METRO PADANG

Andre: Nelayan Susah dapat BBM

0
×

Andre: Nelayan Susah dapat BBM

Sebarkan artikel ini

PASIE JAMBAK, METRO – Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Partai Gerindra Andre Rosiade menyayangkan susahnya nelayan mendapatkan bahan bakar bersubsidi (BBM) jenis premium. Meski harganya tak dinaikkan, tapi untuk mendapatkannya sangatlah sulit. Bahkan jumlahnya juga dibatasi dan antrenya panjang.
“Hasil diskusi kami dengan para nelayan Pasie Jambak, Kecamatan Kototangah, Kota Padang, mereka semua kesulitan untuk menemukan dan membeli BBM bersubdisi untuk melaut. Kalau harus menggunakan BBM nonsubsidi seperti pertalite dan pertamax juga sangat memberatkan,” kata Andre saat berdialog dengan nelayan Pasie Jambak, kemarin.
Andre mendesak Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Pertamina pusat dan Pertamina Sumbagut (Sumatera Bagian Utara) untuk melihat langsung kondisi nelayan. Karena, di tengah kehidupan yang sangat sulit, mereka juga semakin dibebani dengan BBM yang langka dan susah dicari.
“Memang harga premium atau BBM bersubsidi tidak dinaikkan. Tapi untuk mendapatkannya susah. Nelayan harus minta tandatangan ke pemerintahan terendah terlebih dahulu. Itupun dengan jumlah pembelian yang sangat terbatas. Sangat sering, di SPBU-SPBU di Kota Padang, premium kosong,” kata juru bicara Prabowo-Sandi ini.
Andre juga menyayangkan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar yang beberapa waktu lalu juga meninjau lokasi Pasie Jambak bersama tim dan anggota DPR RI. Hasilnya, sampai kemarin belum ada solusi yang didapatkan nelayan. Mereka sulit melaut dan tidak mendapatkan penghasilan.
“Kami akan meminta Fraksi Gerindra di DPRD Sumbar dan DPR RI untuk memastikan ketersediaan BBM subsidi untuk nelayan. Kalau perlu perbanyaklah SPBU Nelayan (SPBUN). Kalau tidak, tentu ekonomi rakyat akan semakin sulit dan kesejahteraan semakin jauh,” kata calon anggota DPR RI Dapil Sumbar 1 ini.
Ketua Kelompok Nelayan Jambak Indah, Irwansyah menyebutkan, banyak nelayan yang tidak berani turun ke laut, karena persediaan BBM yang sangat tipis. Kalaupun melaut, hasil yang didapatkan juga sedikit, karena daya jelajah kapal yang minim. Hal ini sudah berlangsung selama setahun terakhir yang menyebabkan pasokan ikan menurun.
“Bulan lalu memang ada penyaluran konventer kit dari Kementerian ESDM kepada kami. Namun, alat yang berguna untuk mengubah mesin dari BBM ke gas itu, tidak banyak bermanfaat bagi kami. Karena, mencari gas juga susah. Belum lagi mayoritas mesin yang digunakan nelayan di sini adalah mesin tempel (long tail). Tidak bisa menggunakan konventer kit,” sebut Irwan.
Dia juga merasa aneh, kalau di SPBU premium sering habis atau kosong. Jika pun ada ada, antreannya panjang. Anehnya premium banyak tersedia di kios-kios BBM di pinggir jalan. “Kalau kami beli yang ketengan, harganya Rp10 ribu satu jeriken yang isinya seliter. Hampir dua kali lipat dari harga di SPBU, Rp6.550” katanya.
Dia berharap, Andre Rosiade memperjuangkan kepada pusat, agar nelayan tidak lagi dipersulit membeli BBM bersubsidi. “Pak Andre kan di pusat, semoga bisa membantu mengubah kebijakan-kebijakan aneh ini. Kami nelayan butuh BBM bersubsidi, sementara sudah mendapatkannya. SPBU malah menjual ke pedagang ketengan,” katanya. (ade)