PADANG, METRO–Sejak lima tahun lalu hingga kini, Keluarga Besar Nursal Uce, M, SH, berbagi dengan masyarakat pada hari Raya Kurban 1443 H . Dengan menyembelih satu ekor sapi, dengan berat badan 75-80 KG, mereka melakukan pemotongan hewan kurban itu Sabtu (9/7) di Rawang, Kecematan Padang Selatan. “Alhamdulillah, niat kita untuk tahun ini pada Hari Raya Idul Adha 1443 H sudah sampai,” ujar Nursal Uce, M, SH kepada POSMETRO.
Disebutkan Nursal Uce, M, SH yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Koperbam Telukbayur itu, dengan jumlah satu ekor sapi, kita dapat menyebar sebanyak 70 lembat kupon. Kupon itu kita bagikan kepada warga sekitar yang benarbenar membutuhkan. “Kita tahu bagaimana keutamaan kurban yakini menjalankan perintah Allah SWT, sebagai sarana meneladani kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, berkurban meningkatkan empati dan solidaritas merayakan Idul Adha dengan berkurban juga menjadi sarana meningkatkan empati dan solidaritas sesama umat Islam, kurban juga syariat yang membedakan orang mukmin dan kafir,” sebut Nursal Uce, M.
Disebutkan Nursal Uce, M, bahwa tidak berarti kalau kita tidak menyembelih hewan kurban, kita tidak mendapatkan hikmah dari ibadah itu. “Karena ibadah itu bagian dari kita bergembira, bersyukur atas anugerah Allah, tanda bahwa nikmat yang diberikan Allah pada kita itu jauh lebih banyak daripada kesulitan yang sekarang ini sedang terjadi,” ujarnya.
Selain itu, dari pensyariatan ibadah kurban dan Iduladha, Nursal Uce, M, menekankan bahwa pada masa ini warga setidaknya bisa mengambil tiga hikmah pemaknaan dari kisah Nabi Ibrahim. “Berkaitan dengan kepatuhan, Nabi Ibrahim menjadi hamba Allah yang senantiasa mematuhi secara ikhlas meskipun perintah itu sangat berat untuk menunaikannya,” ujarnya.
“Maka kepatuhan inilah yang menjadi teladan bagi kita bahwa hamba Allah itu harus mukhlisina lahu-din (ikhlas dalam beragama) betapapun berat perintah itu kita harus menunaikannya,” imbuhnya.
Selain kepatuhan, hikmah yang bisa dipetik dari Nabi Ibrahim adalah keteguhannya pada kebenaran yang diyakininya. Bahwa prinsip kebenaran tidak bersifat populis berdasarkan banyaknya orang yang mendukung, tapi apa yang dituntunkan oleh Allah kemudian dijalankan dengan istiqamah.
Ketiga, bahwa keberhasilan Nabi Ibrahim sebagai hamba Allah dilalui melalui serangkaian cobaan yang tidak mudah. Juga bahwa ujian yang diberikan oleh Allah pasti ada ujungnya. “Dalam situasi seperti ini kita perlu mengambil pelajaran agar kita menjadi hamba-hamba Allah yang patuh, mematuhi pimpinan (Persyarikatan), mematuhi Allah dan Rasul-Nya,” pungkasnya. (ped)






