METRO PADANG

70% dari 38 Juta Petani Berusia 50 Tahun, Kaum Milenial Harus Dirangkul Masuk Sektor Pertanian

0
×

70% dari 38 Juta Petani Berusia 50 Tahun, Kaum Milenial Harus Dirangkul Masuk Sektor Pertanian

Sebarkan artikel ini
foto bersama— Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah bersama menyatakan komitmen bersama untuk merangkul kaum milenial untuk masuk ke sektor pertanian. Saat ini baru 30 persen generasi muda menjadi atau masuk di sektor pertanian tanah air.

PADANG, METRO–Gubernur Sumbar Mah­yeldi Ansharullah me­nyebut maraknya penggu­na­an bahan baku impor oleh pelaku usaha menjadi tantangan serius untuk pengembangan sektor pe­r­tanian Indonesia. Hal itu sulit dihindari jika kua­litas dan harga produk lokal masih belum mampu me­me­nuhi standar.
“Banyak produk pangan lokal sulit bersaing dengan produk impor. Terutama untuk perdagangan besar. Karena faktor kualitas dan harga, ini tantangan sektor pertanian saat ini yang harus segera dicarikan solusinya,” ungkap Mahyeldi saat membuka acara Temu Profesi Duta Petani Milenial/Duta Petani Andalan serta Milennial Agriculture Forum (MAF) Edisi Penas Nelayan XVI di Gedung Bagindo Aziz Chan, Aia Pacah, Kota Pa­dang, Sabtu (10/6).
Ia menuturkan, dari segi jumlah produksi, hasil pertanian Indonesia saat ini cukup besar. Tetapi untuk bisa menguasai pasar, petani lokal mesti melakukan beberapa pembenahan terutama pada pola tanam dan pola distribusi.
Menurutnya, untuk me­ngatasi permasalahan ter­sebut perlu ada sentuhan kaum milenial. Mahyeldi meyakini, mereka memiliki sejumlah keunggulan, seperti menguasai teknologi, berwawasan luas dan selalu ingin tahu, kreatif dan inovatif, kemudian terbiasa dengan multi tasking serta lebih fleksibel terhadap perubahan.
“Keunggulan generasi milenial, perlu diberdayakan secara optimal untuk menghadapi tantangan sektor pertanian. Modernisasi pertanian perlu dilakukan, salah satunya dengan pemanfaatan tek­nologi, agar produk lokal mampu bersaing dengan barang impor,” terang Mahyeldi.
Ia menambahkan, merangkul generasi muda untuk mau masuk ke sektor pertanian tentu tidak mudah, terutama untuk mengubah persepsi, bahwa anak muda yang sukses itu adalah anak muda yang bekerja di sektor formal. Mahyeldi menyebut perlu ada upaya serius terkait hal tersebut.
“Sosialisasi masif perlu dilakukan agar para generasi muda tertarik masuk ke sektor pertanian, Pemerintah dan Perguruan Tinggi perlu memainkan peran untuk itu,” harap Mahyeldi
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan), Dedi Nursyamsi juga mengatakan hal senada. Menurutnya ketahanan pangan nasional akan bisa terwujud jika persentase petani milenial bisa ditingkatkan secara signifikan.
“Saat ini, jumlah petani lokal ada sebanyak 38 juta orang, 70% di antaranya dari telah berusia 50 tahun. Sedangkan petani milenial jumlahnya hanya 30%,” ungkap Dedi.
Dedi menjelaskan, dari 70% petani kolonial tersebut tingkat pendidikan me­reka juga rendah, rata-rata hanya tamatan sekolah dasar (SD) bahkan juga ada yang tidak bersekolah. Ini persoalan serius di tengah keinginan untuk menjadikan Indonesia sebagai lum­bung pangan tahun 2045.
“Merangkul kaum milenial untuk masuk ke sektor pertanian menjadi sebuah keharusan, dan kami sedang berjuang untuk itu,” sebut Dedi.
Turut hadir pada acara tersebut, Wali Kota Pa­dang, Hendri Septa, pejabat Eselon 1 dan 2 Lingkup Kementan, beberapa bupati dan wakil bupati serta para tamu undangan lainnya. (fan)