SAWAHLUNTO/SIJUNJUNG

Tekan Kasus Stunting jadi PR Pemkab Sijunjung, Sebanyak 31 Balita di Kecamatan Kupitan Berisiko

0
×

Tekan Kasus Stunting jadi PR Pemkab Sijunjung, Sebanyak 31 Balita di Kecamatan Kupitan Berisiko

Sebarkan artikel ini
Menekan Angka Stunting Jadi PR Pemkab Sijunjung
CEGAH STUNTING—Dalam upaya menekan angka stunting menjadi pekerjaan rumah (PR) Pemkab Sijunjung, karena puluhan anak di Kecamatan Kupitan berpotensi stunting.

SIJUNJUNG, METRO–Persoalan stunting a­tau gagal tumbuh pada anak masih menjadi catatan khusus di Kabupaten Sijunjung. Meskipun se­jumlah program dicetuskan pemerintah daerah untuk menekan stunting, namun angka tersebut terus mengalami kenaikan dari tahun sebelum­nya.  Sebelumnya, Bupati Sijunjung Benny Dwifa membahas persoalan stun­ting saat menggelar forum konsultasi publik (FKP) rancangan awal RP­JMD. Di hadapan jajaran OPD di lingkungan Pem­kab Sijunjung, Benny Dwifa menekankan, agar persoalan harus dituntaskan.

“Sejak Covid-19 angka stunting kita meningkat. Ini jadi PR bagi kita semua, karena persoalan stunting bukan tanggung jawab dinas kesehatan saja, tapi tanggung jawab pemerintah daerah. Kita butuh kolaborasi dan kerjasama dengan organisasi maupun instansi lainnya,” tegas Benny.

Namun, baru-baru ini sebanyak 31 balita di Kecamatan Kupitan beresiko stunting atau gagal tumbuh. Jumlah tersebut ter­sebar di beberapa nagari yang ada. Kadis Kesehatan Kabupaten Sijunjung, drg.Ezwandra,Msc mengatakan jumlah tersebut baru tercatat di satu kecamatan dari delapan kecamatan yang ada di Kabupaten Sijunjung.

“Data stunting kita saat ini berada di angka 30,1 persen, tersebar di seluruh kecamatan yang ada, dan itu bukan hanya di Kecamatan Kupitan. Data 31 Balita tersebut masih beresiko, artinya masih diwaspadai, belum divonis stunting,” tutur Benny.

Baca Juga  Gelanggang Arang 2024, Kemendikbud Kerjasama dengan Pemko

Dijelaskan, stunting dan gizi buruk dua hal yang berbeda. Tolak ukur stunting  berdasarkan umur per tinggi badan, sedangkan gizi buruk itu umur per berat badan pada anak. “Banyak dampak yang ditimbulkan jika anak terkena stunting, terutama terkait dengan intelejensi anak, kemampuan kognitif anak dan penyebab penyakit-penyakit regeneratif nantinya,” papar Benny.

Tak dipungkiri bahwa angka stunting mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. “Ada kenaikan sekitar 7 persen dari tahun sebelumnya. Tahun 2021 berada di angka 23,4 persen. Stunting ini PR kita bersama, karena semua pihak berperan disini,” ujar Benny, Minggu (22/5).

Data tersebut, lanjutnya, berdasarkan hasil survey study status gizi yang dilakukan Kemenkes. Persoalan stunting dilatarbelakangi oleh beberapa fakto diantaranya, pola asuh, pola makan dan sanitasi. “Tiga aspek ini memiliki cakupan yang luas dan banyak pihak yang berperan di sana,” sebut Kadis Kesehatan.

Sebelumnya, perma­salahan stunting di Sijunjung langsung dihandle BAPPPEDA selaku stakeholder. “Sekarang berada pada dinas pengendalian penduduk dan KB. Namun banyak OPD yang berperan untuk penanganan stunting ini, seperti dinas kesehatan, dinas pendidikan, DPMN serta peran dari masing-masing dinas,” ungkap Benny.

Baca Juga  Lomba Puisi Tingkat SD/MI se Sumbar, Arkan Said Ramadhan Raih Juara I

Pada bidang kesehatan, pengendalian angka stunting dilakukan melalui Posyandu. “Salah satu cara kita mengontrol stun­ting itu melalui posyandu, di sana perkembangan anak bisa dipantau, baik itu pola asuh, pola makan dan sebagainya. Namun da­lam dua tahun terakhir intensitasnya berkurang karena dampak Covid-19,” terang Benny.

Sedangkan stunting ju­ga dipengaruhi dari bebe­rapa faktor, termasuk eko­nomi, kesehatan, ling­ku­ngan dan sumber daya ma­nusia. “Karena dipe­nga­ruhi ba­nyak faktor tadi sehingga juga melibatkan banyak sek­tor, faktor eko­nomi ber­pe­ngaruh, faktor kesehatan, lingkungan dan SDM orang tua itu sendiri,” jelasnya.

Meski demikian, pihaknya mengatakan bahwa penekanan angka stun­ting merupakan salah satu target yang tertera dalam RPJMD. “Jadi ditargetkan pada tahun 2024 nanti ang­ka stunting di Sijunjung sudah tinggal 14 persen. Tentunya ini butuh peran kita bersama untuk menekan angka tersebut,” tambahnya. (ndo)