BERITA UTAMA

Momentum HUT ke-64 Pengambilalihan SP dari Belanda, Prasasti Timbang Terima NV PPCM itu pun Bersolek

0
×

Momentum HUT ke-64 Pengambilalihan SP dari Belanda, Prasasti Timbang Terima NV PPCM itu pun Bersolek

Sebarkan artikel ini
MONUMEN BERSEJARAH— Seorang pekerja tengah mengecat monumen pengambilalihan pabrik PT Semen Padang, Senin (4/7). Hari ini, PT Semen Padang memperingati HUT Pengambilalihan PT Semen Padang ke-64 dari tangan Belanda.

SENIN pagi (4/7), seorang pekerja tengah mengecat se­buah monumen yang berada  di depan eks Kantor Pusat PT Semen Padang. Batu granit  hitam yang sebelumnya tam­pak kusam, kembali “didan­dani” sehingga terlihat meng­kilat. Termasuk tulisan di pra­sasti yang huruf-hurufnya mulai hilang dimakan usia, diperjelas sehingga bisa ter­baca lagi.

Monumen itu terlihat berdiri kokoh. Dengan ting­gi 5,68 meter dan  lebar tapak 7,30 meter, terlihat jelas oleh para pengguna jalan yang hendak menuju Lapangan Golf atau  ke arah Wisma Indarung.

Untuk bisa naik ke atas monumen itu, pengunjung bisa menapaki delapan anak tangga dari sisi ka­nan. Pada monumen me­nempel sebuah prasasti dari granit berukuran 75 cm X 51 cm dengan tulisan yang menunjukkan identi­tas bangunan itu secara keseluruhan.

Tulisannya masih me­ma­kai ejaan lama, “BER­DA­SARKAN PP 10 DAN PP 23_1958 SEBAGAI KELAN­DJUTAN PERDJUANGAN MEREBUT IRIAN BARAT KEMBALI KE WILAJAH REPUBLIK INDONESIA  PA­DA HARI INI DILA­KU­KAN TIMBANG TERIMA PIMPINAN BERIKUT SE­MUA KEKAJAAN NV. P.P.C.M DARI PERWA­KILANNJA DI INDONESIA KEPADA PEMERINTAH R.I. cc BAPPIT, INDARUNG 5 DJULI 1958.

Monumen itu meru­pa­kan bukti sejarah pengam­bilalihan  NV Padang Portland Cement Maatschappij (PPCM), sekarang PT Semen Padang, dari tangan Belanda kepada peme­rin­tah Indonesia yang diwakili oleh Badan Penyelenggara Perusahaan Industri dan Tambang (BAPPIT).

Monumen yang sangat bersejarah bagi PT Semen Padang bahkan Indonesia itu sejak sepekan lalu telah bersolek. Adalah Kepala Unit Humas & Kesekre­tariatan PT Semen Padang Nur Anita Rahmawati yang meminta agar monumen itu dibersihkan dan dipe­rindah kembali.

Taman monumen tem­pat prasasti yang berusia 64 tahun itu dibersihkan. Tangga, tapak bangunan, hingga pilar dengan tinggi 2,45 meter kini terlihat “tacelak”.

“Sengaja kita bersihkan karena bernilai sejarah tinggi, sebagai saksi dan bukti sejarah penyerahan perusahaan ini dari tangan Belanda,” tutur Nur Anita Rahmawati.

Ia menyampaikan se­be­lumnya tidak banyak yang mengetahui ada mo­nu­men bersejarah terse­but.

“Sebelumnya saya ti­dak tahu adanya monu­men ini. Mungkin juga kar­ya­wan PT Semen Padang lainnya, terutama dari kala­ngan generasi muda yang tidak berkantor di sekitar monumen tersebut. De­ngan dibersihkan kembali, bisa menjadi perhatian bagi insan perusahaan, tentang betapa pentingnya monumen ini di masa lalu,” kata Nur Anita Rahmawati.

