PADANG, METRO–Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) rutin melakukan uji fungsi sirine peringatan dini tsunami. Langkah itu guna memastikan alat tersebut masih dapat berfungsi.
“Kita tetap lakukan pemeriksaan dan uji fungsi setiap bulan. Itu kita lakukan setiap tanggal 20 setiap bulannya,”sebut Kepala BPBD Sumbar, Jumaidi didampingi Fungsional Pranata Penanggulangan Bencana, Ilham Wahab, Kamis, (8/9). Dikatakannya, ada sebanyak 42 sirine peringatan dini bahaya tsunami milik Pemprov Sumbar. Dari hasil pemeriksaan setiap bulan, semua alat itu masih berfungsi dengan baik.”Dari hasil pemeriksaan terakhir, semuanya masih berfungsi,”sebutnya.
Dikatakannya, sarana mitigasi bencana berupa sirine peringatan dini tsunami tersebut berbeda dengan yang dimiliki Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMGK). Alat peringatan dini atau early warning system (EWS) yang dimiliki BMG ditempat di sejumlah titik di tengah laut. “Kalau yang di BMKG kita hanya mendapatkan laporan. Kendalinya berada pada BMKG,”katanya.
Sementara BPBD Sumbar menjadikan sirine peringatan dini tsunami menjadi EWS. Sirine itu akan berfungsi jika diaktifkan oleh yang berwenang.
Dari standar operasional pelaksanaannya (SOP) jika dalam keadaan darurat, untuk mengaktifkan sirine tersebut berada pada kepala daerah.
Diketahui belakangan wilayah Sumatera Barat sudah sering diguncang gempa. Meski tidak menyebabkan tsunami, kondisi itu membuat masyarakat kuatir. Bahkan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyurati Gubernur Mahyeldi untuk siaga bencana mengingat ada bahaya gempa di segmen Megathrust Mentawai-Siberut.
Simulasi Penanggulangan Bencana
Tahun ini guna memaksimalkan mitigasi bencana, BPBD Sumbar menggelar desa sigap bencana. Langkah itu dengan menggelar kegiatan pelatihan sampai dengan simulasi penanggulangan bencana. Kegiatan itu dilakukan pada 10 desa. Daerah yang dilatih tersebut adalah yang berada pada kawasan patahan semangka. Selain itu daerah yang menjadi rawan tanah bergerak. Daerah itu yakni, 2 nagari di Kota Solok, 2 nagari di Kabupaten Solok dan 2 nagari di Tanah Datar. Enam daerah ini dinilai berada pada jalur patahan semangka.
Sementara 2 desa lagi di Kota Sawahlunto. Daerah ini dinilai rawan tanah bergerak. Ditambah dengan 2 nagari di Agam, dengan materi mitigasi bencana tsunami. Kegiatan itu nantinya melibatkan sejumlah organisasi di masyarakat. Mereka diberikan pelatihan mitigasi bencana. Kemudian bagaimana penerapannya ketika bencana terjadi.
BPBD Sumbar juga akan menggelar simulasi penanggulangan bencana gunung meletus. Daerah yang akan dipilih adalah sekitar Gunung Talang. Karena gunung ini sempat aktif.
“Tahun kita pilih simulasi penanggulangan bencana gunung meletus. Karena selain tsunami, kita juga punya potensi bencana gunung meletus. Kita punya dua gunung api yang aktif. Gunung Marapi di Agam dan Gunung Talang di Kabupaten Solok”ujarnya. Simulasi itu nantinya akan digelar pada Oktober. Sementara untuk penuumbahan desa tangguh bencana (destana) sedang berlangsung.(fan)






