AGAM/BUKITTINGGI

Mimpi dan Harapan Masyarakat Garegeh jadi Kenyataan

0
×

Mimpi dan Harapan Masyarakat Garegeh jadi Kenyataan

Sebarkan artikel ini
Mimpi dan Harapan Masyarakat Garegeh Jadi Kenyataan
FOTO BERSAMA— Pengurus Masjid Masjid Tablighiyah Garegeh yang terdiri dari ninik mamak tokoh masyarakat dan unsur pemuda foto bersama usai peresmian masjid oleh mantan Wapres Jusuf Kalla.

BUKITTINGGI, METRO–Rumah Tampak Tapi Jalan Indak Tau”. Penggalan pepatah bijak inilah yang dihadapi Panitia Pembangunan Masjid Tablig­hiyah Garegeh. “Hal itu juga dirasakan pengurus masjid, niniak mamak, serta masyarakat Garegeh  ketika mempunyai mimpi ingin kembali menorehkan sejarah sukses para pen­da­hulunya,” ungkap anggota DPRD Kota Bukittinggi Dedi Fatria

Ia menjelaskan, hari Jumat 7 Agustus 1970 lantai satu Masjid Tablighiyah Garegeh yang lama lantai satunya diresmikan sang Proklamator Wakil Presiden pertama RI Drs H Mohammad Hatta. Begitu juga lantai duanya selesai  pembangunannya  pada tahun 1981 dan diresmikan Ulama besar asal Minangkabau Buya Hamka diiringi juga dengan Shalat Jumat kala itu.

Meskipun dengan dengan perubahan zaman, generasi muda Garegeh masih memegang  petuah Rasulullah SAW bahwa. “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus jauh lebih baik dari hari sekarang,”jelas Dedi.

Di samping itu Petuah itu menjadi spirit bagi ka­um muda Garegeh yang sepenuhnya didorong Ninik Mamak, Alim Ulama, Ca­diak pandai serta Bundo kan­duang dan urang tuo kampuang untuk mewujudkan pembangunan Masjid Garegeh yang lebih baik dari apa yg telah ditorehkan para pendahulunya.

“Kini generasi penerus Garegeh sudah bisa mewujudkan mimpi dan harapan membangun masjid yang besar dan megah mes­kipun belum 100 persen tuntas, namun sebagai ba­gian dari usaha meneruskan semangat para pen­dahulu,” kat Dedi.

Dengan terbangunnya masjid yang baru, dari segi fisik “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin” sudah tercapai namun dari segi tangung jawab menyamai para pendahulu, apakah bisa kembali diresmikan oleh mantan wakil pre­siden dapat terwujud.

“Rumah tampak jalan indak tau” menjadi fenomena baru yang menghantui para panitia,  pengurus dan niniak mamak serta cadiak pandai masyarakat Garegeh. Doa bertabur dan harapan berbaur dengan keraguan, tetapi keyakinan hati tetap gergelayut kepada Allah SWT. Alhamdulillah Doa tidak sia-sia dan harapan tampak tidak bertepuk sebelah tangan.

Baca Juga  Bupati Agam Tinjau SDN 19 Lurah Dalam, Plafon Ruang Kelas Ambruk, Minta Pemeriksaan Total Sekolah

Atas kuasa Allah, Allah SWT menunjukan jalan untuk bekerja keras dengan mengirim hambanya Mayjen TNI Purn M Fuad Basya Dt Tunaro  yang membawa pesan peresmian penggunaan Masjid Tablighiyah Garegeh akan dilaksanakan DR Drs H Muhammad  Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke -10 dan ke-12, yang saat ini secara struktural sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia. Sehingga secara mental spiritual hari ini lebih baik dari hari kemarin dapat diwujudkan.

Sebagai tindak lanjut untuk mencapai kesuksesan tugas berat yang akan dihadapi masyarakat , Mayjen TNI MFB. Datuak Tunaro menggandeng May­jen TNI Purn Endang So­diq untuk bergabung dalam team sukses acara peresmian pemakaian Masjid oleh Wakil Presiden RI ke 10 & 12.

