METRO SUMBAR

Solusi Pemulihan Batang Arau, Gubernur Sumbar: Pengurangan Sampah dari Sumbernya

0
×

Solusi Pemulihan Batang Arau, Gubernur Sumbar: Pengurangan Sampah dari Sumbernya

Sebarkan artikel ini
SERAHKAN BINGKISAN— Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi memberikan bingkisan pada peserta usai acara FGD Hasil Studi Pulihkan Batang Arau.

PADANG, METRO–Untuk menjadikan da­erah aliran sungai (DAS) Batang Arau bersih dan menjadi tempat wisata yang menarik, tidak bisa dengan mengandalkan pemerintah saja. Dibutuhkan kesadaran dari seluruh lapisan masyarakat untuk berperan nyata dalam me­mulihkan DAS Batang A­rau, terutama dari sampah akibat pertumbuhan manusia dengan segala aktifitasnya.

Demikian disampaikan Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Buya Mahyeldi saat memberikan sambutan dalam focus group discussion (FGD) Hasil Studi Pulihkan Batang Arau, da­lam rangka pemaparan hasil riset dan integrasi peran multi pihak pulihkan Batang Arau, di Hotel Rang­kayo Basa, Jalan Hangtuah, Padang, Kamis (13/10).

Menurut gubernur, Batang Arau memang harus dibersihkan. Perlu kerja keras dan kolaborasi semua pihak. Pemerintah dengan segala keterbata­sannya, tak akan sanggup melawan lajunya timbunan sampah, akibat pertumbuhan manusia dengan se­gala aktivitasnya, baik dari volumenya maupun jenisnya.

Baca Juga  Hama Tupai Mengganas, Petani Terancam Gagal Panen

Oleh sebab itu, Gubernur menyampaikan salah satu solusi adalah pe­ngu­rangan sampah dari ­. Pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot dan pemusnahan sampah non organik.

Gubernur juga me­nga­presiasi Wahana Lingku­ngan Hidup Indonesia (WAL­HI) Sebagai organisasi yang fokus dan aktif pada isu lingkungan hidup dan mendorong pengelolaan sampah di Kota Pa­dang.

“Saya mengapresiasi WALHI Sumbar memilih DAS Batang Arau sebagai objek perhatiannya, dan bahkan WALHI Sumbar juga telah menginisiasi terbentuknya Koalisi Ma­sya­rakat Peduli Batang Arau. Kita memang harus bersama-sama mencari solusi. Kita juga harus belajar pada daerah dan negara yang sudah berhasil, se­perti Singapura misalnya,” kata gubernur Mahyeldi.

Mantan Wali Kota Pa­dang ini juga berharap, melalui FGD Pemulihan Batang Arau yang diikuti oleh para akademisi dan pemerhati lingkungan, a­kan diperoleh langkah-langkah yang nyata demi pelestarian DAS Batang Arau.

Baca Juga  140 Paket Pembangunan Bakal Ditender Lewat SPSE

Direktur Eksekutif WA­LHI Sumbar Wengki Purwanto, menyebut FGD di­gelar dalam upaya me­ngintegrasikan peran pemerintah dan masyarakat. Harapannya Batang Arau bisa dipulihkan.

“Ini memang tak bisa dikerjakan sendiri, harus dikeroyok,” ucap Wengki.

Sungai Batang Arau  dengan luas DAS mencapai 172 km², hulu sungai berada pada puncak bukit Punggung Lading Kecamatan Lubuk Kilangan dan Gunung Gadut Kecamatan Pauh Kota Padang, dan pada daerah hilir terdapat Pelabuhan Muara.

Sebagai sungai terbesar di Kota Padang, Batang Arau yang mempunyai panjang sungai kurang le­bih 29,72 km merupakan kawasan wisata dengan daya tarik yang rendah, karena kualitas airnya yang tercemar akibat belum optimalnya pengelolaan limbah rumah tangga maupun sampah dari kegiatan sepanjang DAS Batang Arau, seperti kegiatan industri, rumah sakit, beng­kel, dan limbah pasar. (fan)