POLIKATA

Pilih Wakil Rakyat yang Bekerja

0
×

Pilih Wakil Rakyat yang Bekerja

Sebarkan artikel ini
image description

Oleh: Reviandi

Mengapa wakil rakyat harus dipilih kembali? Kalau selama terpilih malah “hilang awan” dan tiba-tiba kembali datang saat Pemilihan Umum (Pemilu) telah memanggil kita kembali. Tanpa ragu mereka merayu-rayu, agar kembali menyerahkan suara kepadanya. Meski, dia akan kembali hilang.

Mungkin, kalau kita sepakat, waktu-waktu seperti itu janganlah berulang kembali. Bagi para wakil rakyat yang telah menjabat satu periode, tapi tak terlihat kerjanya, baiknya tidak lagi dilirik. Meski datang kembali dengan janji-janji manis, jangan sampai terayu. Biarkan mereka menggonggong, tapi pemilih tak bisa dibohongi lagi.

Sebagai orang yang lumayan sering berinteraksi di dunia politik, kerap mendapatkan “curhat” dari para kader partai politik. Mereka begitu menyesal dan merasa bersalah memilih dan menjagokan seseorang menjadi anggota dewan. Bahkan, sudah berperiode-periode dia diminta membantu menyukseskan.

Namun apa daya, si calon yang terpilih, kembali meninggalkan dirinya, kelompok sampai orang-orang loyal yang memilih calon itu. Bertahun-tahun, dia hanya melihat bagaimana wakil rakyat lain berperan cukup baik di kehidupan sehari-hari masyarakat. Dia merasa cemburu, dan tak akan mau lagi membantu orang yang satu partai dengannya maju kembali.

Bagaimana tidak, setiap ada momentum, ada wakil rakyat yang memberikan ribuan bahkan ratusan ribu paket sembako untuk masyarakat daerah pemilihannya. Terlepas dari ria, suka pamer, mau dibilang hebat atau sejenisnya, sembako itu benar-benar dibutuhkan masyarakat. Sangat dinanti, karena kehidupan yang sedang berat.

Ada juga yang membawakan banyak bantuan dari pusat, berupa modal usaha, modal kerja, bantuan ini dan itu. Sementara, wakil rakyat yang dipujanya selama ini diam entah di mana. Saat Covid-19 melanda dan memporak-porandakan semua, wakil rakyat itu entah kemana. Tak terlihat sedikit pun niatnya membantu orang yang memilihnya. Minimal orang-orang yang telah membantunya mencapai tujuan itu.

Sang wakil rakyat seperti telah hilang ditelan rimba belantara. Semua alat komunikasinya terpantau aktif, tapi tak ada yang menjawab. Bahkan, orang-orang uang selama ini mengaku Sespri, ADC, dan sebagainya, juga seperti tak ada lagi. Semua diam, hening dan tidak ada respon. Entah bagaimana cara menghubunginya. Untuk datang ke Dapil, pasti sangat susah. Karena pandemi juga mengunci daerah. Penerbangan stop semua. Yang bisa diandalkan adalah kiriman saja.

Parahnya lagi, orang yang mengaku dipilih rakyat itu juga tak pernah tampil di Senayan, apalagi di publik. Ketika anggota DPR lain berlomba wara-wiri di televisi atau podcast dan lainnya, yang diagungkan itu tak pernah muncul. Berbagai isu telah dibahas, termasuk yang berada di Komisi atau kewenangannya. Yang mulia itu tak juga pernah muncul.

Banyak sebenarnya contoh yang seperti itu. Seolah-olah, pemilih atau rakyat tak bisa menuntut hak mereka kepada para wakilnya. Seperti apa yang mereka berikan saat Pemilu tidaklah penting bagi orang terpilih. Padahal, saat musim kampanye tiba, mereka begitu dekat. Menunjukkan kepedulian dan memberikan ini dan itu. Seolah-olah, hidup Caleg itu mengabdi untuk mereka.

Bisa saja, modus seperti itu memang adalah ciri dari wakil rakyat kita kebanyakan. Yang merasa telah membeli suara rakyat dengan beragam bantuan mereka saat kampanye. Jadi, setelah dilantik, kenapa harus kembali mengerjakan hal yang sama. Toh selama lima tahun mereka akan menerima gaji dan tunjangan serta uang ini dan itu. Kenapa harus peduli kepada mereka yang telah “dibeli.”

