PARIWARA

Gerakkan Ekonomi Masyarakat, Gubernur Sumbar Instruksikan Percepat Realisasi APBD

0
×

Gerakkan Ekonomi Masyarakat, Gubernur Sumbar Instruksikan Percepat Realisasi APBD

Sebarkan artikel ini
SUMBAR MALAGAK— Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah membuka secara resmi UMKM Sumbar Malagak, Kamis (29/9) di GOR Agus Salim.

Untuk mengantisipasi dampak ekonomi di tengah masyarakat dari kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah mendorong agar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lebih cepat dalam me­realisasikan APBD Sumbar.

“Dengan merealisasikan APBD lebih cepat, bisa menjadi stimulus untuk meningkatkan perputaran ekonomi masya­rakat. Sehingga dapat menjadi pendorong putaran ekonomi masyarakat,” ucap Mahyeldi saat, Minggu pagi (4/9).

Mahyeldi menegaskan, agar masing-masing OPD membuat laporan tertulis kepada dirinya terkait capain realisasi dan kendala dalam pelaksa­naan anggaran. Laporan ini dija­dikan bahan rapat evaluasi, agar target realisasi anggaran pada akhir September 2022 sebesar 65 persen dapat ter­capai.

Untuk mencapai target tersebut, Mahyeldi berharap ASN dapat lebih kreatif dalam pelaksanaan tugas. Semakin hari tantangannya semakin beragam. Untuk itu, memer­lukan pendekatan yang lebih variatif dan inovatif.

“ASN itu harus kreatif dan inovatif. Tidak ada yang diam, semuanya harus bergerak sesuai tugas pokok dan fungsi. Sehingga kinerja dapat optimal tentunya dengan mempedo­mani aturan-aturan yang ada”, harapnya.

Sementara, Kepala Badan Penggelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumbar, Dellyarti mengung­kapkan, realisasi belanja da­erah hingga 30 September 2022 mencapai 50,41 persen atau sebesar Rp3,1 triliun dari total anggaran Rp6,2 triliun.

Pencapaian belanja modal masih rendah sebesar 25,2 persen atau Rp246,7 miliar dari total Rp979,1 miliar. Realisasi Belanja Tak Terduga (BTT) hanya 0,6 persen, yakni Rp197,1 juta dari total Rp29,5 juta.

Realisasi belanja transfer juga rendah, baru 46,04 persen atau sebesar Rp471,8 miliar dari total anggaran, Rp1,02 triliun. Realisasi belanja opera­sional 57,7 persen atau se­besar Rp2,4 triliun dari total anggaran Rp4,19 triliun.

Rendahnya BTT, karena hanya dicairkan jika terdapat kejadian tidak terduga seperti bencana dan sebagainya. Sedangkan belanja transfer sangat tergantung pada per­mintaan dana oleh pemerintah kabupaten/kota kepada Pem­prov Sumbar. Jika permintaan rendah, maka realisasi belanja transfer juga ikut rendah. Sementara untuk belanja modal sangat tergantung pada proses pengadaan.

“Untuk belanja modal, OPD yang bersangkutan masih dalam proses kontrak. Biasanya memang pembayarannya baru dilakukan menjelang akhir tahun atau setelah pekerjaan selesai,” katanya.

Di sisi lain, realisasi pen­dapatan daerah Sumbar justru cukup tinggi sebesar 68,2 persen, yakni Rp4,05 triliun dari target Rp5,9 triliun. Di mana pendapatan asli daerah (PAD) telah terealisasi 73,2 persen atau sebesar Rp1,9 triliun dari target Rp2,61 triliun.

Dellyarti menyebut, pen­dapatan daerah Sumbar terbesar didominasi sektor pajak, terutama kendaraan bermotor.  Di mana pendapatan dari pajak daerah tercatat sebesar Rp1,5 triliun.

Selanjutnya disusul pen­dapatan dari dana transfer pusat dan dana perimbangan mencpai 65,02 persen atau sebesar Rp2,1 triliun.

