SAWAHLUNTO/SIJUNJUNG

DKPBP Sawahlunto Ngabuburit Kunjungi Bangunan Bersejarah

0
×

DKPBP Sawahlunto Ngabuburit Kunjungi Bangunan Bersejarah

Sebarkan artikel ini
NGABUBURIT— Peserta ngabuburit mengunjungi lokasi wisata Sawahlunto Heritage, melihat lokasi bangunan bersejarah sejak zaman kolonial yang masih bertahan dari gempuran iklim.

SAWAHLUNTO, METRO–Dinas Kebudayaan Pe­ninggalan Bersejarah dan Permuseuman (DKPBP) Ko­ta Sawahlunto menggelar ngabuburit dilanjutkan berbuka bersama bareng insan Pers, Komunitas seni budaya dan organisasi kemasyarakatan, Senin (18/4).

Kepala Dinas Kebudayaan Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto Hilmed SPt MM mengungkapkan, kegiatan ini diadakan d­a­lam memperingati Hari Warisan Dunia dengan te­ma ”Heritage and Climate”.

”Artinya bagaimana bangunan-bangunan bersejarah yang ada saat ini merupakan warisan dunia yang bisa bertahan dari gempuran cuaca dan iklim. Strategi perawatan, pemeliharaan dan perbaikan yang terbaik untuk mempertahankan kota Sawah­lunto,” ujar Hilmed.

Menurut Hilmed, dalam mewujudkan Sawahlunto menjadi Kota Warisan Dunia versi Unesco butuh kerjasama dari berbagai pihak, koordinasi baik yang terjalin dari segala lini, mulai dari tingkat pusat, propinsi dan kota. ” Informasi saat ini persiapan dari Kota Sawahlunto su­dah 100 persen, 16 syarat yang diberikan Icomos sudah dipenuhi dan telah ada sampai ke Kota Paris di Perancis. Selanjutnya kita tinggal menantikan proses dari pusat dan pro­vinsi. Harapan kita dalam waktu dekat semua taha­pan dan proses bisa diraih dan selesai tepat waktu,” kata Hilmed.

Dalam kesempatan a­cara ngabuburit tersebut, para peserta berjumlah 137 orang dari berbagai unsur. Dimulai dengan mengunjungi museum Kereta Api dilanjutkan menuju Silo dan bangunan bersejarah dari zaman kolonial yang ada diareal tersebut. Se­terusnya peserta diajak melewati Lapangan Segitiga di mana terdapat beberapa bangunan peningga­lan Belanda berupa Kantor PTBA dan rumah-rumah para pembesar Belanda di zaman awal penambangan batubara oleh kolonial Belanda.

Kemudian, diakhiri de­ngan mengunjungi GPK (gedung pusat kebuda­yaan) Sawahlunto yang dulunya merupakan gedung para bangsa penjajah menghibur dirinya dan juga masyarakat pribumi. Di gedung GPK itulah para peserta berdiskusi terkait Kota Sawahlunto warisan dunia Unesco kedepannya, sambil menunggu waktu berbuka puasa. (pin)