MALANG, METRO–Kabar menyayat hati kembali datang dari pentas sepak bola Indonesia. Data resmi dari pihak Kepolisian, sebanyak 125 orang meninggal dunia akibat kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang selepas pertandingan Arema FC vs Perse baya Surabaya, Sabtu (1/10) malam.
Mirisnya, ratusan korban itu meninggal bukan karena bentrokan. Melainkan akibat berdesak-desakan hingga mengakibatkan para korban terinjak-injak saat terjadi kerusuhan. Tragedi berdarah Kanjuruhan Malang menjadi peristiwa paling memalukan sekaligus terburuk sepanjang sejarah sepak bola Indonesia.
Peristiwa ini pastinya menjadi sorotan internasional, terlebih FIFA. Bahkan, Indonesia akan terancam disanksi sangat berat oleh FIFA imbas tragedi Kanjuruhan. Jika tujuh sanksi FIFA diberlakukan maka sangat merugikan sepak bola Indonesia mulai dari pemain, klub, Timnas Indonesia hingga PSSI.
Adapun tragedi berdarah Kanjuruhan Malang terjadi setelah Arema FC kalah 2-3 dari Persebaya Surabaya pada laga pekan 11 Liga 1 2022. Berikut kronologis peristiwa berdarah di Kanjuruhan malan versi polisi berdasarkan pers rilis yang beredar di kalangan media.
Pukul 21.58 Wib setelah pertandingan selesai, pemain dan official Persebaya Surabaya dari lapangan masuk ke dalam kamar ganti pemain dan dilempari oleh aremania dari atas tribun dengan botol air mineral, air mineral gelas, dan lain lain.
Pukul 22.00 Wib, saat pemain dan official Pemain Arema FC dari lapangan berjalan masuk menuju kamar ganti pemain, suporter Arema (Aremania) turun ke lapangan dan menyerang pemain, official Arema FC. Mengetahui hal tersebut petugas keamanan berusaha melindungi pemain hingga masuk ke dalam ruang ganti pemain.
Selanjutnya aremania yang turun ke lapangan semakin banyak dan menyerang aparat keamanan, karena aremania semakin brutal dan terus menyerang aparat keamanan serta diperingatkan beberapa kali tidak dihiraukan, kemudian aparat keamanan mengambil tindakan dengan menembakkan gas air mata ke arah lapangan, tribun selatan (11, 12,13) dan tribun timur (tribun 6).
Selain melakukan pembakaran, Aremania juga melakukan penyerangan personel pengawalan dengan menggunakan batu, botol dan kayu, sehingga kendaraan rombongan pemain Persebaya tertahan di jalur jalan keluar. Untuk menghalau massa yang anarkis, dilakukan upaya pembubaran dengan penembakan gas air mata, namun massa tidak bergeming dan semakin menyerang Aparat keamanan.
Akibat kejadian di dalam tribun stadion tersebut banyak korban yang mengalami sesak napas dan lemas di evakuasi ke Unit Kesehatan Stadion Kanjuruhan. Namun untuk mengevakuasi ke RS terhambat oleh aksi Aremania di pintu masuk stadion. Pada Saat bersamaan dilakukan evakuasi dengan menggunakan mobil ambulans dan bisa dibukakan jalan oleh massa Aremania.
Karena banyaknya korban dan ambulans kurang, maka evakuasi korban dengan menggunakan kendaraan Dinas Kasat Lantas, Kendaraan Grand max Polsek Jajaran, Truck Dalmas Polres, truk Dalmas Brimob dan TNI, namun dalam perjalanan juga dilempari batu dan dihadang oleh Aremania.
Setelah Aremania mengetahui banyak korban yang dievakuasi menggunakan kendaraan Dinas TNI – Polri, akhirnya tekanan massa Aremania sedikit berkurang ketiga ada kendaraan Dinas melakukan Evakuasi korban melintas. Ketika tekanan massa Aremania mulai berkurang, selanjutnya kendaraan Water Canon Polres Malang bergerak maju untuk memadamkan api dan diikuti oleh rombongan Kendaraan Baracuda Pemain Persebaya Surabaya, kendaraan Pengawalan dari TNI dan Brimob, sehingga rombongan kendaraan Pemain Persebaya Surabaya serta Petugas Pengawalan bisa bergerak meninggalkan Stadion Kanjuruhan.
