SAWAHLUNTO, METRO–Pimpin Apel Siaga Tim Pendamping Keluarga (TPK) Tingkat Kota Sawahlunto Sekretaris Daerah (Sekda) Ambun Kadri secara daring di aula Dinkesdalduk-KB, Rabu (13/5). Tim Pendamping Keluarga (TPK) mendapat fungsi salah satunya untuk memprioritaskan pencegahan dan penanganan stunting (gangguan tumbuh kembang anak karena masalah gizi).
Sekda Ambun Kadri menyebut, meski pun angka stunting Sawahlunto hanya di kisaran 6,1 persen pada 2021 kemarin, namun tidak boleh membuat pencegahan dan penanganannya menjadi lalai dan lemah. “Kita tentu bersyukur angka stunting kita termasuk rendah. Namun tentu tidak berarti kita bisa lengah,” kata Ambun.
Untuk itu Ambun Kadri, menyampaikan program yang dilaksanakan melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK) saat ini yaitu dengan melakukan pendampingan pada keluarga beresiko stunting.
“Target sasaran untuk pendampingan keluarga beresiko stunting ini adalah ; calon pengantin, pasangan usia subur, ibu hamil dan menyusui serta anak usia 0-59 bulan,” ujar Ambun.
Dikatakan, penanganan kaus stunting jangan diabaikan, karena dampak lain stunting pada anak di antaranya adalah menjadi lebih mudah sakit, kemampuan kognitif berkurang. Kemudian, postur tubuh tak maksimal saat dewasa, fungsi tubuh tidak seimbang dan ketika tua berisiko terserang penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi hingga obesitas.
Stunting adalah kondisi ketika balita memiliki tinggi badan di bawah rata-rata. Hal ini diakibatkan asupan gizi yang diberikan, dalam waktu yang panjang, tidak sesuai dengan kebutuhan. Stunting berpotensi memperlambat perkembangan otak, dengan dampak jangka panjang berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas.
Stunting dan permasalahan kekurangan gizi lain yang terjadi pada balita erat kaitannya dengan kemiskinan. Stunting umumnya terjadi akibat balita kekurangan asupan penting seperti protein hewani dan nabati dan juga zat besi. Pada daerah-daerah dengan kemiskinan tinggi, seringkali ditemukan balita kekurangan gizi akibat ketidakmampuan orang tua memenuhi kebutuhan primer rumah tangga. (pin)






