Kalau ikhtiar itu adalah usaha dalam kemampuan insan, maka doa bukanlah pelengkap ikhtiar tapi selimut ikhtiar dan dia hadir dalam keputus asaan terhadap ketergantungan kepada makhluk.
Bila dia hanya dijadikan sebatas pelengkap saja, bagaimana “keyakinan tak berkucak” akan diraih untuk menggapai ijabah dari Allah swt sebagaimana sabda Rasulullah saw:
”Berdoalah kamu sekalian kepada Allah swt dalam keadaan yakin dengan ijabah dari Allah swt” (HR. al-Tirmidzi)
Begitu pula “terlepasnya manusia dari inayah Allah swt serta tersandarnya mereka hanya kepada diri sendiri”, tak akan bisa dihindari. Padahal itu adalah keputusan Allah swt yang sangat berbahaya untuk seorang insan.
Karena itulah, Rasulullah saw memohon kepada Allah swt agar jangan diperlakukan demikian sebagaimana doa beliau :
”Maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku walaupun sekejap mata”. (HR. Ahmad)
Merasa Sempit di Nan Lapang
Kelapangan dada insan ternyata bisa menampung tuntunan hidup yang meliputi seluruh aspek kehidupan yaitu Islam.
Jadi mengherankan, bila ada yang menolak sebagian petunjuk syariat dan sesak nafasnya ketika dituntut mengamalkan kesempurnaan ajaran Islam padahal dia mengaku seorang muslim.
Mari sama-sama mengambil itibar dari firman Allah swt:
“Maka apakah orang-orang yang dilapangkan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (di samping itu, ada orang yang mengeras hatinya)? Maka celakalah, orang yang telah mengeras hatinya untuk berdzikir (mengingat) Allah. Mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata”. (QS. al-Zumar 39:22). (*)






