METRO BISNIS

Tim TACB Tuntaskan Verifikasi Dokumen, Pabrik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo Segera jadi Cagar Budaya Kota

0
×

Tim TACB Tuntaskan Verifikasi Dokumen, Pabrik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo Segera jadi Cagar Budaya Kota

Sebarkan artikel ini
index 18
CAGAR BUDAYA— TACB Sumbar dan TACB Kota Padang mengunjungi Pabrik Indarung dan PLTA Rasak Bungo untuk verifikasi dokumen, Sabtu (25/9) lalu.

PADANG, METRO–Ketua Tim Tenaga Ahli Cagar Budaya (TACB) Pro­vinsi Sumatera Barat (Sumbar) Dr. Sri Setiawati, M.A, menyebut Pabrik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo memiliki potensi yang luar biasa untuk dijadikan sebagai Cagar Budaya dan warisan dunia dari Unesco.

Selain usianya sudah lebih dari satu abad, kedua bangunan tua di kawasan PT Semen Padang ini punya nilai sejarah yang luar biasa, termasuk teknologinya juga luar biasa pada masanya. Bahkan, semen yang di­produksi Pabrik Indarung I tidak hanya digunakan di Indonesia, tapi juga oleh negara-negara lain.

“Makanya target kami itu jadi warisan dunia, tidak hanya jadi bangunan Cagar Budaya,” kata Sri saat me­mimpin kunjungan TACB Sumbar dan TACB Kota Padang ke Pabrik Indarung I dalam rangka verifikasi dokumen Pabrik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo yang sebelumnya, diserahkan Tim Pendaftaran Pabrik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo sebagai Cagar Budaya Kota, Sabtu (25/9).

Verifikasi dokumen itu berlangsung selama 3 hari, yai­tu 24-26 September 2022.­ Selain ke Pabrik Indarung I Tim TACB juga mengunjungi PLTA Rasak Bungo untuk memverifikasi semua bangunan dan peralatannya, termasuk fasilitas penunjang di PLTA tersebut, mulai dari hulu hingga ke hilir.

Menurut Sri, dari verifikasi yang dilakukan, kedua peninggalan sejarah sejak era Pemerintahan Hindia Belanda, PLTA Ra­sak Bungo dan Pabrik Indarung 1 masih otentik dan tentunya memiliki nilai di atas 50. Dan tentunya, sudah selayaknya Pabrik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo dijadikan sebagai Cagar Budaya.

Baca Juga  Panorama Bukit Gadang di Salimpaung, Berpotensi jadi Sumber Pendapatan Baru Bagi Nagari

“Meski niat (Cagar Budaya) suda lama, tapi ini harus disegerakan ke level nasional yang dilakukan secara paralel, hingga ke warisan dunia. Jika tidak, maka dikhawatirkan generasi yang akan datang tidak mengetahui bagaimana sejarah dari Pabrik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo,” ujarnya.

Makanya, kata Sri me­lanjutkan, penetapan Pa­brik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo sebagai Cagar Budaya Kota harus segera dilakukan secepat mungkin, sehingga TACB Provinsi Sumbar bisa me­lakukan pemeringkatan untuk diusulkan ke nasional. Dan setelahnya, baru lanjut ke wa­risan dunia dari Unesco.

“Memang untuk dijadikan sebagai warisan dunia butuh proses yang panjang seperti mengumpulkan sebanyak-banyaknya dokumen tentang Pabrik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo. Makanya, dibutuhkan komitmen bersama. Dan kami pun apresiasi PT Semen Padang yang supporting dalam hal ini,” kata ahli Antropologi Universitas Andalas ini.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang yang diiwakili Kasi Cagar Budaya dan Permuseuman, Marshalleh Adzaz, yang turut ikut mendampingi TACB Provinsi Sumbar dan Kota Padang menyebut bahwa upaya menjadikan Pabrik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo sebagai Cagar Budaya Kota ini, sejalan dengan program Pem­ko Padang dalam pe­ngem­bangan potensi cagar budaya di dearah timur Kota Padang.

Salah satunya, Pabrik Indarung I yang didirikan Belanda pada tahun 1910 yang dulunya bernama NV Ne­derlandsch-Indische Port­land Cement Maat­schappij atau NIPCM, dan PLTA Rasak Bungo pada 1908 yang menjadi satu-satunya sumber energi listrik yang digunakannya untuk membangun Pabrik Indarung I.

Baca Juga  Berdayakan Kelompok Wanita Tani, PLN Peduli Tingkatkan Ketahanan Pangan

“Jadi, Padang itu dikenal tidak hanya sebagai daerah pesisir pantai, tapi banyak lagi potensi yang ada. Makanya ini perlu dikembangkan. Kalau seandainya Pabrik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo ditetapkan sebagai Cagar Budaya, maka ini menjadi pelengkap koleksi khasanah bangsa di Kota Padang dan tentunya ini bisa dijadikan sebagai pilihan untuk wisata,” katanya.

Jika dijadikan sebagai pilihan wisata, sebut Adzaz, pihaknya juga akan mengusulkan adanya museum kawasan di Pabrik Indarung 1 ini, supaya keberadaan museum tersebut bisa menjadi sarana edukasi bagi generasi mu­da untuk bisa mengetahui bagaimana proses pembuatan semen di pabrik Indarung 1 ini.

“Artinya, kita akan bisa mengungkit kembali kearifan lokal dan hasil karya tahun-tahun sebelumnya, seperti bangunan-bangu­nan tua di pesisir pantai yang dulunya dibangun meng­gunakan semen dari Pabrik Indarung I ini. Jadi, akan ada loncatan yang luar biasa nantinya,” ujar Adzaz.

Sementara itu, Kepala Unit Humas & Kesekretariatan PT Semen Padang Nur Anita Rahmawati me­ngatakan Pabrik Indarung I yang didukung PLTA Ra­sak Bungo adalah pabrik semen tertua di Indonesia dan Asia Tenggara. “Tentunya, keberadaan Pabrik Indarung I ini merupakan tonggak sejarah perubahan bangunan beton di Indonesia, maupun Asia Teng­gara,” katanya.

Anita menyebut jika sudah menjadi Cagar Budaya, maka PT Semen Pa­dang bersama pihak terkait lainnya akan melakukan revitalisasi terhadap Pa­brik Indarung I. “Kami su­dah menyiapkan draft kon­sep­nya dan juga akan be­kerjasama dengan konsultan untuk revitalisasinya,” ujar Anita.(ren/rel)