PITAMEH, METRO–Setelah dibuat merana dengan langka dan mahalnya minyak goreng (migor), kini solar pun makin membuat merana para sopir truk dan kendaraan yang terpaksa mengantre berjam-jam untuk mendapatkan solar di SPBU.
Hingga kini, antrean truk angkutan barang masih saja terjadi di sejumlah SPBU yang ada di Kota Padang. Sejumlah SPBU seperti di Jalan By Pass, Jalan Pitameh Kecamatan Lubuk Begalung (Lubeg), Jalan Sawahan, SPBU Khatib, SPBU Hadis Didong, SPBU Aiatawa, SPBU Simpang Kalumpang hingga SPBU Adinegoro, Lubukbuuaya dan dan SPBU lainnya terlihat antrean panjang truk-truk meluber di badan jalan, Selasa (15/3).
Bahkan tak ayal antrean truk angkutan yang cukup panjang dan meluber ke badan jalan tersebut membuat warga di pinggir jalan membuat pembatas di depan rumah dan tokonya. Tujuannya, agar truk-truk tersebut tidak parkir antrian di depan rumah dan toko serta tempat usahanya.
Pantauan POSMETRO, antrean truk di sejumlah SPBU tersebut memiliki jadwal tertentu. Tergantung kapan adanya stok BBM jenis solar di SPBU tersebut. Seperti SPBU di Jalan By Pass, yang antreannya sering terjadi siang hari.
Sementara, SPBU di jalan Pitameh, Kecamatan Lubeg antrean truk terjadi pada malam hari. Di SPBU jalan Sawahan, Khatib, Hadis Didong, Aiatawa dan Adinegoro, antrean truk terjadi pada sore hari hingga malam hari.
Organda Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) meminta agar pemerintah dapat mencarikan solusi dari kondisi antrian panjang truk-truk angkutan barang di sejumlah SPBU di Kota Padang saat ini.
“Kita kok seperti belum menikmati kemerdekaan ya. Jika dulu uang ada tapi beras yang dibeli tidak ada. Sekarang uang ada tapi minyak yang dibeli tidak ada,” ungkap Ketua Divisi Angkutan Barang Organda Provinsi Sumbar, Syafrizal, kemarin.
Tidak dipungkiri, antrean truk angkutan di sejumlah pengisian BBM berbahan solar sering terjadi. Bahkan tidak hanya di tahun 2022 ini. Tapi juga sudah terjadi sejak sebelum Covid-19 melanda Sumbar. Namun, bertahun tahun kondisi ini terjadi, menurut Syafrizal tidak ada solusi dari pihak terkait dalam mengatasi persoalan ini.
Syafrizal mengungkapkan, kelangkaan BBM untuk truk ini berdampak cukup besar terhadap distribusi barang kebutuhan pokok dan logistik serta barang lainnya. Pasalnya, dengan antrean yang memakan waktu berjam-jam di SPBU akan berdampak keterlambatan barang yang diangkut sampai di tujuan.
Keterlambatan ini jelas akan menimbulkan biaya operasional yang cukup besar. Sehingga akan berdampak kenaikan harga barang di tengah masyarakat. Syafrizal mengingatkan pemerintah, pemerintah daerah, DPRD, maupun PT Pertamina dan siapun yang terkait dalam persoalan ini, agar dapat mencarikan solusi secepatnya.
“Dampaknya cukup besar bagi masyarakat. Hidup makin susah sejak pandemic Covid-19 ini. Jangan biarkan kondisi ini berlarut-larut yang akan menimbulkan masalah baru. Apalagi saat ini memasuki bulan ramadhan. Jangan sampai kondisi ini berlanjut terus,” harapnya. (fan)