Tak hanya Nur Anita, Kiki Warlansyah, staf De­par­temen Bisnis Inkubasi Non Semen (BINS) PT Semen Padang baru menge­tahui keberadaan monu­men yang berada di bela­kang kantornya.

“Saya baru tahu ketika pindah ke kantor ini be­berapa tahun ini. Saya melihat dari lantai 2 kantor, ada sebuah monumen di bawah. Lalu saya baca tulisan prasastinya, dan akhirnya saya jadi tahu monumen ini benar-benar bersejarah,” kata Kiki.

Baca Juga  KPK Geledah Kantor Bank BUMN terkait Dugaan Korupsi

Menurut Ariyanto Thaib, pensiunan Humas PT Semen Padang, monu­men tempat melekatnya prasasti timbang terima pabrik itu, dibangun sekitar tahun 70-an.

“Dalam hitungan bulan pada awal kepemimpinan Direktur Utama PT Semen Padang yang saat itu dija­bat Azwar Anas, monu­men itu dibangun di depan Kantor Pusat PT Semen Padang kala itu,” kata Ari­yanto.

Bangunan itu berada di  area lapangan upacara Kantor Pusat PT Semen Padang saat itu. “Karena itu, generasi dulu sangat kenal dengan bangunan bersejarah itu. Namun di­kait­kan dengan kontek­s­tual, generasi sekarang tentu banyak yang tidak mengenalnya, apalagi kan­tor Pusat PT Semen Pa­dang sudah pindah,” kata Ariyanto.

Kedaulatan Ekonomi

Peristiwa pengambi­lalihan NV PPCM dari ta­ngan Belanda pada 5 Juli 1958, merupakan momentum bersejarah bahwa ke­daulatan ekonomi telah kembali ke tangan bangsa Indonesia.

Ini ditandai dengan pe­ngelolaan NV PPCM dan pe­rusahan-perusahaan lain­nya yang dikuasai Belanda, sejak itu dikelola oleh bang­sa sendiri.

Saat itu tak hanya NV PPCM yang dinasiona­lisa­si, tetapi juga pengalihan pemilikan 90 persen pro­duksi perkebunan, 60 per­sen produksi perdagangan luar negeri, 246 pabrik dan perusahaan pertamb­a­ngan, bank, pelayaran, industri, dan jasa. Semua perusahaan ini, kemudian dikelola oleh negara, bukan oleh swasta yang dinilai masih belum berpenga­laman.

Guntur Subagja & Ab­dullah Khusairi dalam buku 110 Tahun Semen Padang dan kisah-kisahnya dulu menceritakan, pada 5 Juli 1958, Ir Van der Land, Hoo­fadministrataur NV Pa­dang Portland Cement Maat­schappij (PPCM), ter­se­nyum kecut saat menja­bat tangan Ir. J. Sadiman.

Hari itu,  terjadi sebuah peristiwa yang murung bagi Belanda dan sebalik­nya bagi Indonesia. Jabat tangan kedua tokoh ber­beda bangsa dan warna kulit tersebut menandai berakhirnya kekuasaan Belanda atas pabrik semen Indarung.

Inilah salah satu kebi­jakan pemerintah Indonesia yang baru lahir melalui Kabinet Kabinet Ali Sas­troamidjojo I (1 Agustus 1953- 12 Agustus 1955).

Menteri Perekonomian pada kabinet ini, Mr. Iskag Tjokrohadisoerjo, berhasil membuat kebijaksanaan yang terkenal dengan Ke­bijaksanaan Indone­siani­sasi.

Kebijaksanaan terse­but bertujuan merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional. Untuk itu, pengusaha  swasta pribumi harus dibantu se­hingga mereka bisa ber­kem­bang.

Pemerintah kemudian mendesak perusahaan-pe­rusahaan asing di Indonesia, termasuk tentunya NV PPCM, untuk melaku­kan alih-teknologi dan menga­dakan pelatihan-pelatihan bagi rakyat Indonesia.

