SAWAHLUNTO, METRO–Badan Nasional Narkotika (BNN) Kota Sawahlunto menggelar Rapat Kerja (Raker) Program Pemberdayaan Masyarakat Anti Narkoba di Lingkungan swasta. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Meeting Room Silo Parai City Garden Hotel Kota Sawahlunto, Selasa (12/7).
Menurut Kepala BNN K AKBP Erlis, SE, MH Sawahlunto tujuan diadakannya adalah untuk percepatan pelaksanaan kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (P4GN) untuk mewujudkan lingkungan dunia usaha/swasta yang bersih dari narkoba. Serta menjadikan Kota Sawahlunto sebagai Kota Tanggap Ancaman Narkoba.
Peserta yang dihadirkan sebanyak 20 orang berasal 20 orang. Dan pihaknya sengaja lebih mengutamakan Pengambil Keputusan dari pihak-pihak yang diundang, artinya pimpinan dari suatu usaha/swasta. Tujuannya bila pihak pimpinan yang diundang dari rapat yang diikuti hari ini hasilnya bisa diterapkan kepada para anggotanya atau karyawannya. Peserta yang hadir ada dari pihak Perbankan, PT. Pos, pemilik cafe, PLN, PWI, Homestay, Penggiat seni dan pemilik usaha herbal. Pemateri dan nara sumber diisi oleh Kepala BPBD dan Kesbangpol Sawahlunto Adriyusman, Kasat Narkoba AkP Rajulan Harahap dan Ketua MUI Ust. Fadhil Rifenta.
Adriyusman mengatakan bahwa pecandu narkoba di Indonesia sudah mencapai angka 3, 66 juta jiwa di data tahun 2021. Ini sangat mengkhawatirkan sebab sudah menyasar sampai ke desa-desa dengan berbagai modus operandi dalam mengantarkan barang haram tersebut kepada penggunanya. Para pengedar itu sudah nekat untuk memasuki wilayah. Narkoba sangat berbahaya dari covid 19, sebab bila sudah mencandu akan sulit dihentikan dan sulit sembuhnya. Narkoba ini akan melumpuhkan ketahanan bangsa dari segi ekonomi, politik dan sosial budaya.
“Kami dari pihak pemerintah meminta pemilik usaha, BUMN dan pihak swasta manapun agar selalu melakukan pengawasan kepada setiap orang yang berhubungan dengan mereka, bila ada terindikasi gejala-gejala kecanduan narkoba segera hubungi pihak terkait, pasang cctv, pasang banner, baliho, lakukan tes urin setiap penerimaan pegawai ditempat kerja mereka dan berikan laporan bila ada tampak gejala panyalahgunaan narkotika,” kata Adriyusman.
AKP Rajulan. H. Menginformasikan di Sawahlunto selama dari bulan Januari sampai Juli 2022 sudah ada 11 kasus penangkapan terhadap tindakan penyalahgunaan narkoba. Dan juga sampai menyasar 3 orang anak dibawah umur. Untungnya tidak ada yang berasal dari kota Sawahlunto. “Namun meskipun begitu kita mesti tetap waspada dengan bahaya narkoba,” ujar Rajulan.
Menurutnya kenapa banyak orang lebih memilih menjadi pengedar narkoba. Disebabkan lebih cepat kaya dapat duitnya. Kerjanya tidak perlu memakai ijazah, hanya modal nekat dan sedikit menggunakan kelicikan dalam setiap operasinya. Harga 1 gram sabu paket kecil saja mencapai Rp. 2 juta rupiah lebih. Untuk 1 gram sabu bisa dikonsumsi 5 orang.
Biasanya para pengedar itu jarang yang mengkonsumsi narkoba, karena hasil tes urine sering negatif. Para pengedar itu hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi saja. Tetapi mereka sangat cerdik mencari mangsa.
“Makanya saya mengingatkan bagi para pengusaha, pemilik cafe, pimpinan usaha untuk memperhatikan pegawainya bila ada yang kecanduan langsung laporkan. Agar bisa segera direhabilitasi. Namun bila tidak dilaporkan dan ketahuan oleh aparat maka akan terjadi penindakan secara hukum lagi,” jelas Rajulan.
Ketua MUI Sawahlunto Ustadz Fadhil Rifenta menuturkan, “ obat dari pencegahan narkoba atau kecanduan narkoba adalah takut pada Allah SWT. Sebab narkoba termasuk barang haram karena memabukkan dan itu sama dengan berbuat dosa, bila manusia takut akan dosa dan azab Allah SWT, maka dia akan menjauhi segala larangan-nya. Maka dekat lah dengan Allah SWT,” pungkasnya. (pin)














