POLIKATA

Otak-atik Politik DPRD Sumbar

0
×

Otak-atik Politik DPRD Sumbar

Sebarkan artikel ini

Oleh: Reviandi

Meski sistem Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 masih belum dipastikan, tapi siapa yang akan menjadi raja di Provinsi Sumbar sudah bisa diotak-atik. Apalagi hari ini, sejumlah hasil survei sudah beredar, baik secara resmi atau tidak. Apakah benar Partai Gerindra bisa mengulang sukses 2019 dan kembali menjadi pemenang? Atau malah ada partai lain yang mengalahkan mereka.
Partai Gerindra, kini memiliki 14 kursi di DPRD Sumbar hasil Pemilu 2019. Dengan masih mengusung Prabowo Subianto pada Pilpres 2024, Gerindra diprediksi masih akan menguasai dewan, baik di Provinsi atau Kabupaten dan Kota. Tapi, ada yang berbeda dengan sebelumnya, saat hanya terjadi head to head Prabowo dengan Joko Widodo (Jokowi).
Jokowi, memang bukan tandingan Prabowo di Sumbar. Karena itulah, hampir semua partai pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin rontok. Seperti PDIP, Golkar, NasDem, PPP dan lainnya. 2024 kemungkinan berbeda, karena ada Anies Baswedan yang diusung PKS, NasDem dan Demokrat. Ada kemungkinan Anies akan membawa berkah kepada tiga partai pengusung. Kalau tetap maju di Pilpres.
Sebagai pemenang 2019, Gerindra masih dipercaya akan kembali menambah kursi mereka. Memulai Pemilu 2009, Gerindra sudah mendapatkan 4 kursi, diteruskan 8 kursi di 2014 dan terakhir 14 kursi di 2019. Ketua DPD Gerindra Sumbar Andre Rosiade manargetkan, penambahan kursi pada sebagian Dapil Sumbar. Karena Dapil Sumbar ada 8, maka 4 kursi dibidik, artinya bisa 18 kursi didapat.
Melihat fakta kalau Prabowo saat ini hanya unggul tipis dari Anies di Sumbar, bahkan ada yang menyatakan sudah seimbang, kemungkinan Gerindra untuk dapat 18 kursi DPD Sumbar agaknya berat. Apalagi lawan-lawan mereka yang bergabung ke Anies, adalah partai-partai yang menempatkan kadernya menjadi wakil Ketua DPRD Sumbar sekarang.
Seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), meski belum pernah menjadi pemenang Pemilu di Sumbar. Padahal kader mereka menjadi Gubernur sejak 2010 lalu. PKS dari Pemilu ke Pemilu hanya mendapatkan kursi sebanyak 7 pada Pemilu 2004, 5 pada 2009, 7 pada 2014 dan saat ini 10 kursi dari Pemilu 2019. Saat masih bernama Partai Keadilan (PK) 1999, partai ini mendapatkan 2 kursi saja.
Seharusnya, sejak Pemilu 2014 sampai 2019, jumlah kursi PKS bisa lebih, karena menguasai Kantor Gubernur dengan kadernya Irwan Prayitno. 2024, dengan kekuatan kader dan “tuah” Anies Baswedan, PKS bisa saja menjadi pemenang. Apalagi, saat ini kadernya Mahyeldi menjadi Gubernur, sekaligus ketua DPW PKS Sumbar. Bisa saja, PKS mendapatkan tambahan kursi dari 10 hari ini.
Pemilik kursi Wakil Ketua DPRD Sumbar lainnya, Partai Amanat Nasional (PAN) juga memiliki 10 kursi saat ini. Ketua DPW PAN Indra Dt Rajolelo percaya, partainya bisa terus menambah peroleh kursi itu. Apalagi, kader-kader PAN terlihat loyal dan sejumlah kepala daerah juga mereka miliki. PAN memang pernah menjadi partainya “urang” Sumbar pada era reformasi, tapi belakangan sedikit mengalami penurunan.
Saat mengikuti Pemilu 1999, PAN mendapatkan 11 kursi DPRD Sumbar. Meski kalah satu kursi dari Golkar, tapi kadernya Arwan Kasri didapuk menjadi Ketua DPRD Sumbar 1999-2024. Saat itu, aturan belum menyatakan pemenang Pemilu menjadi ketua DPR atau DPRD. Tapi, ketua dipilih dengan cara pemilihan oleh anggota dewan. Hasilnya, Golkar harus mengalah.
Pemilu selanjutnya 2004, PAN mendapatkan 10 kursi, dilanjutkan 2009 dengan 6 kursi, 2014 jadi 8 kursi dan terakhir 2019 kembali 10 kursi. Saat ini ada dua daerah yang dimenangkan oleh PAN pada 2019, yaitu DPRD Pessel dan DPRD Padangpanjang. Dengan bekal yang baik, seharusnya PAN juga bisa menjadi penantang serius sebagai pemenang Pemilu tahun depan. Bukan sekadar menjadi runner up dan kadernya sebagai wakil ketua DPRD.
