BERITA UTAMA

Usia

0
×

Usia

Sebarkan artikel ini
Akhyar Fuadi (Pimpinan PPTI At-Taqwa Canduang)

Hari-hari belakangan saya ogah bercermin. Lipatan-lipatan keriput di tepi mata, uban yang makin kentara bertabur di sekujur kepala, dan tubuh yang tak begitu kuat lagi me­nahan angin malam, be­ga­dang, dan menyesap bergelas-gelas kopi, mem­buat saya mafhum bahwa sesuatu yang be­sar tengah saya alami: menua. Tidak berapa la­ma lagi usia saya 40. Ting­gal menghitung hari, kata Mbak Kridayanti da­lam lirik lagunya.

Dua orang Imam, yai­tu Imam Jalal Al-Mahalli dan As-Suyuthi, di dalam tafsir mereka, mengo­men­tari Surah Al-Ahqaf ayat 15 dengan komentar yang mendirikan bulu ro­ ma: “Seseorang hidup (hingga apabila dia telah dewasa) yaitu sempurna kekuatan, logika, dan pandangannya, minimal usia 33 atau 30 tahun, (dan umurnya sampai 40 tahun) kesempurnaan usia, yaitu puncak kematangan”.

Seturut penjelasan ke­dua Imam tersebut, 40 ta­hun adalah puncak kemata­ngan dalam berpikir, dalam keluasan pandangan, dan kematangan emosional. Secara fisik, tanda-tanda orang yang bakal meng­genapi usia 40 sudah mulai terlihat pada badan-diri ini, secara mental dan kema­tangan, masih jauh api dari panggang.

Di antara beberapa nasehat Rasulullah SAW kepada umatnya, “Sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat (untuk akhirat) merupakan tanda bahwa Alla SWT berpaling dari hamba. Dan sesungguh­nya orang yang telah kehila­ngan sesuatu dari umurnya untuk selain ibadah, tentu sangat layak baginya keru­gian yang panjang. Dan orang umurnya lebih dari 40 tahun sementara amal kebaikannya tidak melebihi amal keburukannya maka bersiap-siaplah masuk ne­raka”.

Baca Juga  Ustaz Arifin Ilham Tulis Surat Wasiat, Siapkan Kain Kafan Jelang Wafat

Usia tidak pernah ber­dusta tentang segala yang fana di badan diri. Dunia bekerja dengan cara mem­perbarui dirinya terus me­ne­rus, dunia terus berbe­nah dan bersolek. Ia men­ciptakan ilusi pada semir penghitam rambut yang sejatinya tidak lagi hitam, pada tebal make up agar terlihat muda, pada nyala lipstik seumpama bibir ra­num sempurna dari remaja usia, pada berbagai laya­nan kecantikan yang me­na­ngani bagaimana meng­hi­langkan kerutan, menun­da penuaan, meremajakan kulit, dan mengabadikan cantik yang benar-benar tidak pernah abadi itu.

Dan orang-orang meng­hidupi atau menghibur diri mereka dengan satu ilusi ke ilusi lainnya atas masalah penuaan yang tak kunjung bisa ditangkal ini. Pujian yang mana yang lebih me­lambungkan perasaan dari­pada ucapan ini: “Anda terlihat sepuluh tahun lebih muda”. Atau ini: “Astaga! Anda wajah Anda makin muda dan terlihat berca­haya saja.” Padahal aslinya mungkin semengerikan kuburan tak terawat.

Mengacu ke batas usia yang telah dijelaskan Ra­sulullah di atas, bahwa batas usia perubahan ma­nu­sia itu ialah 40. Dan ma­sa sepanjang itu lebih dari cukup untuk memproses banyak sekali hal dalam diri. Namun, sialnya, usia biologis yang terus me­nanjak tidak selalu ber­banding lurus dengan usia kronologis.

Baca Juga  Sopir Ngantuk, Mobil HRV dan Dump Truk Bertabrakan, Tiga Orang Luka-luka hingga Dirujuk ke Padang

Di luar sana, kita akan dengan gampang bertemu seorang bocah lima tahun yang terjebak di tubuh pria 36 tahun, seorang remaja putri 16 tahun terjebak pada tubuh ibu-ibu 43 ta­hun, seorang anak kecil delapan tahun terjebak di tubuh bangkotan berusia 67.  Artinya, usia kronologis atau usia pematangan psi­kologis mandeg dalam diri seseorang, sehingga, sei­ring bertambah umur, per­spektifnya itu ke itu juga, ia makin malas dan me­lem­pem untuk belajar.

Lalu, untuk memberes­kan hal-hal kesemrawutan dalam diri ini, apa saja yang mesti dilakukan? Perta­nyaan-pertanyaan teknis seperti ini lazim ditanyakan dan dijawab sendiri oleh benak.

Namun, dari seba­nyak itu kemungkinan jawa­ban­nya, kira saya salah satu jawa­ban paling meya­kin­kan adalah bercermin. Ya, su­dah saatnya kita bercer­min setiap pagi, se­tiap siang, dan malam, mem­perhatikan detil wa­jah, perawakan, dan men­cer­mati segala detil kecil yang satu pun tidak boleh ter­lewatkan, sembari mem­­batin:

“Seandainya hari ini adalah hari terakhirku, maka sudah sepatutnya kulakukan segala hal yang mesti kulakukan, kubenahi segala yang perlu ku­be­nahi, sekuat-kuatnya, se­patut-patutnya.”

Dan untuk ini Banginda Rasul tidak absen mengi­ngatkan kita: “Mintalah fatwa ke hatimu sendiri.” (*)