BERITA UTAMA

Puasa Mengantisipasi Perbuatan Buruk Sangka

2
×

Puasa Mengantisipasi Perbuatan Buruk Sangka

Sebarkan artikel ini
Evi Yandri Rj Budiman (Anggota DPRD Sumbar).

PUASA yang dilaku­kan umat muslim pada Bulan Suci Ramadhan, juga mencakup hal yang terkait dengan perbaikan batin (hati). Tidak cukup hanya selesai dengan urusan fisik saja. Karena jika ini yang terjadi, maka yang didapatkan hanya­lah lapar dan dahaga.

Oleh karenanya, pua­sa juga harus melibatkan urusan batin, terkait de­ngan hati yang ikhlas dan kepercayaan yang pe­nuh. Dengan demikian, setiap yang berpuasa dengan penuh kepercayaan dan keihlasan, akan men­da­patkan ampunan untuk dosa dosa yang telah dila­kukan sebelumnya.

Salah satu puasa batin yang perlu dilatih saat berpuasa itu adalah ja­ngan­lah berburuk sangka kepada siapa saja. Terma­suk terhadap saudara kita sendiri. Termasuk berburuk sangka terhadap kete­ta­pan Allah SWT, karena manusia harus yakin bah­wa ketetapan Allah SWT adalah hal terbaik bagi ummat manusia.

Dalam Islam kondisi ini biasanya diistilahkan de­ngan istilah khusnudzon (berbaik sangka) atau da­lam bahasa sekarang sering diitilahkan positive thinking (berfikir positif atas semua keadaan).

Abdullah Tuasikal (2008) pada setiap keadaan yang tidak baik bagi manusia itu terdapat beberapa rahasia Allah SWT. Mengangkat derajat karena kesabaran­nya, juga dapat melebur dosa yang lalu bagi yang ihlas menerima keadaan. Pasti ada rahasia di setiap keadaan yang ditetapkan Allah SWT . Oleh kare­na­nya, kewajiban ummat ma­nu­sia itu menerima se­mua kete­tapan dengan lapang hati.

Difirmankan dalam su­rat al Fath 12 : Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang orang mukmin, tidak sekali kali akan kem­bali kepada keluarga mere­ka selama lamanya (terbu­nuh dalam peperangan) dan syaitan telah menja­dikan kamu memandang baik dalam hatimu persang­kaan itu, dan kamu telah menyang­ka dengan sang­kaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.

Kedua, mengingkari qodlo dan qodar Allah yai­tu menyatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi di alam ini yang diluar kehen­dak dan takdir Allah SWT . Ketiga, mengingkari ada­nya hikmah yang sempur­na dalam taqdir Allah.

Maka puasa pada bulan suci Ramadhan tidak hanya semata-mata menahan naf­su lahiriah sperti haus dan lapar. Seperti makan, mi­num dan berhubungan intim di siang hari. Dalam ber­puasa juga hendaknya me­na­han diri dari nafsu batin, seperti menggunjing, men­cela, bergosip, berkata dus­ta hingga mengadu domba.

Imam Nawawi dalam kitabnya, Riyadlush Sha­lihin menyebutkan, Ra­sulullah SAW senantiasa menjaga anggota tubuh­nya dari perbuatan buruk dan perbuatan yang me­nyim­pang. Hadis yang ber­sum­ber dari Abu Hurairah RA, meriwayatkan Rasu­lullah SAW bersabda, ‘’Di saat seseorang di antara kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan menyim­pang. Jika ada se­se­o­rang yang memakinya atau me­mukulnya, hendak­lah ia-orang yang berpua­sa-me­ngu­cap­kan, ‘Se­sung­guhnya saya sedang ber­puasa.’ Hadis Muttafaqun alaihi.

Imam Nawawi me­nga­takan, Rasulullah SAW mengingatkan, orang yang berpuasa sebaiknya me­nyi­bukkan tubuh dan lisan­nya untuk kebaikan, de­ngan cara membaca ayat-ayat suci Alquran serta berzikir.  Selain juga bersa­lawat kepada nabi besar Muhammad SAW, mudah mudahan kita menda­pat­kan sadarnya kelak.

Rasulullah SAW mem­peringatkan seseorang yang berpuasa, tetapi tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan bohong. Puasa seseorang tersebut tidak akan mendapatkan pahala sama sekali.

Hadis Rasulullah SAW yang bersumber dari Abu Hurairah RA mengatakan, Nabi Muhammad SAW ber­sabda, ‘’Barangsiapa tidak me­ninggalkan ucapan bo­hong dan melakukan ke­bo­hongan, maka Allah SWT tidak membutuhkan dia mes­ki meninggalkan makan dan minum’’ (HR: Bukhari). (**)