Setelah rombongan kendaraan Pemain Persebaya meninggalkan Stadion, Kanjuruhan, massa Aremania mulai mencair dan meninggalkan lokasi depan pintu masuk stadion. Setelah penembakan gas air mata, suporter yang berada di Tribun berusaha keluar melalui pintu tribun secara bersamaan sehingga berdesakan-desakan, banyak yang tergencet dan terjatuh serta mengalami sesak nafas.
Sementara itu pemain Persebaya Surabaya memasuki kendaraan baracuda dan akan bergerak meninggalkan stadion, dengan pengawalan Sat Lantas, Brimob dan TNI, namun dihadang oleh Aremania dengan melakukan pembakaran barier, pagar dan dua kendaraan roda empat milik anggota Polri serta truk Dalmas Sat Brimob.
Sekitar dua jam setelah kericuhan terjadi, kondisi Stadion Kanjuruhan berangsur pulih. Di sisi lain, Aremania juga turut membantu suporter-suporter yang pingsan. Begitu juga dengan pemain maupun staf Arema yang tertahan. Mereka turut membantu korban. Adapun pihak keamanan belum diketahui menangkap atau menahan sejumlah oknum yang diduga provokator kericuhan.
125 Orang Tewas dan 323 Luka-luka
Karodokpol Pusdokkes Polri, Brigjen Nyoman Eddy Purnama Wirawan memutakhirkan data terbaru soal korban meninggal dunia dari peristiwa di stadion Kanjuruhan. Menurut Nyoman Eddy, saat ini stelah diperbaharui atau di update, jumlah korban meninggal dunia akibat kejadian itu sebanyak 125 orang.
“Update data terakhir yang dilaporkan meninggal dunia 129 setelah ditelusuri di RS terkait menjadi meninggal dunia 125 orang,” kata Nyoman Eddy kepada awak media, Jakarta, Minggu (2/10).
Ia mengungkapkan, terjadinya selisih angka korban meninggal dunia sebelumnya lantaran adanya kesalahan pencatatan di rumah sakit yang menangani para korban. Dari jumlah korban meninggal dunia tersebut, 125 telah teridentifikasi seluruhnya (100 %). “Jumlah korban luka sebanyak 323 orang,” ujarnya.
Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta dalam jumpa pers di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (2/10), mengatakan dari 127 orang yang meninggal dunia tersebut, dua di antaranya merupakan anggota Polri. “Dalam kejadian itu, telah meninggal 127 orang, dua di antaranya adalah anggota Polri,” kata Nico.
Nico menjelaskan, sebanyak 34 orang dilaporkan meninggal dunia di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, sementara sisanya meninggal saat mendapatkan pertolongan di sejumlah rumah sakit setempat. Hingga saat ini terdapat kurang lebih 180 orang yang masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit tersebut.
Selain korban meninggal dunia, tercatat ada 13 unit kendaraan yang mengalami kerusakan, 10 di antaranya merupakan kendaraan Polri.
“Masih ada 180 orang yang masih dalam perawatan. Dari 40 ribu penonton, tidak semua anarkis. Hanya sebagian, sekitar 3.000 penonton turun ke lapangan,” tambah Nico.
Sesungguhnya, lanjut dia, pertandingan di Stadion Kanjuruhan tersebut berjalan dengan lancar. Namun, setelah permainan berakhir, sejumlah pendukung Arema FC merasa kecewa dan beberapa di antara mereka turun ke lapangan untuk mencari pemain dan ofisial.
Menurut dia, penembakan gas air mata tersebut dilakukan karena para pendukung tim berjuluk Singo Edan yang tidak puas dan turun ke lapangan itu telah melakukan tindakan anarkis dan membahayakan keselamatan para pemain dan ofisial.
“Karena gas air mata itu, mereka pergi keluar ke satu titik, di pintu keluar. Kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak napas, kekurangan oksigen,” kata Nico.
