POLITIKA

Siapa Penguasa Politik Kota Padang?

0
×

Siapa Penguasa Politik Kota Padang?

Sebarkan artikel ini
image description

Oleh: Reviandi

Berakhirnya masa jabatan Wali Kota Padang Hendri Septa 31 Desember 2023 akan membuka ce­rita baru politik di Kota Padang. Hendri tak se­kadar Wako, tapi juga Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Padang. Dia tidak akan bisa terlalu “berpengaruh” kepada PAN saat Pemilu 14 Februari 2024.
Sejak menjadi jawara Pemilu 1999 dengan menempatkan Maigus Nasir sebagai Ketua DPRD Padang, PAN tak pernah lagi menjadi pemuncak. Pencapaian tertinggi PAN hanyalah menjadi runner up Pemilu 2004 dengan 9 kursi. Selanjutnya turun menjadi 5 kursi 2009, 6 kursi 2014 dan 7 kursi 2019. PAN hanya mengunci posisi wakil ketua DPRD yang diisi Amril “Aciak” Amin.
Dengan posisi Hendri Septa dan Wakil Wali Kota Ekos Albar sebagai kader PAN, seharusnya 2024 menjadi peluang besar bagi partai ber­lambang matahari biru ini. Tapi sayang, ke­duanya harus mengakhiri jabatan di hari terakhir 2023, meski seharusnya berakhir Mei 2024. Kehilangan momentum membuat PAN harus bekerja keras.
Hendri Septa bersama pengurus PAN Padang memang sedang berbenah. Para bakal caleg berkualitas terus dikebut, untuk memasti­kan kursi PAN bertambah. Bahkan, target menjadi pemenang dan menempatkan kader­nya sebagai Ketua DPRD juga sudah ditetapkan. Tapi, apakah tanpa status Wako Hendri Septa, PAN masih bisa berbuat banyak? Kita lihat saja.
Sementara, Partai Gerindra tentu tak ingin tinggal diam. Menjadi pemenang Pemilu 2014 dan 2019 Padang, Ketua DPC Verry Mulyadi dkk sangat berharap mendapatkan hatrik atau tiga kemenangan beruntun. Dengan hasil survei yang terus di papan atas, Gerindra terus bergerak untuk mengamankan kemenangan.
Perubahan daerah pemilihan (Dapil) dari 5 menjadi 6, juga membuat Gerindra optimistis bisa menaikkan kursi mereka dari 11 hasil Pemilu 2019. Naik dari  2014 yang hanya 6 dan saat awal ikut Pemilu 2009 hanya dua kursi saja. Para incumbent Gerindra, hanya satu Syafrial Kani yang naik kelas ke Sumbar. Sedangkan 10 incumbent lainnya bertarung kembali.
Gerindra sedikit “mu­ba­zir” pada Dapil 4 yang terdiri dari Kecamatan Lu­buk Begalung dan Bungus Teluk Kabung (Bungtekab). Di sana, ada tiga incumbent dari Dapil 3 lama (Lubuk Begalung dan Lubuk­kila­ngan) yang kembali turun, Elly Trishyanti, Amrantono dan Dewi Susanti. Semen­tara, kursi yang dipere­butkan hanya tujuh. Tentu akan sangat berat untuk ketiganya kembali duduk.
Pada Dapil 3 hari ini, Kecamatan Pauh dan Lu­buk­kilangan yang mempe­rebutkan enam kursi, diisi satu incumbent Donal Ardi. 2019, Donal Ardi berada di Dapil 2, Kuranji Pauh. Di Dapil yang juga diisi oleh Ketua DPRD Padang Syaf­rial Kani dan Muzni Zen. Muzni yang sudah tiga periode, akan menemui periode keempatnya dari Dapil 2 yang sekarang ha­nya Kuranji saja.
Partai Keadilan Sejah­tera (PKS) sempat meng­hebohkan Padang 2004 de­ngan menjadi pemenang Pemilu. Mendapatkan 11 kursi, PKS menempatkan kadernya Hadison sebagai ketua. Selanjutnya, PKS juga menempatkan kader­nya sebagai Wakil Wali Kota 2008 dan Wali Kota 2014 dan 2019. Sekarang, kader itu, Mahyeldi, telah menjadi Gubernur Sumbar sejak 2020.
Sayang, meski berkua­sa di Pemko Padang sam­pai 2020, PKS tak memiliki jejak bagus di DPRD Pa­dang. Setelah menang 2004, pada 2009 malah anjlok dengan 6 kursi dan 2014 turun ke 5 kursi. Barulah pada 2019 PKS bisa kembali naik dengan 9 kursi, meski tetap kalah dari Gerindra.
2024, Ketua DPD PKS Padang Muharlion akan mendapatkan tantangan yang lebih berat. Kalau pada Pemilu sebelumnya mereka berstatus sebagai orang pemerintahan, seka­rang tidak lagi. Meski, Pe­milu 2024 tak lagi menem­patkan satu partai mana­pun me­nguasai Kota Pa­dang, se­muanya akan netral.
