BERITA UTAMA

Ramadhan dan Kepedulian

0
×

Ramadhan dan Kepedulian

Sebarkan artikel ini
Junir St Rajo Ameh (Mubaligh dan Penggiat Sosial).

KITA masih ber­syu­kur bisa bertemu dan men­jalankan ibadah pua­sa Ramadhan 1443 Hijri­yah atau tahun 2022 M ini. Betapa banyak saudara-saudara kita tak bisa ber­temu lagi dengan Rama­dhan tahun ini, karena ajal telah menjemput mereka.

Kita juga masih ber­syukur melaksanakan pu­a­sa tahun ini dengan se­hat tanpa kurang sesuatu apapun. Dan malamnya melaksanakan qiyamul laail, (ibadah sunat). Se­bab masih banyak sau­dara-saudara kita tidak bisa melaksanakan iba­dah puasa karena  terba­ring sakit atau tertimpa bencana, atau pun halangan lainnya.

Saat ini saudara-saudara  kita di Nagari Kajai, Kecamatan Talamau Kabupaten Pasaman Barat dan Nagari Malampah Kecamatan Tigo Nagari Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat  ditimpa ujian gempa pada 25 Februari 2022 silam.

Sampai saat ini mereka yang terdampak masih tidur ditenda dan beriba­dah seadanya di lokasi ka­wasan gempa, karena ru­mah mereka rubuh di ter­jang gempa berkekuatan 6,5 magnitudo. Kita semua berterima kasih kepada warga Sumatera Barat baik yang di kampung halaman maupun yang di rantau atas kepedulian dan soli­daritasnyan terhadap mu­sibah gempa yang dialami saudara-saudaranya di Pa­saman dan Pasaman Barat.

Begitu juga dari pe­merintah pusat dan berba­gai daerah kab/kota dari seluruh pelosok tanah air sontak mengirimkan ban­tuan kemanusian sebagai bentuk kepedulian sesama.

Hal itu pantas kita apre­siasi bahwa semangat ke­bersamaan dan gotong ro­yong bagi masyarakat ki­ta  masih tinggi. Dalam ba­hasa agamanya, umat Islam itu laksanakan satu tu­buh, jika salah satu ang­gota tubuh sakit maka yang lain ikut merasakannya. Dalam pepatah Minang, “Saciok bak anak ayam, sadanciang bak basi”. Ar­tinya, nilai-nilai kebersa­maan dan kepedulian itu masih tinggi bagi masya­rakat kita. Semoga itu se­mua jadi amal jariyah bagi mereka.

Baca Juga  Penjual Sabu Paket Hemat Ditangkap

Membantu adalah mo­men bagi kita umat Islam mencari ladang amal untuk tabungan di akhirat kelak. Apalagi di bulan Rama­dhan ini sebagai bulan mulia  yang ditungu-tunggu umat Islam se dunia.

Menginfakkan harta di jalan Allah akan dilipatkan gandakan oleh Allah SWT. Dalam pandangan Islam tidak ada orang miskin karena menginfakkan har­tanya.

Bahkan harta sebe­nar­nya dan hakiki itu adalah harta yang dipergunakan di jalan Allah. Harta yang diinfakkan akan menjadi penolong setiap manusia di akhirat nanti jika ajal sudah menjemput. Semen­tara harta yang dipergu­nakan pada jalan yang salah akan menjadi musuh bagi pemiliknya kelak, dan bahkan sering menjadi sangketa bagi ahli waris.

Betapa  kaya dan ting­ginya jabatan seseorang, maka hartanya dan jaba­tannya tak bisa menolong­nya, kecuali harta itu diper­gunakan di jalan Allah, salah satunya melalui infak atau sedekah ini.  Harta yang berkah adalah harta yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.

Begitu juga  jabatan, tak akan bisa menolong sese­orang kecuali dipergu­na­kan untuk menolong aga­ma Allah dan saudara-sau­daranya dalam kesusahan.

Janji Allah SWT terha­dap orang yang suka men­dermakan hartanya Allah akan melipatkan gandakan hartanya, sebagaimana disebutkan Allah SWT da­lam Al Quran Surat Al Ba­qarah ayat 261: “Perum­pamaan orang yang meng­infakan hartanya di jalan Allah seperti biji yang me­numbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkainya ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Ma­ha Luas Maha Me­nge­tahui”.

Puasa Ramadhan ada­lah menahan haus dan la­par dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Se­men­tara pada malam hari­nya juga ladang amal qia­mul lail, tarawih, witir dan tahajud, zikir dan sedekah.

Bahkan ada bonus ma­lam qadar jika kita beriba­dah pada malamnya lebih baik dari 1000 bulan. Seba­gaimana firman Allah da­lam surat Alqadr ayat 1-5 : “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran pada malam qadar. Tahukah ka­mu apakah malam kemu­lian itu? Malam kemulian itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu tu­run para malaikat  dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhan­nya untuk mengatur se­mua urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar”.

Baca Juga  Yayasan AHM Gandeng UGM Kembangkan Desa Berkelanjutan di Merapi

Seribu bulan setara dengan 83 tahun 4 bulan, yang melebihi umur rata-rata umat sekarang. Be­tapa ruginya kita kalau bulan Ramadan ini disia-siakan begitu saja, tanpa diisi amal banyak.

Puasa juga menga­jar­kan kepada kita betapa haus dan laparnya ketika kita tak makan seharian. Puasa mengajarkan kepa­da kita untuk merasakan  simiskin yang lapar sepan­jang hari. Sehingga akan menggugah kepedulian kita terhadap orang miskin dan kesusahaan.

Tidak saja ini, Rama­dhan juga membawa ber­kah bagi kaum dhuafa de­ngan adanya zakat fitrah yang harus ditunaikan se­tiap muslim menjelang be­rakhirnya Ramadhan 1 Syawal 1443.

Oleh karena banyak­nya hikmah Ramadhan, maka jangan kita sia-sia­kan momentum beribadah pada bulan Ramadan tahun ini. Sebab belum tentu kita akan bertemu dengan Ra­madhan tahun depan.

Mari kita pupuk rasa kepedulian sesama kita pada saat Ramadhan ini, di tengah zaman yang se­makin individualisme saat ini. Rahmat akan turun jika kita menjaga hubungan sesama manusia, saling memaafkan, dan menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Mari manfaatkan mo­mentun Ramadhan untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah atau tau­bat nasuha dari dosa-dosa yang telah kita kerjakan dimasa lalu. Sebab tak seorang pun yang tidak berdosa di dunia ini.Maka obatnya adalah hablum­minannaas, hablum­minal­lahu. Semoga. (**)