BERITA UTAMA

Ketua Dekranas Buka Peningkatan Kompetensi UMKM, Harneli: Produk Kriya Sumbar Berkembang dan Semakin Diminati

0
×

Ketua Dekranas Buka Peningkatan Kompetensi UMKM, Harneli: Produk Kriya Sumbar Berkembang dan Semakin Diminati

Sebarkan artikel ini
Pembukaan— Ketua Dekranasda Sumbar, Harneli Mahyeldi mendampingi Ketua Dekranas, Wury Maruf Amin dan Pengurus saat Pembukaan Peningkatan Kompetensi UMKM Kriya di Panyakalan, Kabupaten Solok, Kamis (20/7).

PADANG, METRO–Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kriya di Kabupaten Solok men­dapat kesempatan mengikuti kegiatan peningkatan kompetensi yang merupakan program dari Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas).

 Pembukaan kegiatan Peningkatan Kom­petensi UMKM Kriya dilaksanakan langsung oleh Ketua Dekranas, Wury Maruf Amin, Kamis (20/7), di Lapangan Nagari Pa­nyakalan, Kecamatan Ku­bung, Kabupaten Solok.

 Ketua Dekranasda Pro­vinsi Sumatera Barat (Sum­bar), Harneli Mahyeldi me­ngatakan, kegiatan ini sa­ngat bermanfaat bagi UM­KM Binaan Dekranasda Ka­bupaten Solok. Pelaku UMKM Kriya nantinya men­dapat pengetahuan dan pencerahan dari nara­sumber handal dan ber­kompetensi di bidangnya.

 Acara yang dikemas dalam bentuk diskusi panel ini memberikan harapan kepada UMKM binaan. Te­ru­tama mengenal manaje­men produksi dan branding bagi perluasan pasar ke­rajinan kriya, legalitas, kreatifitas dan inovasi bagi pe­ningkatan daya saing UMKM Kriya. Selain itu, manajemen usaha dan pem­biyaaan bagi usaha berkelanjutan UMKM Kriya serta pendaftaran hak cipta dan perlindungan mereka bagi UMKM Kriya.

 Harneli berharap Dek­ranas terus membina Dek­ranasda Sumbar dan pela­ku UMKM di Sumbar, s­ehingga produk kriya di Sumbar terus berkembang dan semakin diminati oleh berbagai pasar dalam dan luar negeri.

Harneli mengungkap­kan, tenun songket, sula­man dan bordir di Sumbar telah berkembang cukup pesat hingga saat ini. Pr­o­mosi kerajinan kriya ini telah diaplikasikan dalam bentuk, fashion dan interior yang menarik dan dimintai banyak kalangan.

“Dari Sumbar terlahir beberapa produk kriya su­lam dan bordir, seperti kapalo samek, suji caia, sulam bayang, sulam ba­yang mas, serta bordir kerancang. Salah satu pro­duk kriya yang membuat kami bangga adalah, ter­nyata basis sulam dan bor­dir Indonesia ini ada di Sumbar,” kata perempuan yang akrab disapa Ummi Harneli itu.

 Menurutnya, berbagai jenis motif bordir hasil dari beberapa pelatihan, baik yang diadakan pemerintah daerah, Dekranasda Sum­bar, maupun pihak lain terus tercipta dan me­nga­lami perkembangan. Se­hing­ga produknya di­tung­gu-tunggu oleh para kon­sumen di Indonesia.

Baca Juga  Kompolnas: Belum Ada Temuan Ketidaknetralan Polri

 “Kami berharap kepa­da UMKM Kriya di Kabu­paten Solok dapat meman­faatkan momentum ini dan teruslah berkarya agar produk ung­gulan Kabu­paten Solok men­j­adi pro­duk kriya unggulan di Sum­bar, Indonesia dan dunia,” harapnya.

 Ketua Dekranas, Wury Maruf Amin mengapresiasi Kementerian Investasi/BKPM yang telah mengi­nisiasi acara ini bekerja sama dengan Dekranas dan Dekranasda Kabupa­ten Solok. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat me­ningkatkan kompetensi UMKM Kriya khususnya di Kabupaten Solok.

Wury mengungkapkan, Indonesia bangsa yang kaya budaya dan tradisi, serta memiliki potensi besar dalam industri kriya. Sebagian besar pelakunya berskala mikro dan kecil atau UMKM sektor kriya telah memberikan kontri­busi yang signifikan bagi perekonomian negara.

