BERITA UTAMA

Kerja Nyata Andre Rosiade

0
×

Kerja Nyata Andre Rosiade

Sebarkan artikel ini
Two Efly Wartawan Ekonomi

DIA tak banyak drama namun penuh dengan berkerja nyata. Tak ada kegiatan sensasional yang dibuat buatnya. Tak ada aksi lawak lawak-an naik mobil dinas Toyota Innova atau mengibarkan bendera di dasar laut Samudera India.

Andre Rosiade. Begitu namanya dipang­gil. Sebagai politisi muda, Andre Rosiade mampu menjelma menjadi ikonik Sum­a­tera Barat dikancah nasional. Andre bak “Baringin Gadang” di tangah padang. Ba­nyak sekali perjuangan yang sudah ditu­nai­kannya untuk masyarakat Sumate­ra Ba­rat. Baik bantuan secara pribadi, or­ga­nisasi, jabatan dan akses politiknya. He­bat­nya lagi bantuan itu tak mengenal ba­tas “wilayah” politik. Andre tak peduli de­ngan “warna dan bendera” apa. Sepan­jang untuk kemajuan Sumatera Barat Andre tu­run tangan. Lihatlah fakta dan kerja politiknya. Pem­bangunan yang mangkrak bertahun tahunpun  mam­pu dilanjutkan dengan ker­ja dan lobi politiknya.

Siapa Andre sebenarnya? Ternyata Andre bukanlah anak muda biasa. Darah aktivis mengalir deras ditu­buhnya. Andre tercatat pernah menjabat sebagai Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Universitas Tri Sakti tahun 2000-2001. Usai menamat­kan studi Andre bermig­rasi men­jadi politisi Partai Ge­rindra dan terpilih de­ngan suara terbanyak men­jadi anggota DPR-RI dari dapil I Sumbar.

Kini Andre berkiprah di legislative. Walau bukan berposisi sebagai kuasa pengguna anggaran na­mun cukup banyak proyek strategis nasional yang diperjuangkanya untuk Sumbar. Tak hanya APBN yang diperjuangkan untuk Sumbar, dana Coorporate Social Responsibility dari BUMN pun banyak dia­lirkan ke Ranah Minang ini. Baik untuk pendidikan, social, keagamaan maupun untuk aktivitas olah raga.

Setiap bulan selalu saja ada “kejutan”. Diakhir Agus­­tus 2022, Andre kem­bali mem­buat “kejutan”. Dalam sepekan tiga project stra­tegis berhasil diperjuang­kan. Uniknya, ketiga project stra­tegis ini sudah cukup lama mangkrak dan mulai hilang dari “mimpi” public Suma­tera Barat. Apa itu? Pertama Tambang Migas (Minyak dan Gas Bumi) di Kabu­paten Sijunjung. Ke­dua, Jalan bebas hambatan (tollway atau toll road) dan ketiga Flyover Sitinjau Lauik.

Blok Sinamar dan

Blok Ganesha

Siapa sangka negeri yang terjepit di kawasan wilayah pantai barat Suma­tera ini memiliki cadangan Minyak dan Gas Bumi yang cukup lumayan? Usut pu­nya usut ternyata ada satu daerah di bagian timur Sumatera Barat memiliki cadangan Minyak dan Gas Bumi yang cukup me­lim­pah. Ya, Blok Sina­mar dan Blok Ganesha yang mem­bentang di perut bumi di Kabupaten Sijunjung.

Blok Sinamar dan Blok Ganhesa ini memiliki ca­dangan migas yang men­jan­jikan. Sempat dieksploi­rasi PT Radian Bukit Barisan dan dieksploitasi PT Rezki Bukit Barisan tahun 2019 yang lalu kini terhenti. Berbagai upaya sudah dila­kukan oleh Bupati Kabu­paten Sijunjung yang ener­gik H Beni Dwifa Yuswir S.IP MSi. Namun, upaya sang Bupati belum berhasil. Eks­ploitasi lanjutan belum dapat dilakukan.

Kini Andre dan Benni Dwifa Yuswir berkolabo­rasi. Dua politisi milenial dengan partai pengusung berbeda ini bekerja sama. Tak tang­gung tanggung Dirut Pe­rusahaan Gas Ne­gara (PGN) Muhamad Har­yo Yunianto diboyong ke su­mur Migas Sinamar I. Di Sumur Sinamar I terse­but Muhamad Haryo Yunianto menegas siap melanjutkan eksplotasi dan meng-take over investasi dari peru­sahaan migas sebelum­nya.

Kini dengan hadirnya PGN sebagai pelaksana baru di Blok Sinamar dan Ganesha kembali mem­buka harapan masyarakat Sijunjung untuk bisa men­dapatkan “kue ekonomi” baru. Penambangan Migas dipastikan akan membawa dampak multiplier efek eko­nomi yang sangat besar. Baik bagi daerah dan teru­tama bagi masya­rakar Kabupaten Sijunjung.