Gerakkan Ekonomi Masyarakat

Salah satu upaya Pem­prov Sum­bar menggerakan ekonomi masyarakat de­ngan menghadirnya event UMKM Sumbar Malagak, pada 29 September hingga 2 Oktober 2022, pada pe­ringatan HUT ke-77 Pr­o­vinsi Sumbar,

Melalui event inidili­batkan sekitar 200 pelaku UMKM yang memamerkan produk-produknya. Selain itu juga melibatkan, pelaku industri kreatif, BUMN, mitra binaan BUMN, instansi pemerintah pusat maupun daerah, lembaga keuangan dan perbankan, flori­kultura, lembaga pen­didi­kan, elektronik, otomotif serta ma­kanan dan minuman.

Event UMKM Malagak Sumbar 2022 ini juga men­datangkan kunjungan seba­nyak lebih dari 50 ribu masya­rakat. “UMKM Sumbar Malagak ini tujuan dengan pasar lokal. Ini dukungan kita pada UMKM untuk menyediakan pasar lokal,” kata Mahyeldi.

Mahyeldi mengatakan, di Sumbar ada sekitar 600 ribu UMKM. Jika jumlah itu bergerak, maka ada sebanyak 3 juta jiwa  yang hidup dari UMKM. Jika tidak bisa menempatkan UMKM tersebut bergerak, maka ek­o­nomi Sumbar tidak akan tumbuh. Namun sebaliknya, jika UMKM bergerak, maka perekonomian Sumbar akan tumbuh.

Selain pameran UMKM melalui event UMKM Sumbar Malagak, Mahyeldi juga meng­apresiasi Bank Indonesia dan OJK yang mendorong kegia­tan-kegiatan pameran. Se­hingga perekonomian Sumbar terus bergerak.

Dengan dukungan itu, saat ini sudah ada produk UMKM Sumbar yang dieksport. Seperti bumbu randang ke Jerman dan Norwegia.

“Untuk itu bagi UMKM yang memasuki pasar ekspor. Kita bantu biaya perizinannya. OPD yang bergerak pada sektor ini mengalokasikan anggaran. Agar UMKM Sumbar untuk masuk ke pasar ekspor dan mancanegara,”pintanya.

Untuk mendukung upaya ini, Pemprov Sumbar bekerja­sama dengan Minang Dias­pora. Perantau Minang yang ada  negara-negara skandina­via. Untuk itu, UMKM yang masuk pasar ekspor agar didata. Begitu juga dengan pemberian sertifikasi halal pada produk UMKM di Sumbar.

“Tanpa dukungan semua pihak Pemprov Sumbar tidak bisa begerak sendiri. Terutama pemberian sertifikasi halal. Karena kita menargetkan pro­duk UMKM menembus pasar internasional. Jangan hanya menyasar pasar lokal,” ka­tanya.

Sekarang sudah terbuka peluang pasar ayam ke Singa­pura. Untuk itu Pemprov Sum­bar bekerjasama dengan Pro­vinsi Kepulauan Riau, agar bisa memasarkan produk UMKM Sumbar ke pasar internasional via Singapura.

Mahyeldi juga meminta Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Sumbar harus bekerja luar biasa. Agar produk UMKM Sumbar dikenal di pasar internasional. Duku­ngan lainnya juga harus ada jaminan pasar lokal.

Mahyeldi meminta OPD Pemprov Sumbar berkolabo­rasi dalam membangun pere­konomian Sumbar. Terutama dalam mendukung pengem­bangan produk UMKM. “Ja­ngan ada egosentris. Kita harus bersama-sama membangun perekonomian Sumbar,” ka­tanya.

Ke depan diharapkan du­ku­ngan semua pihak. Kola­borasi semua elemen, kabu­paten dan kota. Mudah-muda­han UMKM naik kelas. Sehing­ga nanti dapat menggerakan ekonomi di masa mendatang.

“Ekosistem UMKM yang pada gilirannya naik kelas. Berperan besar, dan pasarnya terbuka lebih luas. UMKM Sumbar akan lebih baik lagi,” harapnya. (AD.ADPSB)