METRO PADANG

Antisipasi Terorisme dan Radikalisme selama Mudik Lebaran, Gubernur Sumbar Instruksikan RT Berlakukan Lapor 2×24 Jam

0
×

Antisipasi Terorisme dan Radikalisme selama Mudik Lebaran, Gubernur Sumbar Instruksikan RT Berlakukan Lapor 2×24 Jam

Sebarkan artikel ini
KETERANGAN PERS— Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah bersama Sekdaprov Sumbar, Hansastri, Pimpinan DPRD Sumbar, Irsyad Safar, Kepala Biro Adpim Setdaprov Sumbar, Maifrizon menggelar jumpa pers, Rabu (20/4) di Istana Gubernur.

SUDIRMAN, METRO–Diprediksi Idul Fitri 1443 Hijriah, sekitar 1,8 juta perantau Minang akan pulang kampung ke Sumbar. Dengan jumlah yang cukup besar ini, potensi paham radikalisme sangat rawan masuk ke daerah ini.

Untuk mendeteksi masuknya personal yang membawa pa­ham radikalisme ke daerah ini selama mudik Lebaran ini, Gubernur Sumbar, Mah­yeldi Ansharullah me­minta bupati dan wali kota hingga pemerintahan te­ren­dah tingkat RT, mem­ber­lakukan lapor 2×24 jam ke­pada orang baru yang datang atau masuk ke ling­k­ungannya.

“Radikalisme dibawa dari personal dari luar. Kita tekankan bupati dan wali kota hingga tingkat RT meng­hidupkan lapor 2×24 jam bagi warga yang baru datang,” tegas Mahyeldi, saat jumpa pers dengan awak media, Rabu (20/4) di Istana Gubernur.

Hadir mendampingi Mah­yeldi saat jumpa pers tersebut, Sekdaprov Sumbar, Hansastri, Pimpinan DPRD Sumbar, Irsyad Safar, Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setdaprov Sumbar, Maifrizon.

Mahyeldi berharap dengan adanya pemberlakukan lapor 2×24 jam ini, dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap paham radikal dan ikut dalam upaya meminimalisir dan mencermatinya.

Selain menangkal radi­kalisme, pemberlakukan lapor 2×24 jam bagi warga yang baru datang, juga menyikapi adanya temuan Polri yang menyebut ada sebanyak 1.125 orang teroris kelompok Negara Islam Nusantara (NII) di Sumbar. Mereka tersebar di Kabupaten Tanah Datar dan Dharmasraya.

“Untuk menangkal ra­di­kalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, perlu ada kerjasama seluruh pihak. Kita libatkan forkopimda. Perlu ada upaya meningkatkan pemahaman kepada masya­ra­kat dengan melakukan pe­nyuluhan secara bersama melibatkan forkopimda,” tegasnya.

Upaya lain untuk men­cegah masuknya teroris dan radikalisme, tambah Mahyeldi, di tingkat provinsi, kabupaten kota dan forkopimda juga dilakukan sharing informasi.

“Untuk sharing informasi ini sudah kita lakukan de­ngan adanya pertemuan bulanan dan waktu tertentu. Kita harus bahu membahu dengan TNI dan Polri, untuk mendeteksi dan menimalisir potensi radikalisme ini,” harapnya.

Khusus temuan Polri adanya terorisme kelompok NII di Sumbar, Mahyeldi menilai tidak mungkin jumlahnya sebanyak 1.125 orang seperti yang disampaikan oleh Mabes Polri. Namun, Mahyeldi menyebutkan, kemungkinan me­reka ini datang dari luar. Karena kelompok NII ini pusatnya bukan di Sumbar tetapi daerah lain.

“Kepolisian sudah punya peta untuk itu. Kita sikapi temuan NII ini dengan turun ke sekolah-sekolah untuk menyampaikan pesan-pesan kepada ma­sya­rakat, agar waspada dengan gerakan terorisme dan radikalisme,” terangnya.

Mahyeldi menegaskan, di Sumbar tidak ada bibit pemberontak. Meski ada peristiwa sejarah PRRI, namun gerakan PRRI bukan memisahkan diri dari Indonesia.

“Justru Tokoh Sumbar hadir dan membesarkan negara ini. Istilah Indonesia yang memunculkan Tan Malaka. Dalam sejarah kemerdekaan republik ini ada nama Agus Salim, M Ya­min, Sutan Sjahrir. Masa kemerdekaan, munculnya NKRI, tokohnya dari Minang,” tegasnya.

“Ini sejarah. Sehingga masyarakat Sumbat adalah orang yang cinta NKRI dan persatuan. Tidak kurang dua ribu pejuang dan pahlawan dari Sumbar terlibat mempertahankan NKRI. Masyarakat Sumbar berada di depan mempertahankannya,” tegasnya.

Sebelumnya, diinformasikan Polri, menyebut ada sebanyak 1.125 orang teroris kelompok NII berdiam di Sumatera Barat (Sumbar). Mereka tersebar di Kabupaten Tanah Datar dan Dharmasraya.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan menyebutkan, dari 1.125 tersebut, sebanyak 400 orang di antaranya diketahui berstatus sebagai personel aktif. Sisanya sudah dibaiat yang siap aktifkan kapan saja.

Ramadhan merinci, dari 1.125 anggota NII itu sebanyak 833 orang ada di Kabupaten Dharmasraya. Sisanya 292 anggota berada di Kabupaten Tanah Datar.

Lebih lanjut, Ramadhan mengatakan jaringan NII sudah tersebar luas di Indonesia. Sebab, anggota NII ini tidak hanya ada di Sumbar, tapi juga di DKI Jakarta, Jawa Barat, Bali, hingga Maluku.

Hingga saat ini ada 16 tersangka teroris jaringan NII yang ditangkap di Sum­bar. Densus 88 turut me­ngamankan sejumlah barang bukti dari penang­kapan tersebut.

NII Rekrut Anak-anak

Sebelumnya, Polri me­nyebut kelompok NII tak memandang usia dan jenis kelamin saat merekrut ang­gota. Ada 77 anak di bawah usia 13 tahun yang direkrut dan dicuci otak oleh NII.

Selain itu, Ramadhan membeberkan ada 126 orang dewasa anggota NII yang diduga sudah direkrut sejak masih kecil. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk mengetahui jaringan NII. (fan)