Baca Juga  Syarat Masuk Surga

Tollway Segmen I

Semenjak di ground brea­k­ing oleh Presiden Jokowi tahun 2018 yang lalu Sub Tol Padang-Pekan Baru selalu menjadi buah gunjing. Tak saja dimedsos, di warung dan lapak kopipun cerita jalan Tollway (bebas ham­batan) selalu muncul. Bera­gam tangga­pannya, mulai dari kecewa, marah, muak dan suka me­ngakumulasi menjadi satu. Ada yang mencimeeh dan cukup ba­nyak juga berharap agar pembangunan jalan tol itu dilanjutkan.

Sampai Juli 2022 total ruas jalan Tol yang sudah tuntas diselesaikan terca­tat sepanjang 4,2 KM. Jika jangka waktu pengerjaan dikomparasikan dengan panjang ruas jalan yang tuntas maka itu sangat jauh dari kata cukup. Re rata kurang 1 Km / tahun. Sung­guh ini capaian yang sa­ngat rendah.

Itu baru dengan jangka waktu. Bagaimana dengan pengerjaan diwilayah lain? Ini yang jauh lebih parah lagi. Lihatlah tol Dumai-PKU-Kampar. Ruas ini su­dah selesai dan sudah di­man­faatkan. Kini Hutama Karya sedang menuntas­kan PKU-Kampar hingga tapal batas Sumbar. Tol Palembang  Beng­kulu su­dah selesai. Tol Kuala Na­mu-Deli Serdang-Binjai su­dah dioperasional. Se­men­tara kita di Sumbar akan ke akan juga.

Lambat dan mang­krak­nya Segmen I ini membuat Andre gerah. 28 Agustus 2022 Andre memboyong kembali Dirut HKI. Awal September pembangunan Tol Segmen I PDG-SCC kembali dilanjutkan. Seti­daknya pembangunan bisa dilakukan terhadap ruas jalan yang sudah dibe­baskan tim ganti rugi lahan. Baik yang dilakukan Pem­kab Padang Pariaman mau­­pun tim provinsi yang di­ketuai oleh Wagub Sum­bar Audy Joynaldi. Semoga re louncing ini berjalan sesuai harapan public.

Fly Over Sitinjau Lauik

Kecewa, benci dan pa­tah arang rasanya anak negeri ini ketika men­de­ngar kabar bahwa rencana pem­bangunan Flyover Sitin­jau Lauik dihentikan Feasibility Study (FS) nya. Pa­dahal diakhir tahun 2020 anak negeri sudah kadung bang­ga dan bahagia. Akan ada dua ikonik konstruksi jalan di Sumatera Barat. Satu flyo­ver kelok Sembilan dengan indahan alamnya dan ke­dua flyover Sitinjau Lauik de­ngan Panorama alamnya.

Kala itu sehari setelah kunjungan Menteri Bap­penas Suharso Manoarfa ke Sumbar ada kabar gem­bira. Berat dan berbaha­yanya trek Sitinjau Lauik akan dicarikan solusinya. Pemerintah berencana mem­bangun flyover yang menghubungan dua trek ekstrem. Pendakian Panorama I dan Pendakian Panorama II akan dihu­bungkan dengan jembatan flyover. Pembangunan jem­batan flyover ini diharapkan akan meminimalisir resiko kecelakaan serta memu­dah­kan arus barang dari dan menuju Kota Padang.

Rencana pembangu­nan flyover itu juga tak main main. Selain bentuk ang­garan multiyears melalui APBN, desain tiga dimensi dari flyover itu juga dishare dan menyebar hing­ga ke tangan pengguna gadget. Hampir seluruh anak ne­geri Minang melihat itu, baik yang di ranah maupun yang di rantau. Tidak itu saja, hampir seluruh canal medsos juga dipakai untuk menshare gambar tiga di­men­si pembangunan flyo­ver tersebut. Bangga sekali rasanya kita sebagai anak negeri ranah Minang ini dengan rencana itu.

Namun sayang mimpi indah yang sudah terlanjur dinikmati public di ranah dan di rantau itu buyar seketika. Covid-19 yang mendera dan lemahnya diplomasi kita membuat rencana pembangunan flyo­ver itu terhenti. Peme­rintah secara resmi tahun 2021 yang lalu menghen­tikan feasibility study flyo­ver Sitinjau Lauik. Negeri ini kembali terjerumus ke dalam stigma negeri akan ke akan. Akan bangun ini, akan bangun itulah. Se­mentara diujung proses, rencana itu terpaksa ter­henti. Macam macamlah alasan dan kendalanya.