Kedatangan dua jenderal yang keduanya juga mantan Kapuspen TNI itu seperti cahaya yang akan membawa harapan dan membongkar. “Mimpi ma­syarakat Garegeh yg selama ini hanya sekedar mimpi,” ujar Ketua Panitia, Dedi Fatria, Dt Mangkuto Sutan yang juga merupakan anggota DPRD Bukittinggi.

“Jujur” kata Ketua Panitia Dedi Fatria, pihaknya sangat galau karena belum pernah sama sekali mengurusi acara yang berhubungan dengan acara kenegaraan yang diawasi langsung Paspampres dan unsur protokoler pemerintah baik provinsi maupun kota serta unsur-unsur  TNI dan Polri di Sumbar apalagi persiapan hanya satu minggu.

Hal ini disampaikan langsung kepada Mayjen TNI MFB Datuak Tunaro saat memimpin rapat kesiapan panitia di Garegeh Bukittinggi. Penekanan Mayjen TNI MFB Dt Tunaro. “Kalau masyarakat Ga­re­geh berani mengundang Bapak JK”, maka harus siap kerja keras menyiapkan segala sesuatunya secara optimal, karena kegagalan kita menyelenggarakan kegiatan akan mempermalukan pemerintah kota dan Provinsi Su­matera Barat terutama lagi akan sangat mempermalukan niniak mamak, alim ulama serta Cadiak pandai se Kota Bukittinggi. Untuk itu semuanya harus siap bekerja keras melebihi panggilan tugas,” ucap Dt Tunaro.

Baca Juga  Longsor Landa Tiga Jorong di Palembayan, Akses Jalan Terputus

Ternyata benar, mimpi besar itu harus dibayar dengan kerja keras, untuk menghindari sekecil apa­pun kesalahan, mulailah aroma sikap tegas kemiliteran itu muncul,  mulai dari kegiatan administrasi, persiapan,  penyiapan tempat dan alat peralatan sampai   Geladi Kotor 1, Geladi kotor 2 dan Geladi Bersih.

Pada awalnya rasa capek, letih, lelah dan sekali juga kesal tanpa disadari kadang-kadang muncul, namun setelah semuanya selesai dan tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan berjalan dengan optimal. Barulah disadari arti dari ketegasan kedua Jenderal ini selama persiapan sangat dirasakan manfaatnya.

Sekretaris Panitia Pembangunan Abdul Salim juga merasakan dahsyatnya proses persiapan hingga peresmian penggunaan Masjid Tabligiyah Garegeh ini. Sangat seru. “Kapan lagi kita lihat  Masjid Tablighiyah pengurusnya dilatih seperti gaya tentara dan semua yang diajarkan Pak Fuad dan Pak Sodik sudah disaksikan banyak pemuda di Garegeh, Insya Allah ke depan kita akan jadikan ini standar pelaksanaan kegiatan,” ujar Salim.

Panitia Pembangunan Hamdi Gusmal/Topan menyampaikan sangat lega kegiatan ini tuntas kita laksanakan, awalnya terasa berat dikomandoi dua Jendral ini, Disipilin nya sangat tinggi, tapi kalau tidak seperti ini saya jamin kita kacau balau dalam persiapan yang hanya tujuh hari.

Sebelum kembali ke Jakarta, kedua Jenderal mantan Kapuspen TNI ini menyampaikan permohonan maafnya kepada masyarakat Garegeh terutama kepada Niniak mamak Pangulu Pucuak, Pangka Tuo Nagari dan Panga Tuo lainnya, alim ulama dan cadiak pandai yang mungkin tidak bisa menerima sikap dan tindakan persiapan yang dilakukan oleh beliau berdua.

Namun segala langkah dan tindakan yang diambil hanyalah semata- mata dengan tujuan untuk mencapai “ keberhasilan tugas ”, apalagi Mayjen TNI MFB. Datuak Tunaro sebagai niniak mamak Penghulu pasukuan Simabua Garegeh sangat paham tentang etika adat yang sangat menghormati hierarki kepe­mim­pinan “Bajanjang naiak batanggo turun”. (pry)