METRO SUMBAR

Balita Stunting di Pasaman Capai 1.252 Anak

0
×

Balita Stunting di Pasaman Capai 1.252 Anak

Sebarkan artikel ini

PASAMAN, METRO – Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman, mencatat angka balita stunting di daerah itu mencapai 1.253 anak. Jumlah anak yang terganggu pertumbuhan secara fisik atau bertubuh pendek ini menyebar pada sepuluh nagari di enam kecamatan di daerah itu.
Persoalan itu dibenarkan oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman, dr Arnida, Kamis (22/11). Ia menyebutkan, di Nagari Cubadak, Duokoto, jumlah balita stunting mencapai 415 orang anak. Disusul Nagari Ladang Panjang di Tigo Nagari sebanyak 172 orang anak, Muaro Seilolo, Mapattunggul Selatan 164 orang anak, Ganggo Hilia, Bonjol sebanyak 137 orang anak.
Berikutnya, Nagari Malampah, Tigo Nagari sebanyak 102 orang anak. Binjai Tigo Nagari sebanyak 83 orang anak, Koto Kaciak Kecamatan Bonjol sebanyai 68 anak, Kecamatan Panti sebanyak 52 orang anak, Kotorajo Kecamatan Rao Utara sebanyak 51 orang anak. Terakhir, Nagari Simpang Tonang, Kecamatan Dua Koto sebanyak 9 orang anak.
”Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan fisik pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya,” kata Arnida.
Kekurangan gizi itu, kata Arnida  terjadi sejak bayi itu masih dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir, atau dalam 1000 hari pertama kehidupan. Namun, stunting baru nampak setelah anak berusia 2 tahun.
Stunting kata dia juga berdampak pada tingkat kecerdasan anak, begitu juga katanya rentan terhadap penyakit, dan penurunan produktivitas. Untuk di Pasaman, rata-rata stunting muncul sejak bayi dalam kandungan.
”Penyebab stunting antara lain, ibu hamil yang kekurangan makanan tambahan dan asupan gizi, sanitasi yang buruk, minimnya akses air bersih serta prilaku hidup tidak sehat,” katanya.
Sementara Stunting Menurut dr Fionaliza sangat identik dengan anak bertubuh pendek, IQ dibawah rata-rata, rentan terhadap berbagai penyakit serta produktifitas yang rendah.
”Stunting juga sering disebut kondisi gagal tumbuh pada balita sejak masih dalam kandungan hingga 1.000 hari pertama kehidupan, itu adalah masalah rawan terhadap balita terkena stunting,” ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman, Amdarisman mengatakan, pemberian makanan tambahan lokal bagi Ibu hamil dan balita dapat menanggulangi permasalahan stunting di wilayah itu.
”Ibu hamil dan balita ini kan merupakan kelompok yang sangat rawan mengalami kekurangan gizi. Untuk itu, pemberian gizi dan makanan bagi ibu hamil dan balita harus diprioritaskan. Ini upaya pemerintah menanggulangi stunting,” katanya.
Bahkan, kata Amda, pemerintah pusat telah mengalokasikan dana sebesar Rp 625 juta, untuk perbaikan gizi bagi ibu hamil dan balita di nagari yang menjadi lokus stunting. ”Dana ini hanya disalurkan untuk 16 kabupaten terpilih dari total 100 kabupaten/kota lokus stunting di Indonesia. Ini bentuk kerjasama antara Kemenkes dengan ketua TP PKK kabupate,” kata Amda.
Ia mengatakan, penanggulangan stunting menjadi program prioritas pemerintah pusat dan daerah. Pada 2019 nanti, kata dia, akan dibangun sanitasi dan air bersih bagi nagari yang banyak mengalami balita stunting.
”Untuk penanganan stunting di sepuluh nagari itu, bersama OPD terkait, kita akan bangun jamban sebanyak lima per nagari. Pembangunan sarana air bersih dan pemberian gizi dan makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita,” tutup Amda. (cr6)

Baca Juga  Pasaman Terima Mobil Kebencanaan dari BNPB