Baca Juga  Sebelum Dibunuh, Jamaah Masjid Bersengketa Tanah

Kini, mimpi yang sudah buyar itu kembali mampu disambungkan Andre. Ker­ja politiknya melobi Hu­tama Karya Indonesia kem­bali membuahkan hasil. Proposal lama yang dijadikan rujukan rencana pemba­ngunan flyover su­dah ditolak. Andre bersa­ma tim beru­paya mem­buat kajian baru dan kem­bali memperjuang­kan. Ha­sil­nya terhitung tang­gal 28 Agustus 2022 rencana Pem­bangunan flyover Sitinjau Lauik kembali dilanjutkan. HKI menyanggupi diri un­tuk menjadi investor de­ngan skema Kerja sama Pe­me­rintah dan Badan Usaha (KPBU).  Ini jelaskan mimpi indah yang tersam­bung kembali. Harapan untuk hadirnya dua ikonik kons­truksi di Sumbar se­moga saja bisa terwujud.

Kuota BBM

Ingat antrian panjang di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakan Umum) maka kita akan ingat Andre Ro­siade. Kenapa? Karena An­dre lah satu satunya ang­gota DPR-RI asal Sumbar yang berani “melawan arus”. An­drelah satu satunya anggota DPR asal Sumbar yang be­rani mendatangi dan “me­maksa” BPH Migas dan Pertamina Patra Niaga un­tuk menambah kuota BBM untuk Sumatera Barat.

Masih segar dalam inga­­tan ini bagaimana mengu­larnya kendaraan diesel (truck) disepanjang SPBU. Berjam jam lamanya para driver itu menunggu jatah mengisi BBM. Untung mu­jur BBM bisa di dapat, nasib buntung pas pada gili­ran­nya stok BBM habis.

Sebagai mitra kerja BUMN di Komisi VI DPR-RI An­dre tak mau itu terjadi. Di Mandalika waktu MotorGP Andre menemui dan “me­maksa” BPH Mi­gas dan Pertamina Patra Niaga me­nambah kuota BBM untuk Sumbar. Tidak itu saja, sedi­kit “memaksa” Andrepun memboyong Di­reksi Perta­mina Patra Nia­ga dan Ketua BPH Migas ke Sumbar. Dua petinggi ener­gy itu men­datangi be­be­rapa SPBU di Sumbar, kedua petinggi Energy ini juga mendatangi depot pengisian Pertamina di Bungus Teluk Kabung. Ha­sil­nya apa? Beberapa hari setelah itu kuota BBM di Sumbar ditambah dan an­trian yang mengular di SPBU menjadi terurai.

Eksekutif vs Legislatif

Trias Politica. Begitu Ba­ron de Montesqiueu menga­takan tiga pilar kebang­saan. Eksekutif, Legilatif dan Yudikatif. Eksekutif kuasa pengguna anggaran. Eksekutif bertugas meng­eksekusi anggaran yang sudah diketuk palukan Le­gis­latif yang nilainya men­capai triliunan. Ekse­kutiflah actor utama setiap derap langkah pembangunan di negeri ini.

Beda lagi dengan Legislative. Legislative hanya pembuat undang undang termasuk mengetuk palu­kan anggaran. Legilatif ha­nya berperan pada bidang (Budgeter, Control dan aspirator). Bersama eksekutif dia membuat APBN/APBD dan setelah ketuk palu di­serahkan penggunaannya ke eksekutif sesuai dengan nomenklatur anggaran. Legislative tak memiliki kuasa untuk menggunakan anggaran sedikitpun. Bah­kan untuk anggaran dia sendiri legilatif terpaksa menumpakan ke pos ang­garan Sekretariat Dewan.

Meski tak memiliki ku­asa untuk mengunakan ang­garan seperti Eksekutif (Gubernur-red) namun An­dre tetap saja bisa berbuat banyak. Loby kiri, kanan, depan dan bela­kang dalam rangka memperjuangkan daerah ternyata mem­buah­kan ha­sil. Mulai dari gu­yuran dana APBN untuk pembangunan pasar pasar tradisional, bantuan pendi­dikan, pe­nambahan kuota BBM, ban­tuan rumah iba­dah, maksimalisasi dana Coor­porate Social Responsibility BUMN hingga mendo­rong BUMN bersedia ber­inves­tasi di Sumbar. Buk­tinya, tollway segmen I, Flyover Sitin­jau Lauik dan eks­politasi blok Migas di Sijun­jung. Andai saja suatu hari kelak Andre terpilih men­jadi top eksekutif (Gu­ber­nur-red) di Sumbar ten­tulah akan jauh lebih ba­nyak yang dapat diper­buatnya untuk kema­juan Sumareta Barat. (***)