil sehingga ini bisa mendongkrak ekonomi masyarakat sendiri serta suara partai di Sumbar. Dia yakin bisa membawa Perindo Sumbar lebih kuat dan mesin partai bergerak hingga ke lapisan bawah.
Tapi apa yang terjadi, Selasa (25/7/2023) Ali Mukhni secara resmi menyatakan bergabung dengan Partai NasDem setelah mengundurkan diri sebagai Ketua DPW Partai Perindo. Bahkan juga hijrah menjadi calon anggota legislatif DPR RI pada Pemilu di 2024 mendatang di Dapil 2. Sebelumnya di Perindo, dia juga didaftarkan sebagai Caleg di Dapil yang sama. Kabarnya, Ali juga membawa serta pengikutnya, termasuk anaknya.
Menarik kalau kita cermati, apa yang melandasi Ali pindah ke NasDem. Partai yang telah menyatakan dukungan kepada Capres Anies Baswedan bersama Partai Demokrat dan PKS. Kata Ali, dia pindah ke Partai NasDem karena desakan para pendukung, khususnya di Dapil Sumbar 2.”Sudah jalan lima bulan. Dari 16 Februari, kita setiap hari, siang-malam terus bersosialisasi di Dapil Sumbar 2. Setiap kita berdiskusi tokoh, baik ulama, bundo kanduang itu semuanya menyarankan agar dia pindah ke partai lain,” katanya.
Dengan banyaknya permintaan dari masyarakat agar dirinya pindah partai sangatlah luar biasa,hingga akhirnya karena pertimbangan dukungan, Ali Mukhni memutuskan untuk bergabung ke NasDem. Dengan bergabung ke NasDem, Ali Mukhni optimis bakal menyumbang satu kursi DPR RI.
Saat masuk Perindo setelah lengser dari PAN, Ali Mukhni juga membeberkan alasan yang kurang lebih sama. “Dua bulan terakhir ini saya sering berdiskusi dengan akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat serta politisi lainnya tentang proyeksinya di pemilu 2024. Secara keseluruhan, pihak-pihak yang ditemui mendukung niatannya untuk Mencaleg DPR RI dari Dapil 2 Sumbar. Mudah-mudahan masyarakat Sumbar juga mendukung,” terangnya.
Kurang lebih sama bukan? Ali menyatakan keputusannya setelah berdiskusi dengan banyak orang. Kalau saat masuk Perindo dua bulan, jelang masuk NasDem ada lima bulan. Di NasDem, Ali Mukhni kemungkinan akan mengakhiri perjalanan partai politiknya, minimal untuk 2024. Karena, “jatahnya” menjadi calon anggota DPR RI sepertinya sudah oke, langsung dari Ketum NasDem Surya Paloh. Sebelum mendatangi NasDem Sumbar, Ali sudah bertemu Surya di Jakarta.
Perjalanan politik Ali Mukhni ini sebenarnya cukup unik. Sebelum terjun berpolitik, Ali hanyalah seorang guru biasa, mata pelajarannya olahraga. Dia memulai tugasnya sebagai guru STM Negeri Bengkulu (1988-1995), dilanjutkan menjadi guru SMA Negeri 10 Padang (1995-2000) dan guru SMA Negeri 1 V Koto Kampung Dalam, Padangpariaman (2000-2005).
Nah, barulah setelah 2005 dia mulai ditarik ke dunia politik oleh Bupati Padangpariaman saat itu Muslim Kasim (MK). MK yang akan maju dalam Pilkada Padangpariaman, disebut memiliki peluang yang sangat besar. Banyak survei dan pendapat yang menyebutnya akan melenggang mudah. Karena itu, pasangan Wakil Bupati-nya tidak terlalu penting.
Banyak versi cerita yang menyebut, kenapa MK meminang Ali Mukhni yang hanya guru biasa. Yang jelas, pasangan MK-Ali Mukhni berhasil mengalahkan pasangan MYusuf-Isril Berd dan Jasma Joni-Erman Harun dalam Pilkada Padangpariaman 27 Juni 2005. Meski ada sejumlah masalah yang sempat mencuat, seperti kasus money politic dan MK yang diadukan oleh sejumlah LSM dengan tuduhan menggunakan ijazah palsu.
