PADANG, METRO–Kondisi Terminal Tipe B di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mengkuatirkan. Seperti kondisi Terminal Sago di Painan Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) dan Terminal Pasar Remaja di Kota Sawahlunto. Minimnya APBD untuk pemeliharaan dan pembenahan terminal ini membuat terminal ini kondisinya hidup segan mati tidak mau. Kepala UPTD Prasarana Perhubungan Lalu Lintas dan Angkutan Wilayah I, Tosriadi mengungkapkan, APBD yang dianggarkan untuk pembenahan terminal ini tahun lalu diusulkan sebesar Rp800 juta untuk lima terminal.
Yakni, terminal di wilayah I, (Sago Painan dan Pasar Remaja Sawahlunto) dan terminal di wilayah II, (Terminal Bukit Surungan Padang Panjang, Piliang Batusangkar, Koto Nan Ampek Payakumbuh). “Dengan jumlah usulan Rp800 juta untuk lima terminal tersebut, justru masih juga dipangkas anggarannya,” keluhnya. Tosriadi mengungkapkan, dengan kondisi terminal saat ini, target PAD khusus terminal wilayah I yang dibebankan sebesar Rp300 juta tahun lalu. Dari target tersebut pencapaiannya hanya 71 persen.
Tosiradi mengungkapkan, rendahnya PAD karena banyak Bus AKDP yang enggan masuk terminal. Kondisi ini terjadi karena banyak yang tidak memperpanjang atau memperbaharui Kartu Pengawasan (KP) dan izin trayek. “Banyak yang tidak mengurus izin KP. Hanya ada beberapa bus yang mengurusnya. Mereka juga tidak mau masuk terminal. Mereka tidak mau mengurus izin, karena tidak sesuai lagi pendapatan dengan pengeluaran. Biaya operasionalnya cukup besar. Bahkan banyak juga yang tidak bayar pajak,” ungkap Tosriadi.
Tosriadi memperkirakan, persentase bus yang tidak mengurus KP jumlahnya sekitar 80 persen. “Ada juga bus yang KP-nya ada, tapi tidak diperpanjang. Misal ada kendaraan 10 yang memiliki KP, yang beroperasi hanya empat bus. Sisanya tidak beroperasi karena tidak mengurus perpanjangan izin KP-nya,” terangnya.
Tosiradi mengungkapkan, penyebab utama Bus AKDP enggan masuk ke terminal, karena adanya fakto keberadaan travel liar atau ilegal. Seperti di Painan, jumlah travel liar mencapai 300 sampai 400 unit. “Meski telah dirazia, tapi setelah razia mereka beroperasi lagi, bahkan mendeteksi travel liar ini juga sulit,” ungkapnya. Keberadaan travel liar ini justru diminati masyarakat juga, karena sangat cepat dan bisa naik langsung dari rumah dan diantarkan langsung ke tempat tujuan. “Faktor inilah yang menyebabkan Bus AKDP tidak masuk terminal. Karena kalau masuk terminal mereka kuatir penumpang diambil di pinggir jalan oleh mobil travel. Tidak hanya oleh travel ilegal tapi juga travel resmi seperti AJAP AJDP. Apalagi travel resmi tersebut tidak diharuskan masuk terminal,” ungkapnya. “Perlu merubah mainset masyarakat, bahwa travel liar ini tidak menjamin keselamatan penumpangnya,” terangnya.
Tosriadi mengungkapkan, saat ini dalam satu hari, hanya 10 bus yang masuk Terminal Sago. Sementara, jumlah Bus AKDP mencapai 60 sampai 80 unit bus. “Dari jumlah bus tersebut hanya sepetiga bus yang jalan,” ungkapnya. Berbeda dengan kondisi di Terminal Pasar Remaja di Kota Sawahlunto. Di terminal ini Bus AKDP tertib dan rutin menaikan dan menurunkan penumpang di terminal. Namun, hanya empat bus yang masuk terminal dari 15 bus yang ada.
Dengan sepinya terminal dari bus-bus yang masuk membuat terminal tidak lagi dilirik oleh pelaku usaha. Kini di terminal hanya ada lapak- lapak pedagang kali lima yang tinggal. “Harusnya dengan masuknya bus, maka akan hidup ekonomi di terminal. Sekarang masyarakat untuk menanti bus atau angkutan, enggan masuk terminal,” ungkapnya.
Masyarakat tidak mau datang ke terminal, karena tidak ada angkutan kota (angkot) yang menghubungkan akses ke terminal. “Jika ada pun, masyarakat tidak butuh angkot ke terminal. Mereka cenderung menunggu angkutan di rumah melalui travel. Karena biaya ke terminal jauh lebih besar dibandingkan berangkat langsung dari rumah menggunakan travel,” terangnya. Upaya yang perlu dilakukan untuk mengatasi kondisi terminal saat ini, selain menertibkan travel, juga dengan melakukan penertiban Bus AKDP yang tidak mengurus izin trayek. Namun, upaya ini juga sulit juga, karena jika dilakukan razia, mereka sudah saling komunikasi untuk menghindari razia. “Bahkan, kalau dilakukan razia di terminal, mereka tidak akan masuk terminal. Padahal, kalau masuk terminal itu cuma dipungut Rp2 ribu. Tapi mereka lebih memilih menghindar tidak masuk dan memilih jalan tikus,” terangnya.
Dengan kondisi terminal saat ini, menurutnya, upaya lain yang perlu dilakukan yakni dengan pembenahan secara menyeluruh terhadap fasilitas dan sarana prasarana terminal. Sehingga terminal menjadi daya tarik. “Pembenahan yang dilakukan agar menjadikan terminal memiliki daya tarik. Seperti terminal di Purwodadi yang fasilitas terminalnya seperti di bandara. Selain itu juga didukung bus AKDP dn AKP-nya cukup banyak. Kalau di Padang terminal yang terbaik itu seperti bandara itu Terminal Tipe 1 Anak Air. Namun sayangnya, APBD yang dianggarkan untuk pembenahan terminal sangat sedikit,” keluhnya.(fan)





