BERITA UTAMA

Pascagempa Pasaman Raya, 15 Ribu Jiwa Mengungsi, Pengungsi Mulai Terserang Penyakit, Polri Kirimkan Tenaga Medis

1
×

Pascagempa Pasaman Raya, 15 Ribu Jiwa Mengungsi, Pengungsi Mulai Terserang Penyakit, Polri Kirimkan Tenaga Medis

Sebarkan artikel ini
PENCARIAN— Tim gabungan masih terus melakukan pencarian 4 korban yang hilang tertimbun longsor yang dipicu gempa bumi berkekuatan 6,1 SR

PASBAR,METRO–Sedikitnya, 15 ribu jiwa masih mengungsi, baik itu secara terpusat atau mandiri yang masih menumpang di rumah saudara-saudaranya, baik itu di Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) maupun di Kabupaten Pasaman.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Koor­dinator Pembangunan Manusia dan Kebu­dayaan RI Muhadjir Effendy dalam jumpa pers usai mengunjungi lokasi yang terdampak gempa di Pasbar, Kamis (3/3).

”Berdasarkan data sementara sampai saat ini jumlah pengungsi akibat gempa di Pasbar dan Pasaman, mencapai 15 ribu orang,” katanya didampingi Gubernur Sumbar Mahyeldi, Wakil Bupati Pasaman Barat, dan pejabat lain.

Ia merinci dari data tersebut 11 ribu lebih merupakan pengungsi di Pasbar, sedangkan 3 ribu lebih berada di Kabupaten Pasaman.

”Pemerintah terus ber­upaya untuk memastikan kebutuhan sehari-hari pe­ngung­si bisa terpenuhi, te­rutama kebutuhan dasar,” katanya.

Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah juga terus berupaya memenuhi kebutuhan Mandi Cuci Kakus (MCK), ketersediaan air bersih, dan peningkatan kebersihan bagi warga yang mengungsi.

Sementara untuk data infrastruktur ia memaparkan ada sekitar 3.094 unit rumah, 29 rumah ibadah, 33 sekolah, 10 fasilitas kesehatan, dan lima gedung perkantoran yang mengalami kerusakan.

Pada bagian lain, Menteri Koordinator itu juga mendorong pemerintah daerah atau Satuan Tugas tanggap darurat bencana Pasaman Barat mempercepat validasi data korban gempa.

”Percepat validasi data korban gempa dan pengungsi karena ini kaitannya nanti dengan pemberian bantuan kepada warga yang terdampak,” katanya.

Data tersebut juga akan menjadi pijakan untuk pem­­­be­rian ruang tunggu dan pem­bangunan hunian se­­men­tara bagi warga yang ru­mahnya tidak bisa ditempati.

Selain rumah warga, Muhadjir Effendy juga meminta percepatan data kerusakan infrastruktur serta fasilitas umum Ia mengatakan validasi data korban gempa setidaknya harus selesai jelang berakhirnya masa tanggap da­rurat bencana di Pasaman Barat yaitu pada 10 Maret mendatang.

Sementara itu, data yang diperoleh dari unsur SAR Padang diketahui hingga hari ke 8 pasca gempa yang mengguncang Pasaman Raya, Jumat (25/2) yang lalu, tercatat 13 orang meninggal dan 4 korban masih dinyatakan hilang.

“Rinciannya, 11 orang meninggal saat terjadinya gempa dan longsor di wila­yah Malampah, Kabupaten Pasaman Barat, 2 orang meninggal saat di pengungsian, dan 4 orang ma­sih dinyatakan hilang dan masih terus dilakukan pen­carian,”ujar Kasiops Basarnas Padang, Octavianto, Jumat (4/3).

Dikatakan oleh Octavianto, 4 korban yang ma­sih dalam proses pencarian tersebut yaitu, Safar (49), Manir (50), dan Sendri (32) warga Siparayo, Ma­lam­pah, serta Upiak Medan (27) warga Kampung Pisang Malampah.

“Unsur gabungan terus melakukan pencarian 4 korban hilang ini dengan mela­kukan penyisiran sejauh lebih kurang 35 km. Namunn karena hari ini telah malam, dan jarak pandang yang terbatas, operasi SAR dihentikian sementara dan dilanjutkan besok pagi,”katanya.

Mabes Polri Kirimkan Tenaga Medis

Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat sebut korban gempa bumi mengalami sakit di tenda pengungsian. Hal itu dikarenakan banyaknya rumah ma­syarakat yang rusak dan tidak layak huni.

“Terkait gempa bumi di Kabupaten Pasaman Barat dan Pasaman, Pol­da Sum­bar mendapatkan bantuan te­naga medis dari Dokkes Mabes Polri sebanyak 19 per­sonel,” kata Komb­es ­Pol­ ­Stefanus ­Sata­ke ­Bayu ­Setian­to, Jumat  (4/3).

Ia mengatakan, sebanyak 19 personel dari Ma­bes Polri ini langsung diterjunkan ke dua Kabupaten yang terdampak parah akibat gempa bumi. Pihaknya menyebutkan, hal yang paling diperlukan adalah terkait anak-anak.

“Mereka ada yang mem­punyai kemampuan spesialis penyakit anak dan penyakit dalam. Rata-rata memang ada penyakit flu, jadi yang diperlukan ya obat-obat terkait dengan flu,” katanya.

Para pengungsi korban gempa bumi juga mengalami batuk sehingga membutuhkan pengobatan. “Per­sonel kita yang turun sejak hari pertama ada 1.592 orang gabungan,” katanya.

Polda Sumbar juga me­nurunkan anjing pelacak untuk melakukan pencarian terhadap korban yang hilang di Nagari Malampah, Kecamatan Tigo Nagari. “Karena masih ada empat orang dalam pencarian,” katanya.

Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto mengajak masyarakat untuk dapat meringankan beban warga yang terdampak gempa bumi.

“Musim hujan yang me­n­jadi masalah bagi ma­sya­ra­kat yang masih me­ngung­­si. Sedang kita di rumah merasa tidak nyaman saat hujan, apalagi mereka yang masih di tenda  pe­ngungsian,” katanya. (end)