Sementara itu, Bupati Malang M Sanusi menyatakan, seluruh biaya pengobatan para suporter yang saat ini menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit akan ditanggung sepenuhnya Pemerintah Kabupaten Malang. “Kami mengerahkan seluruh ambulans untuk proses evakuasi dari Stadion Kanjuruhan. Untuk yang sehat dan dirawat, biaya semua yang menanggung Kabupaten Malang,” tutur Sanusi.
Presiden Jokowi Perintahkan Usut Tuntas
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Kapolri, Menteri Olahraga, dan Ketua Umum PSSI melakukan investigasi mendalam dan evaluasi menyeluruh terkait prosedur dan penyelenggaraan pertandingan sepak bola. Perintah Presiden ini merupakan respons dari tragedi berdarah di Stadion Kanjuruhan, Malang, yang menewaskan lebih dari 100 orang.
“Saya sudah minta Kapolri investigasi dan mengusut tuntas kasus ini. Untuk itu saya juga memerintahkan PSSI menghentikan sementara Liga 1 sampai evaluasi perbaikan prosedur pengamanan dilakukan,” ujar Presiden, dalam konferensi pers.
Terkait evaluasi menyeluruh, Presiden Jokowi sudah sudah meminta tiga pimpinan kementerian/lembaga untuk melakukannya. Mereka adalah Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, dan Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan.
“Evaluasi menyeluruh yang dimaksud adalah terkait pelaksanaan pertandingan sepak bola dan prosedur pengamanan penyelenggaraannya. Khusus kepada Kapolri, saya minta melakukan investigasi dan mengusut tuntas kasus ini,” tegas Jokowi.
Lebih lanjut, Presiden Jokowi menyesalkan tragedi kerusuhan Kanjuruhan yang terjadi semalam. Presiden Jokowi juga telah meminta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memonitor khusus pelayanan medis bagi korban yang sedang dirawat di rumah sakit.
“Saya berharap ini adalah tragedi terakhir sepak bola di Tanah Air. Jangan sampai ada lagi tragedi kemanusiaan seperti ini di masa yang akan datang,” pungkasnya.
PSSI Berharap FIFA Tak Jatuhi Sanksi
PSSI menjalin komunikasi secara intens dengan FIFA terkait tragedi Kanjuruhan seusai laga Liga 1 2022/2023 antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya. Komunikasi intens tersebut dilakukan demi menghindari sanksi akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan yang mengakibatkan 129 orang meninggal dunia tersebut.
“Kami berharap kejadian ini tidak menjadi rujukan atau landasan FIFA untuk mengambil keputusan-keputusan yang tidak baik dan tidak menguntungkan Indonesia dan, khususnya PSSI,” kata Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi dalam konferensi pers di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta.
Yunus Nusi melanjutkan PSSI mengirimkan laporan pertama tentang keributan di Kanjuruhan kepada FIFA pada Sabtu (1/10) malam atau beberapa saat setelah peristiwa terjadi.
FIFA, kata Yunus, memang meminta keterangan langsung dari PSSI lantaran banyaknya korban meninggal dunia. Komunikasi PSSI dengan FIFA pun berlanjut sampai Minggu.
”Ini kejadian luar biasa. Kami terus menyampaikan kepada FIFA kabar terbaru soal kejadian tersebut,” kata Yunus menambahkan.
Sementara soal potensi sanksi dari FIFA, Yunus Nusi mengaku belum memiliki gambaran. Akan tetapi, dirinya yakin FIFA tidak akan mengambil keputusan secara instan.
Terkait kerusuhan di Stadion Kanjuruhan tersebut, Yunus Nusi menekankan bukan perkelahian antarsuporter. Banyaknya korban meninggal, menurut Yunus, terjadi karena terjepit di kerumunan suporter yang berdesak-desakan.
“Ada yang jatuh, terinjak, saat mencoba keluar dari pintu stadion. Ada puluhan ribu penonton yang ingin keluar sehingga terjadi tragedi tersebut,” kata Yunus menjelaskan. (jpg)