Pemilik 10 kursi lainnya, Partai Demokrat memang sedang terlihat sedikit masalah di Sumbar. Sejumlah kadernya terlihat bermasalah, dari yang ditangkap karena narkoba, sampai ada yang terjerat kasus korupsi. Ada juga kader yang terang-terangan pindah partai, sampai membuat baliho besar karana ketidakse­nangannya kepada ketua DPD Demokrat Sumbar Mulyadi.
Terlepas dari hal itu, Demokrat sejatinya sedang bangkit secara nasional. Dibuktikan dengan hasil survei yang menem­patkan mereka kerap di peringkat tida atau empat, dibawah PDIP dan Gerindra. Bahkan, kerap berada di atas Partai Golkar. Penyebabnya jelas, karena Demokrat sudah jauh-jauh hari menyatakan punya Bacapres pada diri Ketum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Terlepas dari laku atau tidaknya AHY, Demokrat sudah selangkah lebih maju dari sejumlah partai yang kurang pede “menjual” kader mereka sendiri. Seperti PAN, PPP, Golkar, NasDem, PKS dan lainnya. Meski kader-kader mereka ada, tapi kurang mendapat tempat di survei, dan tidak terlalu getol memperjuangkannya. Berbeda dengan Demokrat yang kini berani menyatakan, AHY adalah calon kuat Cawapresnya Anies, dan juga berpotensi jadi pendamping Capres Ganjar Pranowo.
Di Sumbar, nama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), AHY dan Mulyadi masih jadi jaminan untuk Demokrat meraih banyak suara. Apalagi, banyak kader-kader senior Demokrat yang masih tampil di Pemilu 2024 mendatang. Seperti Ismet Amziz dari Bukittingi, Irza Ilyas dari Kota Solok dan lainnya. Jaminan kursi mereka, setidaknya membuat Demokrat tenang.
Meski Mulyadi sendiri, masih belum percaya diri menyatakan bisa mendapatkan kursi lebih dari Geridra. Awal keikutsertaan 2004, Demokart menempatkan 3 kadernya di DPRD, selanjutnnya 2009 adalah hari mereka. 14 kursi diraih dan menjadikan kader Demokrat Yultekhnil sebagai ketua DPRD Sumbar. Sayang, 2014 menurut jadi 8 kursi, dan 2019 naik 10 kursi. 2024, perjuangan berat akan dialami Demokrat.
Berbeda dengan empat partai di atas, Partai NasDem hancur pada Pemilu 2019 lalu dengan hanya mendapatkan 3 kursi. Padahal, saat ikut pertama kali 2014, mereka punya 6 kursi di DPRD Sumbar. Penyebabya jelas, karena 2019 NasDem mendukung Jokowi yang hanya dapat 13 persen suara di Sumbar. 2024, sebagai partai pertama yang mengusung Anis, NasDem yakin bisa mengisi posisi juara Pemilu 2019, minimal kursi wakil ketua DPRD Sumbar.
Mungkin, hanya lima parpol itulah yang berpotensi besar menjadi pemenang Pemilu di Sumbar. Hal ini juga banyak didukung oleh hasil-hasil survei yang beredar dan hanya terbatas diperlihatkan. Partai Golkar, mungkin masih belum akan kembali kepada wujudnya sebagai pemenang Pemilu 1999 (12 kursi), 2004 (16) dan 2014 (9) di Sumbar. Sementara 2009 mendapatkan 9 kursi dan 2019 jadi 8 kursi saja.
Partai Golkar saat ini masih belum menentukan siapa calon Presiden yang akan mereka dukung 2024. Rapimnas pekan lalu, masih mengamanahkan Ketua Umum Golar Airlangga Hartarto menentukan siapa Capres-Cawapres. Golkar masih dilemma antara Prabowo atau Ganjar. Dan punya alternatif jalan keluar yang aneh, Airlangga-Zulkifli Hasan dari PAN.
Partai-partai seperti PDIP, PPP dan PKB mungkin belum dapat dianggap sebagai penantang juara Pemilu 2024. Tapi setidaknya, mereka punya kans untuk tetap eksis mengirimkan kursi ke DPRD Sumbar. Sementara partai lainnya, harus terus berjuang untuk mendapatkan kursi, meski peluang itu masih terbuka lebar. Apalagi yang punya sejarah kursi seperti PBB dan Hanura. Seperti katata Presiden ke-3 RI BJ Habibie, “”Kegagalan hanya terjadi bila kita menyerah.” Jadi, jangan menyerah teman-teman parpol.
(Wartawan Utama)