Setelah itu, resmilah Ali Mukhni menjadi politisi ketimbang seorang pendidik. 2010, saat Muslim Kasim tak bisa maju lagi dan “harus” naik kelas ke Sumbar, Ali Mukhni berkesempatan menjadi Bupati. MK pun naik kelas menjadi calon wakil Gubernur Sumbar 2010 mendampingi Irwan Prayitno (IP). Pasangan MK-IP memenangkan Pilgub Sumbar, sementara Ali Muhkni menjadi Bupati didampingi Damsuar 2010-2015.
Sat menjadi Bupati Padangpariaman inilah, cikal bakal gonta-ganti partai Ali Mukhni mulai terlihat. Dia sempat menjadi Ketua DPD Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Sumbar pada 2010 itu. Tak lama, hanya sekitar satu tahun saja, sebelum pertengahan 2011 digantikan oleh Wali Kota Padangpanjang dr Suir Syam. Tak banyak cerita terungkap saat Ali menjadi Ketua Gerindra Sumbar. Mungkin karena waktunya yang singkat, tak banyak yang bisa dibuatnya.
Menariknya, setelah memenangkan kembali Pilkada Padangpariaman 2015 bersama Suhatri Bur, Bupati Ali Mukhni menjadi Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sumbar 2016. Dia menggantikan Asli Chaidir yang telah habis masa jabatannya. Ali memimpin PAN saat Pemilu dan Pilpres 2019. Hasilnya cukup baik. PAN berhasil dibawanya mendapatkan 10 kursi DPRD Sumbar dan menjadikan Indra Dt Rajo Lelo sebagai wakil Ketua DPRD Sumbar.
Sayangnya, ketika akan mengakhiri masa jabatannya sebagai Bupati dan berencana naik kelas mengikuti jalan Muslim Kasim, kursi PAN lepas darinya. Sekitar Agustus 2020, PAN memilih Indra Dt Rajo Lelo sebagai ketua DPW PAN Sumbar. Jadilah pada saat Pilgub Sumbar 2020, Ali Mukhni yang menjadi Cawagubnya Mulyadi dari Demokrat, tak lagi berstatus ketua partai.
Sayang, Pilgub Sumbar 2020 tak begitu baik bagi Ali Mukhni. Dia dan pasangannya harus takluk dari jagoan PKS-PPP Mahyeldi-Audy Joinaldy. Bahkan perolehan suara mereka kalah dari kader Gerindra Nasrul Abit dan Indra Catri. Mereka cuma unggul dari pasangan Fakhrizal-Genius Umar.
Banyak yang mengira, setelah kalah di Pilgub dan tak lagi menjadi ketua PAN, karir politik Ali Mukhni habis. Sama seperti sejumlah kepala daerah lain yang memutuskan untuk menepi dari dunia politik. Kabar itu terbantahkan saat Ali memutuskan bergabung dengan Perindo. Semakin heboh saat baru lima bulan di Perindo, ‘lompat’ lagi ke NasDem.
Kini, pilihan sudah dibuat Ajo Kuni, NasDem dan Anies akan dibelanya 2024. Apapun alasannya, Ali sebenarnya sudah “menang” jelang kontestasi lima tahunan. Sebagai orang yang pernah 15 tahun di pemerintahan daerah, dia benar-benar dibutuhkan partai politik. Dalam 2023 ini, sudah dua Ketum Parpol ditemuinya dan memberikan restu kepadanya maju di Pileg 2024 mendatang.
Yang pasti, bagi Ali Mukhni, partai politik benar-benar alat untuk membersamai masyarakat yang dibelanya. Mungkin karena awalnya dia bukanlah seorang kader partai manapun, dan hanya seorang guru biasa, tak ada partai politik yang benar-benar melekat. Mungkin Ali menganut apa yang pernah disebut penulis buku ‘Negeri para Bedebah’ Tere Liye, “Hanya kesetiaan pada prinsiplah yang akan memanggil kesetiaan-kesetiaan terbaik lainnya.” Semoga prinsip Ali Mukni adalah membangun negeri dan mensejahterakan rakyat. (Wartawan Utama)