Tidak hanya itu, peru­sahaan asing juga dituntut untuk memberikan kedu­dukan yang layak bagi karyawan pribumi.

Pada tingkat selan­jut­nya, perusahaan asing di­ha­ruskan menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha nasional.

Bahkan diwajibkan mem­berikan perlindungan dengan maksud pengu­saha pribumi dan badan usaha yang didirikannya mampu bersaing secara sehat di jalur bisnis.

Baca Juga  Buntut Gus Miftah Hina Pedagang Es Teh, DPR Minta Kemenag Lakukan Sertifikasi Juru Dakwah

Meskipun ada kebijak­sanaan yang demikian, namun tetap saja sulit bagi pemerintah Indonesia un­tuk mengontrol perusa­haan-perusahaan asing tersebut.

Dan keberadaan peru­sahaan-perusahaan itu tak banyak berarti bagi pere­konomian negara maupun kepada perekonomian rak­yat secara langsung.

Keadaan inilah yang nampaknya kemudian men­dorong pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan yang lebih radi­kal mengambil alih semua perusahaan asing, khu­susnya milik Belanda, di Indonesia.

Pada 5 Juli 1958 itu, J. Sadiman bertindak atas nama Direktur BAPPIT yang berada di bawah Ke­men­terian Perindustrian Dasar dan Tambang (Per­datam).

Ia menjalankan ama­nat Undang-Undang No. 86 ta­hun 1958 tentang Nasio­nalisasi. Isinya, semua peru­sahaan milik Belanda dise­rahkan kepada Indonesia.

Selain pabrik Semen Padang, perusahaan milik Belanda lainnya yang di­amb­il alih antara lain NV Papierfabriek Padalarang, NV Nijmegen Papierfa­briek, NV Banddoengsche Kininefabriek, NV Good­year Tire & Rubber Company Ltd., NV Nederlands Indische Portland Cement, NV De Braat, NV De In­dustrie, CV De Vulkaan, dan lain-lain.

Dua tahun setelah di­ambil alih, pemerintah me­ngubah status pabrik semen peninggalan Belanda ini menjadi Perusahaan Negara (PN) Semen Pa­dang, sesuai Peraturan Pemerintah (PP) nomor 135 tahun 1961.  Pada tahun 1972, berubah menjadi PT Persero berdasarkan PP Nomor 07 tahun 1971.

HUT ke-64 Pengambilalihan

Pada 5 Juli 2022 ini, PT Semen Padang memperi­ngati HUT ke-64 Pengam­bilalihan dari tangan Belan­da.  Kegiatan ini dilaksa­nakan dengan sederhana, namun tidak mengurangi arti pentingnya peristiwa bersejarah dari momentum itu.

“Masih dalam suasana pandemi. HUT ke-64 kita peringati dengan cara se­der­hana,” kata Kepala Unit Humas & Kesekretariatan PT Semen Padang Nur Ani­ta Rahmawati.

Adapun rangkaian ke­gia­tan HUT ke-64 pengam­bilalihan tersebut antara lain, Senam Sehat pada Selasa (5/7), dilanjutkan peresmian PLTA mini, Lea­der Cafe, dan Kick Off Liga Basket.

Nur Anita berharap mo­mentum HUT ke-64 pe­ngambilalihan PT Semen Padang itu dapat menjadi spirit bagi semua insan Semen Padang Group untuk meningkatkan kinerja, men­capai visi misi dan program perusahaan.

“Dalam konteks keki­nian, PT Semen Padang kini menghadapi realitas kom­petisi yang ketat di industri semen nasional, dengan banyaknya para pemain asing. Kondisi itu tentunya harus dijawab oleh semua insan perusahaan dengan kerja keras, dan kerja cer­das agar perusahaan ini bisa sukses menghadapi persaingan yang ditandai de­ngan over supply dan tu­runnya demand,” katanya.

Momentum HUT pe­ngambilalihan ini, kata Anita, juga diharapkan dapat menjadi semangat untuk bangkit (rise) dan mandiri. (adv)