METRO BISNIS

BI Sumbar Gelar 2 Festival Ekonomi di Bukittinggi, Endang: Perputaran Uang Ditargetkan Rp 100 miliar

1
×

BI Sumbar Gelar 2 Festival Ekonomi di Bukittinggi, Endang: Perputaran Uang Ditargetkan Rp 100 miliar

Sebarkan artikel ini
FESTIVAL EKONOMI -Kepala Perwakilan BI Sumbar, Endang Kurnia Saputra didampingi Deputi Kepala Perwakilan Christovenya dan Deputi Kepala Perwakilan, Dadang Arif Kusuma memberikan keterangan pers terkait pelaksanaan Festival Ekonomi di Kota Bukittinggi.

PADANG, MERO-Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatra Barat (Sumbar) akan menggelar dua festival ekonomi di Kota Bukittinggi. Tak tanggung-tanggung, BI Sumbar menargetkan perputaran uang mencapai Rp100 mi­liar hingga Rp 120 miliar selama festival berlangsung.

Hal itu dikatakan Kepala BI Perwakilan Sumbar Endang Kurnia Saputra kepada wartawan, Jumat (24/6). Ia menyebut, kedua festival ekonomi itu adalah Festival Ekonomi Syariah dan Festival Ekonomi Digital Sumatra Barat yang akan digelar dalam waktu dekat ini.

“Kita mulai rangkaian festival ini mulai dari ta­hapan pra event dari 25 Juni hingga 16 Juli 2023. Sementara, untuk main event akan digelar di Kota Bukittinggi yang akan digelar selama empat hari mulai 13-16 Juli 2023,” kata Endang.

Menurut dia, yang paling mendapatkan manfaat ekonomi secara langsung melalui kegiatan ini adalah Kota Bukittingg. Perhitungan perputaran uang Rp 100 miliar hingga Rp 120 miliar dilakukan melalui jumlah kunjungan orang yang akan hadir dalam kegiatan tersebut mulai dari puluhan perwakilan perbankan, peserta UMKM serta pengunjung.

“Mereka tentu akan memanfaatkan jasa akomodasi seperti kamar hotel di Kota Bukittinggi akan dipenuhi peserta festival hingga pengunjung. Belum lagi di bidang kuliner dan transaksi dalam kegiatan festival tersebut. Kami mewajibkan seluruh transaksi festival ini dalam bentuk transaksi digital ,” ujar Endang.

Baca Juga  Paparkan Hasil Riset, Peluang Bisnis Padang Bakal Gelar PEC

Dijelaskan Endang, festival tersebut merupakan upaya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi ba­ik pertumbuhan ekonomi syariah maupun transaksi digital di Sumatra Barat. Kedua festival ini menggunakan anggaran sepe­nuhnya berasal dari Bank Indonesia yang bertujuan memberikan ruang bagi pelaku usaha meningkatkan usaha mereka.

Endang menuturkan, dalam kegiatan utama yang akan digelar di Kota Bukittinggi, pihaknya akan merangkul perbankan yang ada di Sumbar dan menggandeng 50 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Pihak perbankan akan kita rangkul untuk memberikan bantuan kredit usaha baik dalam bentuk kredit usaha rakyat maupun kredit ekspor. Kami menargetkan perbankan ini nantinya dapat mengucurkan bantuan kredit usaha kepada pelaku UMKM ini minimal Rp2 miliar per hari.

Terkait Festival Eko­nomi Syariah, menurut dia, Sumbar memiliki potensi yang besar dalam me­ngembangkan ekonomi sya­riah ini. “Sumbar baru saja menerima sembilan penghargaan di bidang ekonomi syariah dan ini tentu menjadi kekuatan yang perlu dikembangkan dengan baik,” kata dia.

Baca Juga  Di COP29, PLN Perluas Kolaborasi Pendanaan Wujudkan Target 75 GW Pembangkit EBT 2040

Pihaknya mencatat minat warga Sumbar terha­dap instrumen keuangan syariah masih tinggi yang dibuktikan dengan tingkat pertumbuhan pembiayaan bank syariah maupun dana pihak ketiga (DPK) syariah cenderung di atas bank konvensional. “Ini mengindikasikan masih tinggi­nya minat masyarakat Sum­bar terhadap instrumen keuangan syariah,” katanya.

Ia mengatakan pertumbuhan pembiayaan bank syariah pada kuartal IV 2022 mengalami akse­lerasi. Pembiayaan bank syariah tumbuh meningkat dari Rp 6,71 triliun dengan laju pertumbuhan 17,81 persen year on year (yoy) pada kuartal III 2022 menjadi Rp 7,04 triliun dengan laju pertumbuhan 22,37 persen (yoy) pada kuartal IV 2022.

Menurut dia, peningkatan tersebut juga diiringi dengan kenaikan pangsa pembiayaan bank syariah yaitu dari 10,08 persen pada triwulan III 2022 menjadi sebesar 10,37 persen pada kuartal IV 2022.

Kemudian, dari sisi risiko, rasio non performing financing (NPF) bank syariah mengalami penurunan serta masih terjaga dalam batas aman kecil dari 5 persen. “Rasio NPF pembiayaan syariah pada kuartal IV 2022 berada pada level 1,90 persen, lebih rendah dibandingkan de­ngan kuartal III 2022 sebesar 1,98 persen,” pungkasnya. (rgr)