oleh: Fitri Hayati SDN 03 Lubang Panjang
Pedidikan menurut Ki Hajar Dewantara bermaksud untuk menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia maupun anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Sebagai pendidik kita mestinya menyadari bahwa murid merupakan individu yang uni dan memiliki kodratnya masing-masing. Keunikannya tersebut mempengaruhi cara berprilaku dan beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam kegiatan belajar yang mereka ikuti. Hal yang demikian menjadi penting karena indikator keberhasilan untuk materi pokok yang diajarkan adalah tercapainya tujuan pembelajaran. Agar hal tersebut dapat tercapai tentunya banyak cara yang harus dilakukan oleh guru. Tentunya hal ini dapat menjadi perhatian khusus bagi pendidik dalam mengelola pembelajaran agar sesuai dengan keunikan dan kodrat masing-masing murid. Untuk itu, sudah menjadi tugas wajib bagi seorang pendidik menyediakan lingkungan belajar yang sesuai untuk setiap anak untuk dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya serta memastikan bahwa murid merasakan selamat, merdeka, dan bahagia dalam mengikuti prosesnya.
Keberagaman dan keunikan maisng-masing murid inilah yang harus menjadi landasan dalam melaksanakan praktik-praktik pembelajaran yang dilakukan di kelas serta menjadi acuan dalam mengevaluasi Pratik pembelajaran yang telah dilakukan. Hal ini berkaitan dengan Standar
Pendidikan Nasional dalam Standar Kompetensi Lulusan yaitu adanya kualifikasi lulusan yang diharapkan dalam tujuan Pendidikan Nasional yaitu mengembangkan kompetensi murid sesuai dengan potensi mereka masing-masing. Untuk itu diperlukan suatu upaya untuk melaksanakan pembelajaran yang sesuia dengan kebutuhan belajar murid yang didasari keunikan dari masing- masing murid dalam kelas. Hal ini bertujuan tidak hanya murid berkembang potensinya secara maksimal, namun proses pembelajaran juga akan lebih memberikan banyak ruang bagi murid untuk membuat dan menentukan pilihan dan memberikan suara, sehingga proses pembelajaran akan lebih kondusif dan memerdekakan murid.
Agar situasi tersebut dapat terwujud maka diperlukan adanya tes diagnostik kepada murid agar pendidik mengetahui dan memetakan kebutuhan belajar murid. Tes diagnostik ini merupakan tes yang diberikan kepada murid untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, terhadap mata pelajaran, minat, bakat, serta gaya belajar murid. Terdapat dua jenis tes diagnostik yang dapat dilakukan oleh pendidik yaitu tes diagnostik kognitif dan non-kognitif. Kedua jenis tes diganostik ini digunakan berdasarkan tujuan pendidik menggunakannya. Untuk membantu mengidentifikasi masalah atau kesulitan murid belajar dan capaian kompetensi belajar murid maka pendidik harus melaksanakan tes diagnostik kognitif. Sedangkan tes diagnostik non kognitif dapat digunakan untuk mengidentifikasi latar belakang sosial emosional murid, kondisi keluarga, gaya belajar, karakter serta minat murid.
Kedua jenis tes diagnostik ini wajib dilaksanakan oleh guru untuk dapat menyediakan lingkungan belajar yang benar-benar sesuai dengan keunikan dan kodrat masing-masing murid agar mereka dapat meraih kemerdekaan dalam proses pembelajaran yang diikutinya. Penting bagi pendidik untuk melakukan tes diagnostik kognitif maupun diagnostic kognitif ini agar pendidik dapat memetakan kebutuhan kebelajar masing-masing-masing murid. Pemetaan kebutuhan belajar ini sangat membantu pendidik dalam merancang dan Menyusun pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid yaitu melalui pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha atau Langkah-langkah menyampaikan pembelajaran dengan beragama cara melalui diferensiasi konten, proses, dan produk untuk mengakomodir kebutuhan belajar murid yang beragam sesuai karakteristik dan keunikan masing-masing murid.
Pembelajaran Berdiferensiasi menggunakan beberapa pendekatan terhadap konten, proses, dan produk. Di semua ruang kelas, guru berurusan dengan setidaknya tiga elemen kurikuler: (1)
konten, masukan, apa yang dipelajari murid; (2) proses, bagaimana murid berupaya memahami ide dan informasi; dan (3) produk, keluaran, atau bagaimana murid menunjukkan apa yang telah mereka pelajari.
Dengan membedakan ketiga elemen ini, guru menawarkan pendekatan berbeda terhadap apa yang dipelajari murid, bagaimana mereka mempelajarinya, dan bagaimana mereka menunjukkan apa yang telah mereka pelajari. Kesamaan dari pendekatan yang berbeda ini adalah bahwa semuanya dibuat untuk mendorong pertumbuhan semua murid dalam usaha mereka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan untuk memajukan atau meningkatkan proses pembelajaran baik untuk kelas secara keseluruhan maupun untuk murid secara individu.
Agar dapat melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi ini tentunya pendidik perlu adanya pemetaan kebutuhan belajar peserta didik yang dilihat berdasarkan kesiapan belajar, minat atau bakat, serta profil belajar murid melalui hasil pelaksanaan tes diagnostik yang dilakukan. Hal ini dapat diidentifikasi dan dipetakan dengan baik setelah dilakukannya tes diagnostik kognitif dan diagnostik non kognitif. Sebagai penguat tes diagnostik yang dilakukan, guru juga dapat melakukan survei, obsevasi, dan kunjungan rumah agar data-data pemetaan kebutuhan belajar murid semakin valid sehingga persiapan pembelajaran yang akan dilaksanakanpun dapat disiapkan dengan lebih maksimal.
Oleh karena itu berdasarkan pemetaan tersebut guru akan mengintegrasikan kedalam rencana pelaksanaan pembelajaran dikelas sehingga kebutuhan belajar siswa tercapai. Namun pemetaan tersebut harus bisa mencapai tujuan pembelajaran. Dalam RPP juga harus memuat instrumen penilaian sesuai dengan kebutuhan belajar siswa. Sehingga itu menjadi acuan dalam melakukan penilain ketercapaian tujuan pembelajaran. Berdasarkan hal-hal yang telah dipaparkan di atas tersebut maka dapat kita simpulkan bahwasaya dengan diadakannya tes diganostik dan pemetaan kebutuhan belajar murid sangat membantu guru memahami kesiapan belajar dan kondisi murid berdasarkan kodratnya masing-masing. Sehingga tidak guru dapat mengelola kegiatan pembelajaran dan perlakuan yang berbeda terhadap murid sesuai dengan kodratnya masing- masing. (***)