Namun, di era globalis­asi dan persaingan yang semakin ketat, tantangan pelaku UMKM Kriya sema­kin beragam dan komp­leks. Untuk mengatasinya diperlukan kreativitas dan inovasi. “Kreativitas me­mung­kinkan kita melihat peluang baru, mengha­silkan produk unik dan mampu beradaptasi me­me­nuhi kebutuhan pasar yang berubah. Sementara itu, inovasi memungkinkan kita menciptakan proses produksi yang lebih efisien dan efektif,” ujarnya.

Pelaku usaha UMKM Kriya dapat meningkatkan daya saingnya dan mem­berikan nilai tambah lebih besar bagi produk-produk hasil karyanya, dengan menerapkan krea­tivitas dan inovasi. Pelaku usaha UMKM Kriya dapat men­ciptakan produk me­narik dan bernilai tinggi de­ngan memadukan keahlian tra­di­sional dan inovasi mo­dern.

“Kita dapat memperta­hankan kekayaan Budaya Indonesia melalui kreati­vitas. Kita dapat mengha­dapi tantangan zaman yang terus berubah dengan inovasi. Pelaku usaha UM­KM Kriya tidak hanya men­ciptakan produk bernilai ekonomi. Tetapi juga me­wariskan kekayaan budaya dan tradisi Bangsa Indonesia hingga dikenal dunia,” ungkapnya.

Wury yakin, Indonesia memiliki potensi tidak ter­batas dalam bidang krea­tivi­tas dan inovasi. “Kita me­miliki warisan budaya yang kaya menyimpan mak­­na dan sangat bera­gam, keah­lian tradisional yang luar biasa, serta generasi muda yang penuh semangat dan berbakat,” ungkapnya.

Baca Juga  2 Tersangka Ditahan, Abin Ngaku Sakit Keras, Dugaan Korupsi Dana KONI Kota Padang

“Melalui kolaborasi an­tara Dekranas, pemerin­tah, pelaku usaha, dan masya­rakat, kita dapat mencip­takan lingkungan kondusif bagi pertum­bu­han dan per­ kembangan sektor kriya di Indonesia,” tambahnya.

Dekranas menurutnya, berkomitmen memberikan dukungan kuat bagi pelaku UMKM Kriya dan juga terus mendukung pengemba­ngan UMKM Kriya melalui berbagai program yang mendorong kreativitas dan inovasi. Fasilitasi akses pendanaan, pelatihan, ak­ses pasar, kemudahan be­rusaha dan promosi produk kriya Indonesia akan tetap terus menjadi fokus kita.

Dekranas juga bekerja sama dengan lembaga/institusi terkait lainnya un­tuk menghasilkan pene­mu­an-penemuan baru yang relevan dengan sek­tor kri­ya ini. Namun, Dekranas tidak dapat bergerak sendiri, apalagi di era kola­borasi saat ini.

“Kami mengajak se­mua pihak, termasuk pela­ku usaha kriya, perancang/desainer, akademisi, seni­man, dan masyarakat, ser­ta pemerintah, bersama membangun ekosistem yang mendukung kreati­vitas dan inovasi. Kita per­lu saling berbagi peng­e­tahuan, pe­ngalaman, dan ide-ide baru untuk mendo­rong pertum­buhan sektor kriya di Indonesia,” ajak­nya.

Ketua Bidang Mana­jemen Usaha Dekranas, Sri Suparni Bah­lil menyebut, kegiatan Peningkatan Kom­petensi UMKM yang digelar di Sumbar yang ketiga kali sejak pasca­pandemi Covid-19. Sebe­lumnya, kegiatan digelar di Makassar, Sula­wesi Sela­tan. Dalam hal ini, pihaknya be­kerja sama dengan Ke­men­terian In­ves­tasi/BPKM.

Berdasarkan data ter­akhir, dari 65 ribu UMKM, masih ada sekitar 60 ribu UMKM, termasuk UMKM Kriya yang belum memiliki legalitas. Padahal, sejak penerapan Sistem Online Single Submission (OSS), sudah diterbitkan 4.473 nomor induk usaha.

“Ini masih menjadi PR kita bersama. Tidak hanya meningkatkan kompetensi pelaku UMKM Kriya, tapi juga bagaimana kita men­dampingi mereka menda­patkan investasi dan legali­tas. Inilah yang melatar­belakangi kerja sama kami dengan Kementerian Inves­tasi/BKPM,” tutur istri Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia itu. (AD.ADPSB)