SOLOK/SOLSEL

Humas Pemkab dan Wartawan Solsel Belajar ke Garut

0
×

Humas Pemkab dan Wartawan Solsel Belajar ke Garut

Sebarkan artikel ini

Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Solok Selatan (Solsel) bersama wartawan yang bertugas di daerah tersebut melakukan studi koperatif ke Kabupaten Garut, Jawa Barat 28 November-1 Desember. Hal ini untuk mencari tahu manfaat atas potensi energi panas bumi (Geothermal). Dimana Solsel dalam proses pengerjaan untuk menghasilkan listrik, sementara di Kabupaten Garut sudah menghasilkan.
Rombongan Solsel ini berkunjung ke Kabupaten Garut yang dinilai memiliki kondisi geografis daerah yang persis sama. Hal ini guna menjawab berbagai kekhawatiran atau pertanyaan yang berkemungkinan muncul dari masyarakat Solsel akan dampak dari proyek geothermal di daerah yang berjuluk Nagari Saribu Rumah Gadang ini.
Kunjungan sebentuk sharing informasi itu, dilakukan Pemkab melalui Sekretariat Daerah Bagian Humas bersama sejumlah awak media. Kedatangan rombongan Pemkab Solsel disambut, Asisten III Pemkab Garut, Asep Faruk dan Kadis Kominfo Garut, Nurdin Yana serta jajaran Humas Pemkab Garut.
Kabag Humas Pemkab Solsel, Firdaus Firman mengatakan, Kabupaten Garut dan Solsel dinilai memiliki kondisi geografis daerah yang persis sama. Kedua daerah ini sama-sama berada di kaki gunung dengan memiliki potensi energi panas bumi yang pemanfaatannya bakal ditujukan sebagai sumber kesejahteraan hidup bagi masyarakat dan daerahnya.
Potensi geothermal di Garut sendiri, telah berproduksi dan manfaat pengusahaannya telah dirasakan oleh masyarakat sekitar. “Kunjungan kami ke Garut ini karena daerah ini persis sama dengan Solsel. Baik kondisi geografis daerah dan potensi alam maupun pariwisatanya. Sama berada di kaki gunung dan memiliki potensi panas bumi juga,”ujar Kabag Humas Pemkab Solsel, Firdaus Firman didampingi Kasubag Protokoler, Riri Tyhson.
Solsel berada di kaki Gunung Kerinci, sedangkan Garut berada di kaki Gunung Papandayan. Akibat berada di kaki gunung ini, kedua daerah itu sama-sama memiliki potensi panas bumi. “Panas bumi ini akan mampu meningkatkan perekonomian bagi masyarakat, dimana yang telah dirasakan oleh masyarakat Garut. Ini nantinya yang akan dirasakan oleh Solsel,” bebernya.
Menurutnya, selain mengkaji tentang dampak geothermal, Solsel dan Garut juga sama memiliki destinasi wisata air panas. Dimana saat ini sudah sama-sama memiliki objek wisata air panas baik secara besar maupun kecil. Dari potensi air panas ini, pasti mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung, demikian juga akan dampak ekonominya bagi masyarakat. “Solsel sebagai kabupaten yang masih tertinggal, tentu ingin maju seperti daerah Garut. Ini alasan kami ke sini, berharap dari kunjungan yang dilakukan akan mampu membawa dampak perubahan,” ungkapnya.
Sementara itu, Asisten III Pemkab Garut, Asep Faruk menyebutkan, energi panas bumi di Garut telah lama berproduksi dan menghasilkan listrik yang telah dinikmati masyarakat di Jawa Barat. Keberadaannya juga turut menyumbang PAD bagi Garut dengan sistem bagi hasil dengan perusahaan pengelola. “Sektor PAD Garut diyakini mencapai Rp550 miliar per tahun. Jumlah ini termasuk dari sumbangsih geothermal, wisata dan industri lainnya. Kita di Garut punya APBD sekitar Rp4,3 triliun, bersumber dari PAD, Dana Alokasi Umum (DAU) dan dana perimbangan,” katanya.
Pada kunjungan tersebut, Pemkab Garut turut mengajak rombongan Solsel mengunjungi perusahaan PT Star Energy sebagai perusahaan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Darajat, Garut.
Perwakilan PT Star Energy, Rudi memaparkan manfaat atas keberadaan proyek panas bumi yaitu ramah lingkungan karena tidak menyebabkan polusi udara sebagaimana dengan pemanfaatan bahan bakar. Selain itu, bisa menghasilkan listrik yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat serta membuka lapangan kerja bagi putra daerah Garut.
“Perusahaan kita ini berdiri pada tahun 1984 yang kemudian diakusisi dari Chevron. Unit pembangkit Darajat, berada di ketinggian 1.700 sampai 2.000 meter diatas permukaan laut (mdpl), total karyawan 120 orang dengan tenaga kontraktor hingga 400 orang,” sebutnya.
Star Energy Darajat, beroperasi di lahan seluas sekitar 5.000 hektare, terdiri dari 49 sumur dan 39 merupakan sumur aktif. Mampu menghasilkan daya sebesar 271 MW dengan panjang pipa keseluruhan 21 kilometer. “Pada tahun 2028 kami bertekad menghasilkan daya sebesar 1.200 MW,” jelasnya.
Diakui Rudi, pada mula rencana pengusahaan energi panas bumi di Garut mendapat berbagai penolakan dari masyarakat. Namun, dengan pendekatan dan komunikasi yang baik, kemudian merangkul masyarakat dalam berbagai aspek kegiatan sosial, Star Energy di Darajat akhirnya diterima.
Sementara panas bumi sendiri tidak berdampak negatif ke lingkungan termasuk ke hewan-hewan di sekitarnya. Justru masyarakat yang kerap merusak lingkungan dengan penebangan pohon dan menangkap binatang-binatang di hutan. “Mengantisipasi itu, kita kerap membuat program sosial bekerjasama dengan pihak ketiga. Tentu melibatkan masyarakat. Seperti menanam pohon atau program pelestarian habitat hewan,”pungkasnya. (afr)