METRO PESISIR

Gelar Ketahanan Budaya di Kota Pa­riaman, Fondasi Pengembangan Pariwisata

0
×

Gelar Ketahanan Budaya di Kota Pa­riaman, Fondasi Pengembangan Pariwisata

Sebarkan artikel ini
HADIRI—Wali Kota Genius Umar hadiri gelar ketahanan Kota Pariaman, dengan tema pilar sosial dan budaya sebagai fondasi pengembangan pariwisata.

PARIAMAN, METRO–Wali Kota Pariaman H Genius Umar menyatakan Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI), kemarin, gelar ketahanan Kota Pa­riaman, dengan tema pilar sosial dan budaya sebagai pondasi pengembangan pariwisata. “Pilar ketahanan budaya dipilih menjadi salah satu tema serial FGD oleh SKSG UI, karena Kota Pariaman sangat terkenal sebagai daerah yang memiliki budaya paling kuat di Sumatera Barat dan dipraktekkan dalam membangun kotanya hingga kini,” kata Walikota Pariaman H Genius Umar, kemarin.

Ia mencontohkan salah satunya praktek pendekatan budaya digunakan untuk membangun 25 ruas jalan sepanjang lebih ku­rang 50 KM, tanpa menggunakan dana APBD maupun bantuan pemerintah, namun melibatkan seluruh masyarakat yang tinggal di Pariaman maupun perantau secara gotong royong dengan tradisi budaya badoncek yang sangat kental dengan solidaritas, kerja­sama dan gotong royong, ulasnya. “Eksistensi badoncek ini memang telah dipraktekkan turun temurun di Pariaman yang dilakukan ketika menghadapi ma­salah dan kegiatan yang memerlukan biaya, seperti perkawinan atau memba­ngun rumah. Tradisi yang biasanya dilakukan dalam lingkungan keluarga kini dipraktekkan secara konsisten di masa kepemimpinan kami sebagai bentuk pembangunan partisipasi masyarakat, dengan me­ngumpulkan sumbangan secara sukarela dan terbuka, di kampung ataupun di rantau,” ungkapnya.

Genius menjelaskan, sumbangan yang diberikan berbentuk uang atau materi sesuai dengan kebutuhan. Besar kecilnya sumbangan bergantung pada hubu­ngan keluarga dan kemampuan masing-masing. “Budaya ini sangat kuat berkontribusi dalam pembangu­nan Pariaman bahkan di masa sulit, contohnya di saat gempa, tradisi bandoncek terbukti mampu menggalang dana dan sumbangan dari para pe­rantau di Jakarta dan ber­bagai kota besar lainnya untuk membangun kembali rumah-rumah penduduk yang rusak di Pariaman,” ujarnya.

Lebih lanjut, Genius menuturkan sejak pandemi hingga kini sudah 41 rumah penduduk yang rusak di­bangun secara badoncek kerjasama dengan Indo Jalito Peduli. Selain  badoncek, Kota Pariaman memang terkenal memiliki budaya yang tinggi, salah sa­tunya budaya pesisir yang sangat terkenal, yakni Budaya Tabuik yang diperi­ngati setiap 1 Muharam, dan menjadi daya tarik pariwisata setiap tahun dan me­nyedot wisatawan terbanyak hingga 250.000 o­rang yang datang , baik domestik maupun internasional di Sumatera Barat. “Tradisi Badoncek dan Tabuik ini, sudah masuk da­lam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di Kemen­terian Pendidikan dan Kebudayaan. Peluang pembangunan Kota Pariaman di sektor pariwisata berbasis sejarah budaya, juga masih sangat besar karena merupakan pintu gerbang masuknya Islam di Sumatera Barat dan juga memiliki cagar budaya tidak bergerak berupa Stasiun Kereta Api yang dibangun sejak 1901 dan masih bero­perasi sampai sekarang,” ujarnya.

Pusat Riset Ketahanan Nasional (PRKN) SKSG UI, Dr. Margaretha Hanita, me­ngatakan dalam rangka menyusun strategi ketahanan kota yang berbasis pada budaya, Pemerintah Kota Pariaman kembali bekerjasama dengan SKSG Universitas Indonesia, untuk melaksanakan FGD membahas pilar ke­tahanan budaya Kota Pariaman. “Keberhasilan Kota Pariaman yang dipimpin oleh Genius Umar pada pembangunan partisipasi publik, diuji Pusat Riset Kajian Nasional, SKSG UI Melalui Pilar Budaya, dan ini merupakan kerja nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.

Margaretha Hanita me­nyebutkan, Genius Umar berhasil Membuka Jalan Sepanjang  50 KM 25 Ruas Non Budgetter adalah bentuk pembangunan partisipasi publik dengan cara badoncek , seni memimpin kota pariaman dengan pen­dekatan budaya yang mana badoncek atau sumbangan sebagai bentuk solidaritas atau partisipasi dikemas dengan baik oleh Wako Pariaman. “Dengan pendekatan pak Wali ini, telah terbangun jembatan hati an­tara perantau dengan orang kampung untuk membangun Kota Pariaman bersama sama,

Dalam diskusi, Direktur Jaringan Kota Pusaka Indonesia, Nanang Asfarinal, menyampaikan bahwa Pariaman sangat layak menjadi kota pusaka dan bisa memetakan kembali kawasan lama yang bisa menjadi cagar budaya se­perti stasiun, pasar, dan situs pelabuhan. “Apalagi Kereta Pariaman Express dengan rute Padang – Pa­riaman, hingga kini bero­perasi 8 kali dan bisa menjadi primadona bagi pariwisata dan pembangunan, dan kereta api ini, satu-sa­tunya di Sumatera Barat yang dilalui oleh Kereta Api,” ujarnya. (efa)