JAKARTA, METRO–Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan bahwa dengan kondisi harga komoditas yang tengah melonjak akibat konflik geopolitik, ini dapat menjadi keuntungan bagi sejumlah negara, termasuk Indonesia.
“Tingginya harga komoditas dunia saat ini adalah peluang bagi para petani di negara-negara berkembang besar seperti Indonesia, India, Brasil dan Tiongkok untuk menikmati keuntungan lebih,” jelas dia dalam acara The Biggest Trade Deal in the World dikutip, Minggu (29/5).
Menurutnya, ini akan menjadi ekuilibrium baru dalam perdagangan komoditas pangan dunia. “Jangan dirusak dengan menyalahkan salah satu negara, misalnya Tiongkok karena posisi dagang yang kurang menguntungkan. Bahaya kalau beberapa negara maju berkelompok untuk membenarkan standar ganda,” terang dia.
Hal yang dimaksud standar ganda oleh dia adalah negara-negara yang sudah maju menyalahkan dan mengganggu perdagangan bebas dunia, contohnya ketika mereka kurang diuntungkan posisi dagangnya terhadap suatu negara tertentu, seperti Tiongkok.
Padahal, dahulu ketika posisi dagang mereka diuntungkan sehingga petani di Amerika Serikat (AS), Eropa dan Jepang makmur, semua negara berkembang dipaksa membuka pasar mereka. “Harus ada kebersamaan dan kesetaraan kesempatan dalam perdagangan bebas dunia,” kata dia.
Mendag pun sempat berdebat cukup tegang dengan panelis lainnya yaitu CEO Suntory Holdings, salah satu produsen makanan dan minuman terbesar di dunia asal Jepang, Tak Miinami. Ia pesimis dengan situasi saat ini, khususnya karena Tiongkok menutup pasar karena kebijakan Zero-Covid yang diterapkan.
Sehingga Tiongkok, menurutnya, perlu dibatasi perannya dalam perdagangan dunia. Mendag menyayangkan pandangan tesebut, apalagi mengingat Jepang sudah merasakan menjadi negara maju.
Menurut dia, dunia harus mengakui fakta bahwa ketika Tiongkok mulai mendominasi perdagangan dunia, dampak positifnya dapat dirasakan seluruh masyarakat dunia dengan harga barang-barang yang semakin terjangkau.
“Kami di Indonesia sangat merasakan betul manfaatnya. Apalagi Tiongkok juga menjadi sumber utama transfer teknologi bagi negara-negara berkembang saat ini,” tegas dia.
Adapun, Tiongkok baru bergabung dengan WTO di tahun 2001, namun manfaatnya jauh lebih terasa dibandingkan perdagangan dunia didominasi oleh kapitalisme Barat. Untuk itu, biarkan saja harga pangan tinggi agar petani dapat meningkatkan produksinya.
“Menjadi sinyal agar petani dan peternak di negara-negara berkembang termasuk Indonesia meningkatkan produksi, sehingga nantinya harga akan turun dengan sendirinya karena pasokan melimpah,” pungkas dia. (jpg)





