AIA PACAH, METRO – Dinas Kesehatan Kota Padang menggandeng Unicef, WHO dan RS M Djamil Padang untuk memberikan kesadaran pada masyarakat terkait pentingnya imunisasi campak dan rubella (MR). Pasalnya sampai saat ini realisasi MR di Kota Padang baru 49,3 persen dari 227 ribu anak yang ditargetkan.
“Sampai saat ini realisasi kita masih rendah. Untuk di Sumatera, kita adalah nomor dua terendah setelah Aceh,” sebut perwakilan Unicef pusat, Asmaniar Saleh di Balai Kota Padang, Rabu (28/11).
Asmaniar menambahkan, Unicef terus mengupayakan mengimunisasi anak tanpa campak dan rubella. Karena penyakit rubella dan campak sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kematian.
Dikatakannya, dari 57 juta anak yang divaksin di Pulau Jawa, vaksin campak dikatakan sudah mampu menekan angka kematian anak akibat virus ini hingga 199.500 jiwa. “Makanya kita imbau dari sekarang, mumpung lagi gratis, silahkan imunisasi anak kita segera sehingga dia memiliki kekebalan tubuh terhadap virus rubella dan campak,” ungkap Asmaniar lagi.
Sampai Desember 2018 ini sebut dia, vaksin MR masih gratis untuk anak umur di atas 7 tahun. Namun jika lewat dari limit tersebut, imunisasi MR hanya bisa diberikan gratis pada anak umur dibawah 7 tahun saja. Sementara untuk di atas 7 tahun, beli sendiri.
Sementara itu dokter spesialis anak RS M Djamil Padang, dr Rinang Mariko,SP, A (K) mengatakan, peningkatan jumlah pasien penderita campak dan rubella cukup signifikan pada tahun 2018. Dari Januari hingga November pasiennya menderita virus rubella dan campak adalah sebanyak 10 orang. Sementara pada 2016, ada sebanyak 4 orang dan 2017 sebanyak 8 kasus.
Rata-rata sebut Rinang, pasien yang terserang rubella dan campak ini sulit terdeteksi karena penyakit bawaannya macam macam. Seperti gangguan jantung dan katarak pada anak. Selain itu, juta ada anak yang kepalanya mengecil akibat terserang virus rubella, gizi buruk.
Sebagian besar sebut Rinang, kondisi pasien yang sampai ke RS M Djamil sudah dalam keadaan parah dan sudah komplikasi .”Makanya kita wanti-wanti. Beri segera vaksin pada anaknya. Anak saya sendiri juga saya vaksin semuanya. Karena kalau sudah sakit, tidak bisa diobati, lagi. Selain itu, biaya yang dibutuhkan hingga ratusan juta,” tutur Rinang.
Ia mencontohkan, anak yang terserang virus rubella sehingga menyebabkan gangguan jantung. Karena sudah tak bisa ditangani di RS M Djamil, terkadang harus di rujuk ke rumah sskit Harapan Kita Jakarta. “Biayanya tentu besar. Karena mungkin ada obat yang tak ditanggung BPJS,”katanya lagi.
Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Padang, Tutwuri Handayani menyebutkan, Dinkes Padang akan tetap turun ke sekolah-sekolah dan posyandu untuk memberikan vaksin. Hal itu untuk mewujudkan angka imunitas anak minimal 80 persen dari 100 persen yang ditargetkan.
“Sekarang kita masih rendah. Kita mau sosialisasi terus. Karena penggunaan vaksin ini sudah dibolehkan oleh MUI,” sebutnya.
Sesuai fatwa MUI, penggunaan vaksin rubella adalah mubah atau dibolehkan. Hal ini sama dengan imunisasi polio. Yaitu, sama-sama mubah. (tin)





