SOLOK, METRO–Ratusan warga Nagari Tanjung Alai, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok hentikan kegiatan tambang galian C di nagari mereka, Kamis (13/7) siang. Masyarakat meminta alat berat dan pekerja tambang galian C milik PT Batu Lubuk Raya ke luar dari lokasi tambang.
Awalnya ratusan masyarakat berkumpul di jalan masuk lokasi tambang galian C. Mereka meminta agar kegiatan tambang dihentikan dan seluruh alat dan pekerja tambang ke luar dari lokasi.
Massa yang jumlahnya terus bertambah kemudian merinsek masuh kelokasi tambang. Dilokasi tambang mereka kembali menyerukan agar kegiatan tambang segera dihentikan.
“Kami sangat menyayangkan kegiatan tambang galian C ini. selain merusak lahan, warga Nagari Tanjung Alai juga tidak menikmati dari hasil penambangan galian C oleh PT Batu Lubuk Raya,” ujar Walinagari Tanjung Alai, Yurdam di lokasi tambang.
Menurutnya, kegiatan penambangan galian C oleh PT Batu Lubuk Raya tersebut telah berlangsung selama lebih kurang satu tahun bekangan ini. Namun jelasnya sampai sekarang tidak ada pemberitahuan dari PT Batu Lubuk Raya itu kepada pemerintahan setempat.
Aksi masyarakat tumpah ke lokasi tambang sebagai bentuk tuntutan sekaligus bentuk penolakan terhadap penguasaan lahan oleh PT Batu Lubuk Raya. Karena lahan yang menjadi lokasi tambang diakui oleh masyarakat sebagai milik masyarakat Nagari Tanjung Alai yang sudah bersertifikat.
“Kami telah melakukan pengaduan secara administrasi pada Badan Pertanahan Nasional (BPN) Koto Baru untuk menentukan titik koordinatnya, dan pihak BPN menyebutkan apabila telah ditentukan titik koordinatnya akan dilakukan pengukuran ulang,” jelas Yurdam.
Namun lanjutnya hal ini belum keluar sampai sekarang. Setelah ditanyakan kembali ternyata di BPN masih dalam proses.
“ Proses ini sudah ada selama satu tahun, kami cari bukti ternyata tanah ini sudah ada sertifikatnya seluas 6 hektar atas nama Joni Amril Warga Nagari Aripan. Sesuai data yang ada, tanah ini dijual kepada Kardanis warga Aripan, kemudian Kardanis juga menjual kepada PT Batu Lubuk Raya,” jelasnya.
Dalam aksi siang itu sejumlah alat berat berupa eskavator berhasil diusir masyarakat keluar dari lokasi tambang. Hingga sore hari masyarakat masih berada dilokasi tambang untuk berjaga jaga dan menyisir lokasi tambang untuk memastikan tidak ada kegiatan tambang yang berjalan. Bahkan masyarakat juga melakukan pemagaran jalan masuk ke lokasi tambang dengan kawat berduri. (vko)






