METRO PADANG

Rapor Bodong, Siswa yang jadi Korban!

0
×

Rapor Bodong, Siswa yang jadi Korban!

Sebarkan artikel ini
Muharlion Anggota Komisi II DPRD.

ANGGOTA DPRD Kota Padang, Muharlion menyesalkan terjadi mark up nilai siswa yang terjadi di SMP 1 Padang. Padahal SMP 1 selama ini di­kenal sebagai salah satu se­kolah favorit di Kota Padang.

“Kepala se­ko­lah harus ber­tanggung ja­wab. Tentu ini sa­ngat men­co­reng dunia pen­didikan, apa­lagi terjadi di SMP 1 yang merupakan sekolah favorit,” tegas Mu­harlion, Senin (27/6).

Muharlion telah menduga akan terjadi pengge­lem­bungan nilai rapor sis­wa oleh pihak sekolah. “Saya membaca status di medsos salah seorang yang bekerja di dunia pendidikan agar berhati-hati akan ada kecurangan rapor siswa, atau rapor bodong. Sangat disesalkan, karena yang dikorbankan siswa,” ucapnya.

Menurut Politisi PKS ini, praktik penggelembungan nilai justru merugikan peseta didik. Karena itu, ia meminta para guru untuk memberikan nilai rapor sesuai dengan kemampuan. Sejatinya, nilai yang tertera di rapor atau ijazah seharusnya menggambarkan kemampuan siswa.

“Jangan main dongkrak atau mark up. Nilai rapor harus sesuai realita. Pemberian nilai harus fair dan jujur,” pungkasnya.

Ia akan mendorong DPRD untuk memanggil Di­nas Pendidikan Kota Pa­dang. “Kita berharap ka­wan-kawan di Komisi IV segera mempertanyakan kepada Kadisdik Kota Pa­dang tentang permasalahan ini,” jelasnya.

Lain lagi yang diungkap anggota Komisi IV DPRD kota Padang, Irawati Meu­rik­sa. Ia menilai sistem peme­rataan yang ditetapkan Pem­­ko Padang masih jauh dari yang diinginkan sehingga masalah yang terjadi saat ini banyak peserta didik daftar sekolah sesuai zo­na­si tidak diterima di se­kolah itu.

“Jumlah sekolah dengan jumlah anak tidak seimbang dan sistem yang sekarang perlu hendaknya di kaji ulang Pemko Padang meskipun penetapannya dari pusat,” ujar kader PAN ini.

Ia mengatakan, jika pas dan berlebih itu aman namanya serta perlu dipertahankan sistem. Pemerataan tersebut belum ada.

Menurutnya, sebaiknya sekolah negeri diprioritaskan pada anak-anak yang kurang mampu bukan anak beruang. Jadi semua peserta didik tertampung. “Saat sekarang, wali murid yang teriak itu kan yang tidak ada kepeang masuk swasta,” ucapnya.

Ia menyampaikan, perbaikan sistem pendidikan perlu dilakukan. Agar ma­sa­lah serupa tidak terulang dari tahun ke tahun.

Anggota Komisi IV DPRD Padang lainnya, Mu­khlis meminta Pemko untuk terus mengebut pembangunan RKB dengan dana yang ada ditambah anggaran pusat.

“Wako mesti prioritaskan pendidikan dulu selain pada bidang lainnya. Sebab pendidikan mencerdaskan generasi muda,” ujar kader De­mo­krat ini. (ade)