METRO PADANG

Belajar Pakai YouTube tanpa Guru Pendamping, Siswa jadikan Masjid SMAN 1 Tempat Belajar Mandiri

0
×

Belajar Pakai YouTube tanpa Guru Pendamping, Siswa jadikan Masjid SMAN 1 Tempat Belajar Mandiri

Sebarkan artikel ini
BELAJAR DI MASJID— Ratusan siswa Kampus II SMA 1 Negeri Padang belajar mandiri di masjid kampus I SMA 1 di Lolong Belanti, karena belum dibolehkan menggunakan lokal di sekolah tersebut, Rabu (28/7).

BELANTI, METRO–Ratusan siswa Kampus II SMA 1 tidak belajar lagi di gedung SMA Bunda yang berada di Jalan Bunda, Ulak Karang Kecamatan Padang Utara. Didampingi orang tua, mereka memilih belajar secara mandiri di dalam masjid di Kampus I SMAN 1 Padang di Jalan Belanti Raya, Lolong Be­lanti, Kecamatan Padang Utara, mulai Rabu (28/9).

Mereka belajar di mas­jid tersebut, karena pihak sekolah belum mengizin­kan untuk memanfaatkan lokal yang sebelumnya telah dilengkapi fasili­tas­nya. Lokal yang telah di­lengkapi orang tua dengan membelikan 72 kursi hari itu terlihat terkunci.

Namun, pihak sekolah mengizinkan ratusan siswa tersebut belajar di dalam masjid sekolah. Hal itu dilakukan sampai permin­taan mereka dan orang tuanya dikabulkan pihak Dinas Pendidikan Sumbar untuk dipindahkan belajar ke Kampus I SMAN 1 Pa­dang.

Orang tua mereka men­desak pindah lantaran kualitas sarana dan prasarana SMA 1 Padang di Kampus II berbeda dengan Kampus I. Termasuk tenaga pengajarnya hanya honorer.

Dalam pembelajaran secara mandiri pagi itu, tampak belajar melalui YouTube tanpa didampingi para guru.

Salah seorang orang tua siswa, Joko Sunadi me­nga­takan, pihaknya akan terus mendampingi anak-anaknya untuk belajar di masjid sampai ada keputusan dilakukan pemindahan ke kampus I.

Baca Juga  Rumah dan Depot Air Minum Terbakar di Kota Bukittinggi

“Anak-anak akan bertahan disini (belajar di masjid) sampai bisa pindah. Guru-guru tidak ada. Kita berusaha anak-anak aktivitasnya tetap jalan, belajar mandiri lewat YouTube,” katanya, Rabu (28/9).

“Jumlah siswa yang belajar di masjid saat ini sekitar 108 orang dan seluruhnya kelas X. Pihak se­kolah juga tidak mempermasalahkan pemakaian masjid untuk kegiatan belajar,” katanya lagi.

Terkait hal itu, kata Jo­ko, pihak sekolah tetap menyarankan agar siswa yang belajar di masjid untuk tetap berada di kelompok kelas masing-masing dan tetap ikuti mata pelajaran.

“Pihak sekolah tadi me­nyarankan agar siswa te­tap belajar. Apa mata pelajaran hari ini agar berdiskusi bersama-sama. Seko­lah antusias kok menyikapi ini. Cuma Dinas Pendidikan saja yang bermasalah. Apa masalahnya dengan yayasan (SMA Bunda) kami tidak tahu,” ujarnya.

Terpisah Kepala SMAN 1 Padang, Nukman mengatakan, proses pemindahan siswa kampus II ke kampus I merupakan tanggung ja­wab Dinas Pendidikan Sum­bar.

“Kita sebagai kepala sekolah tentu patuh dengan instruksi dinas. Untuk sekarang mereka (siswa) datang ke sini dan belajar dalam masjid. Sementara ada beberapa siswa tetap belajar di kampus II,” ujar­nya.

Sebelumnya, ratusan orang tua siswa di Kampus II SMAN 1 Kota Padang mengadu ke DPRD Sumbar karena pihak sekolah dinilai tak adil dalam memberikan fasilitas lokal belajar, Selasa (27/9).

Baca Juga  Dua Ketua KPU di Sumbar Jalani Sidang DKPP

Orang tua siswa yang mengadu adalah anak-anak nya yang ditempatkan di kampus II yang merupakan milik SMA Bunda, dimana sarana dan prasarananya tidak sebanding dengan kampus 1 SMA 1.

Keinginan untuk pindah muncul, karena kondisi lokal dan fasilitas tidak memadai di Kampus II SMAN 1 Padang tersebut. Lokalnya sangat sempit untuk menampung 36 siswa.

Dalam tuntutannya, ji­ka keinginan untuk pindah tersebut tidak dipenuhi oleh Dinas Pendidikan Sum­bar, orang tua siswa menyepakati meliburkan anak-anaknya sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Sumbar, Barlius mengatakan, pihaknya perlu melaksanakan pertemuan dengan Yayasan SMA Bunda untuk mengkaji kembali kerjasama dengan yaya­san tersebut terkait pinjam pakai gedung SMA Bunda untuk belajar siswa Kampus II SMAN 1 Padang. “Kita perlu kaji MoUnya dengan pihak Yayasan SMA Bunda ini,” terangnya.

Termasuk juga rencana labor komputer di Kampus I SMAN 1 Padang yang direncanakan orang tua siswa untuk dijadikan penambahan lokal belajar siswa nantinya. Menurutnya, labor komputer tersebut tidak mungkin ditiadakan dan wajib ada untuk memenuhi standar SMAN 1 Padang. “Labor komputer itu wajib ada di sekolah. Tidak mungkin sekolah tidak ada labornya,” te­gasnya. (fan)