SOLOK, METRO–Pemerintah Kota Solok terus melakukan program perbaikan gizi masyarakat. Dengan program cepat, akurat, teratur dan berkelanjutan. Namun ditekankan perlu koordinasi, sinergi, dan sinkronisasi antar lintas sektor terkait. Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok, Elvi Rosanti menyebut, Dinkes Kota Solok telah memprogramkan, beberapa pelatihan terkait pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi dan anak. “Tanpa peran kader saya rasa nakes cukup kewalahan dalam mencapai tujuan untuk mencapai program indonesia sehat, yang salah satunya dalam peningkatan status gizi bayi dan anak,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya turut mendorong peningkatan upaya promotif dan preventif seperti peningkatan KIA, KB, kesehatan reproduksi, percepatan perbaikan gizi masyarakat, peningkatan pengendalian penyakit, serta penguatan sistem kesehatan dan pengawasan obat dan makanan.
Kemudian, juga berupaya melakukan perbaikan gizi dalam rangka untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat, melalui perbaikan pola konsumsi makanan.
Selanjutnya melalui perbaikan perilaku sadar gizi, peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi serta kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi.
Sedangkan Kepala DPPKB Kota Solok, Ardinal mengatakan kegiatan perbaikan gizi masyarakat sangat perlu dilakukan secara berkelanjutan. Salah satunya dengan cara memonitor dan mengevaluasi secara berkala melalui surveilans gizi yang meliputi indikator masalah gizi dan indikator kinerja program gizi.
Ia menyebutkan, menurut data yang diterima, sampai saat ini di Kota Solok terdapat sebanyak 8.328 Kepala Keluarga yang termasuk keluarga beresiko stunting. Sementara Angka stunting Kota Solok saat ini sebesar 18,5 persen, Kota Solok merupakan daerah yang terendah angka stunting di Provinsi Sumatera Barat.
Salah satu langkah awal yang dilakukan yakni dengan segera merumuskan dan menerbitkan regulasi penanganan dan penurunan stunting di Kota Solok sebagai pedoman dalam mengambil langkah-langkah teknis di lapangan.
Hal ini merupakan tantangan besar dan butuh kerjasama dari semua pihak, termasuk OPD dalam rangka penanganan dan upaya penurunan angka stunting di Kota Solok.
Ia mengharapkan komitmen dan kerjasama antar OPD, baik sektor kesehatan maupun nonkesehatan, serta swasta dalam pembangunan pangan dan gizi. “Meski persentase terbilang rendah, kita tak bisa terlena, malahan itu menjadi tantangan kita bagaimana terus menekan stunting agar persentasenya menurun, perlu langkah-langkah yang cepat dan tepat dalam upaya penurunan jumlah penderita stunting di Kota Solok,” tambahnya. (vko)





