UJUNG GURUN, METRO–Tahun ini, penentuan tanggal Hari Raya Idul Adha di Indonesia dengan Arab Saudi berbeda. Diketahui, Kemenag RI menetapkan Hari Raya Idul adha 1443 Hijriah jatuh pada Minggu (10/7). Sedangkan Arab Saudi menetapkan 10 Zulhijah 1443 Hijriah jatuh pada Sabtu (9/7), yakni satu hari lebih awal dari Indonesia.
Menyikapi perbedaan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama (Ka.Kankemenag) Kota Padang Edy Oktaviandi, mengajak umat Islam, terutama warga Kota Padang mensikapi perbedaan hari raya Idul Adha antara Saudi dan Indonesia dengan bijak.
“Mar kita sikapi perbedaan ini dengan toleransi beragama serta ikuti sesuai pemahaman atau keyakinan masing-masing. Jangan kita saling berselisih dengan perbedaan tersebut,” ujarnya, Kamis (7/7).
Ia menyampaikan, warga tidak boleh main klaim sendiri, bahwa Pemerintah salah dan Muhammadiyah benar. Sebab, penetapan Idul Adha dilakukan melalui metode masing masing dan melibatkan berbagai pihak.
Dalam agama Ijtihad yang salah itu dikasih pahala satu. Jika benar, maka akan mendapatkan dua pahala. Artinya tidak ada pihak yang dirugikan dalam perbedaan ini.
Perbedaan tersebut harus dapat dipahami semua pihak dengan tetap saling memahami dan menghargai karena pemerintah telah menetapkan Hari Idul Adha pada Minggu (10/7). Di sisi lain, jika ada umat yang ingin melaksanakan lebaran kurban pada Sabtu (9/7) tidak perlu diperdebatkan.
Ia kembali menegaskan perbedaan tanggal seperti itu bukan merupakan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Karena perbedaan penetapan pemerintah Indonesia dan Saudi adalah sesuatu yang bisa saja terjadi disebabkan perbedaan matla (wilayah hukmi) selain itu penetapan waktu ibadah di Indonesia bersifat lokal, bukan global.
“Kita mengimbau umat muslim di Kota Padang berjiwa besar dalam hal ini. Bagaimanapun perbedaan lebaran adalah hal yang biasa terjadi di tengah-tengah umat. Mari kita tetap saling menghormati dan menghargai adanya perbedaan ini,” pungkasnya.
Perbedaan Waktu
Untuk diketahui, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais dan Binsyar) Kementerian Agama, Adib menjelaskan, perbedaan waktu itu disebabkan karena letak Arab Saudi lebih barat dari Indonesia.
“Waktu di Indonesia lebih cepat 4 jam, sehingga hilal justru mungkin terlihat di Arab Saudi,” terang Adib.
Adib menjelaskan, semakin ke arah barat dan bertambahnya waktu, maka posisi hilal akan semakin tinggi dan semakin mudah dilihat. Sementara, kata dia, letak geografis Arab Saudi berada di sebelah barat Indonesia, sehingga pada tanggal yang sama posisi hilal di sana lebih tinggi.
“Jadi kurang tepat jika memahami karena Indonesia lebih cepat 4 jam dari Arab Saudi, maka Indonesia mestinya melaksanakan Hari Raya Idul Adha 1443 H juga lebih awal. Jelas pemahaman ini kurang tepat,” katanya.
Adib mengatakan, berdasarkan data hisab, pada akhir Zulkaidah 1443 H, ketinggian hilal di Indonesia antara 0 derajat 53 menit sampai 3 derajat 13 menit dengan elongasi antara 4,27 derajat sampai 4,97 derajat.
“Sementara pada tanggal yang sama, posisi hilal di Arab Saudi lebih tinggi dengan posisi yang ada di Indonesia. Jadi kemungkinan hilal terlihat di Arab Saudi sangat besar,” jelasnya.
Jaga Prokes
Terpisah, Anggota Komisi IV DPRD Padang, Mukhlis meminta kepada warga kota untuk tidak mempermasalahkan perbedaan itu serta mengajak warga mengikuti salah satu dari yang ditetapkan.
Selanjutnya, dalam perayaan Hari Raya Idul Adha nanti, warga diimbau tetap patuhi prokes. Sebab, pandemi masih belum hilang.
“Saat penyembelihan sapi kurban yang disaksikan warga, diimbau tidak terlalu dekat melihatnya. Agar hal yang tidak diinginkan tidak terjadi,” lugasnya. (ade)