Bukankah saat memancing, tak ada pemancing yang kembali memberikan umpan kepada ikan-ikan yang telah ditangkapnya. Ikan yang dengan susah payah telah mereka kail dengan mengucapkan “stike.” Cukuplah ikan-ikan itu dimasukkan ke dalam tempat ikan. Kalau di Maninjau namanya karuntuang, benang yang dirajut menyerupai jaring agar bisa diisi ikan hasil tangkapan.

Ikan-ikan itu telah dikurung di suatu tempat, bisa dipelihara, atau dieksekusi segera. Jadi tak heran, para anggota dewan itu dengan santai akan kembali lagi saat musim kontestasi itu tiba. Bisalah dia “mengorbankan” dana satu tahun gaji atau minimal enam bulan untuk modal mencaleg kembali. Toh dengan terpilih, dia akan mendapatkan lima tahun berikutnya, atau 4 sampai 4,5 tahun pasnya yang bisa dinikmati.

Tak semua seperti itu. Ada juga wakil rakyat yang benar-benar dicintai rakyat. Memberikan segalanya untuk masyarakat. Gajinya saja ada yang tidak diambil, semua diberikan kepada masyarakat, utamanya fakir miskin dan anak yatim. Begitulah sejatinya wakil rakyat, bisa menjadi orang yang terdepan membela hak-hak rakyat. Memberikan apa yang dibutuhkan masyarakat. Bukan uang dan bantuan saja, tapi juga kebijakan-kebijakan yang bisa dihasilkan.

Kembali kepada kader teman kita tadi. Dia begitu marah, begitu malu dan begitu yang lainnya melihat perangai wakil rakyatnya itu. Wakil rakyat yang konon kabarnya terus menumpuk harga kekayaan untuknya dan keluarga kecilnya saja. Apalagi, sudah kurang dari setahun mau Pemilu, belum juga ada satu pun kinerja yang dia lihat. Sesal, sungguh menyesal dan kesal dia. Sampai-sampai mulai ada arah-arah mau antipolitik 2024.

Penyesalan mungkin datang terakhir, tapi jangan berlarut-larut. Kata D’lloyd dalam lagu “Titik Noda,” Hapuslah air matamu, jangan ditangisi kisah yang lalu, sudah suratan ini terjadi, jangan kau sesali lagi. Berat memang, tapi kalau serius belajar dari kejadian, maka akan berhasil. Menghilang dari Pemilu dan Pilpres 2024 juga tidaklah bijak. Karena, seperti cerita lama, suara kita menentukan nasib bangsa.

Mencari wakil rakyat yang paham tugas dan wenenangnya. Baik terkait dengan fungsi legislasi perundang-undangan dan aturan lainnya,  fungsi anggaran seperti APBN dan lainnya, fungsi pengawasan baik terhadap UU, APBN dan kebijaka-kebijakan pemerintahan lainnya. Juga mampu menyerap, menghimpun, menampung dan menindaklanjuti aspirasi rakyat.

Selain itu, wakil rakyat yang idela itu juga  paham hak dan kewajiban yang melekat padanya. Seperti  mengajukan usul rancangan UU, mengajukan pertanyaan, menyampaikan usul dan pendapat, memilih dan dipilih, membela diri, imunitas, protokoler, keuangan dan administrative, pengawasan mengusulkan dan memperjuangkan program pembangunan Dapil dan hak melakukan sosialisasi UU.

Sementara harus mengerti kewajiban memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan UUD 1945 dan menaati ketentuan peraturan perundang-undangan, mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional dan keutuhan NKRI, mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan, memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Selanjutnya menaati prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara, menaati tata tertib dan kode etik,menjaga etika dan norma dalam hubungan kerja dengan lembaga lain, menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala, menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat dan memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada konstituen di Dapil.

Setidaknya, kita butuh wakil rakyat seperti yang disuarakan penyanyi Iwan Fals dalam lagu Surat Buat Wakil Rakyat. “Jangan ragu jangan takut karang menghadang, bicaralah yang lantang jangan hanya diam.” Karena kita sudah bosan dengan wakil rakyat yang 3 D (datang, duduk dan diam). Khusus datang, sekarang sudah bisa pula diwakili dengan online. Jadi, kita pilih mereka yang benar-benar bekerja. (Wartawan Utama)