PKS memang bertekad menjadi nomor 1 kembali di Padang, memenangkan Pemilu dan Pilkada November 2024. Hal itu mereka tegaskan setelah kadernya Hedri Susanto kalah dalam pemilihan Wakil Wali Kota di DPRD Padang. Hanya 9 anggota DPRD Padang yang memilihnya, semen­tara sisanya memilih Ekos Albar. 9 itu, pastinya kursi DPRD dari PKS semata.
Lalu, ada Demokrat yang pada 2009 menguasai penuh DPRD Padang d­e­ngan 17 kursi. Jumlah yang menjadi rekor sejak era reformasi. Saat memulai debut 2004, Demokrat su­dah meraih 5 kursi, se­mentara 2014 kembali 5 kursi dan 2019 naik sedikit menjadi 6 kursi. 2024, Ke­tua DPC Demokrat Padang Surya Jufri akan bekerja ekstra keras. Karena seca­ra nasional, Demokrat ma­sih terus dilanda masalah.
Di Kota Padang pun, Demokrat tidak sedang baik-baik saja. Apalagi, mantan ketua DPC Demok­rat Padang Ilham Maulana yang sekarang menjadi Wakil Ketua DPRD Padang masih berstatus tersangka kasus dugaan pemotongan bantuan sosial (Bansos) di Polresta Padang. Agak be­rat bagi Demokrat, apalagi Ilham kabarnya tak lagi lolos dalam Pencalegan DPRD Padang.
Sementara Golkar, se­jak era reformasi, Kota Padang mungkin bukan tempat terbaik mereka. Perolehan kursinya terus menurun sejak 2004 men­dapatkan 8 kursi, 2009 ting­gal 5 kursi, 2014 tetap 5 kursi dan 2019 anjlok men­jadi 3 kursi saja. Pemili 2019 memang menjadi hal yang nahas, sampai-sampai ke­tua DPD Golkar hari itu Wahyu Iramana Putri juga tak mampu memper­tahan­kan kursinya di Dapil Pa­dang 5 (Padang Barat, Pa­dang Utara dan Nanggalo).
Mungkinkah Ketua DPD Golkar Padang hari ini Iqra Chissa bisa membuat rebound grafis kursi Golkar di DPRD Padang. Atau malah semakin anjlok. Jangankan untuk menjadi pemenang di Padang, Golkar mungkin akan lebih pas untuk kem­bali mendapatkan nama mereka di kota bingkuang. Minimal bisa mendapatkan satu kursi per Dapil yang artinya meningkat 100 per­sen dari 2019.
Partai NasDem yang baru mengikuti Pemilu 2014, sejatinya cukup baik saat itu dengan 4 kursi. Tapi 2019, mereka terhempas seda­lam-dalamnya dan hanya mendapatkan satu kursi saja. Lebih baik dari Hanura yang 2014 punya 5 kursi, namon nol pada 2019. Mung­kin, 2024 adalah hari ke­bang­kitan bagi Partai NasDem di Kota Padang. Bahkan kalah dari Berkarya yang tak lolos 2024, tapi punya dua kursi 2019 di Padang.
Pastinya karena, partai ini mengusung Anies Bas­wedan sebagai calon Pre­siden. Jika benar maju dan disahkan KPU, faktor Anies tentu akan menjadi pem­beda dalam perolehan kur­si DPRD Padang. Ketua DPD NasDem Padang Os­man Ayub bertekad menja­di pemenang Pemilu de­ngan minimal mendapat­kan satu kursi per Dapil. Bahkan dia siap mundur jika tak menambah minimal 4 kursi NasDem.
Sementara partai-par­tai seperti PPP, PDIP, PKB, dan partai-partai baru lain­nya yang bersaing, untuk menjadi jawara atau men­jadi ketua DPRD Padang memang sangat berat. Meski PPP dan PDIP masih menyisakan tiga kursi me­reka pada Pemilu 2019 lalu. Kalau tak bekerja serius, bisa-bisa nasib mereka seperti PKB yang tak men­dudukkan satu kader pun di 2019 setelah pecah telur satu kursi 2014.
Tapi, Kota Padang ada­lah kota yang unik. Menjadi kota yang dihuni mayo­ritas oleh orang-orang dari luar Kota Padang. Semua memiliki kampung hala­man di 18 Kabupaten dan Kota di Sumbar. Siapa yang bisa memanfaatkan hal ini, bisa jadi menambah ke­kua­tan mereka.
Jadi, kejarlah harapan untuk menjadi yang terbaik di ibu kota Sumbar ini. Seperti kata Buya Hamka, “Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup ada­lah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahu­lukan istirahat sebelum lelah.” Jadi, ayo berjuang, meski sistem Pemilu juga belum disahkan MK.(Wartawan Utama)