METRO SUMBAR

Malam Pergantian Tahun Sepi, Pedagang Terompet Menjerit

0
×

Malam Pergantian Tahun Sepi, Pedagang Terompet Menjerit

Sebarkan artikel ini

AGAM, METRO – Pedagang terompet mengeluh di saat malam pergantian tahun. Pasalnya, mereka tidak memahami himbaun Bupati Agam agar tidak merayakan malam pergantian tahun tersebut membuat pundi-pundi uang tak sepersen pun di peroleh pada malam pergantian tahun itu.
“Dagangan terompet yang kami bawa dari awal hingga pertukaran tahun tidak satupun yang laku, Biasanya pada siang tanggal 31 tahun yang lalu dagangan terompet tersebut sudah laku pada siang harinya, namun sudah terjadi pergantian tahun tidak juga dibeli orang,” ujar Nemon, Rabu (2/1).
Ia menuturkan, bayangan yang ada dalam pikiran saya akan sama dengan tahun yang lalu. Di mana tahun yang lalu, semenjak siang hingga malam pergantian tahun itu bisa dikatakan bisa meraut untung yang lumayan. Namun, sekarang ini sangat bertolak belakang dengan bayangannya, jika dibandingkan setahun lalu.
Di samping itu masyarakat tidak banyak yang merayakan tahun baru, hanya saja membawa kendaraan roda dua,itupun tidak banyak. Masyarakat lebih banyak di masjid-masjid untuk melaksankan muhasabah,tidak banyak berkeliaran lagi bebernya.

Baca Juga  Peringati HPN, Polda Sumbar Gelar, Lomba Karya Jurnalistik

Ia melanjutkan, ia juga sadar bahwa dengan himbaun tersebut sangatlah tepat dilakukan oleh Pemkab Agam. Sebab kalau dianalisa betul perayaan malam pergantian tahun itu, banyak negatifnya dari pada positifnya.Tidak itu informasi yang ia peroleh dari rekan-rekan pedagang yang seprofesi dengannya menyebutkan semua lokasi wisata ditutup, “Jadi bukan saya saja yang mengalami kerugian banyak juga rekan saya yang mengalami kerugian sama dengan saya,” ujar Nemon.
Ia menambahkan, mudah-mudahan apa yang telah dilakukan Pemkab Agam ini memberikak contoh yang terbaik bagi daerah lain. Kemudian ia untuk tahun yang akan datang tidak akan lagi berjualan terompet. Ia ingin berali profesi lain. Sehingga membawa berkah bagi kehidupan keluarga nya nantinya.
Karena berjualan saat pergantian tahun itu tidak sesuai dengan budaya dan nilai-nilai adat dan agama. Apalgi, sebagai masyarakat orang Minang, yang memiliki filosufi adat basandi syarak-syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK). Sedangkan, merayakan perayaan pergantian tahun ke tahu baru itu merupakan budaya keyakinan orang-orang non Islam. (pry)

Baca Juga  Masyarakat dan Nelayan di Air Uba dan Pasie Gentiang Air Pura, Keluhkan Limbah dan Hamparan Dasar