METRO BISNIS

Bos BI Ungkap 3 Strategi Pengembangan Keuangan Berkelanjutan

0
×

Bos BI Ungkap 3 Strategi Pengembangan Keuangan Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan negara-negara yang tergabung dalam G20 terus mencari strategi dalam mengurangi kesenjangan pembiayaan untuk lingkungan yang lebih berkelanjutan.

JAKARTA, METRO–Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, perlunya mendorong ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan seimbang dalam membantu percepatan pemilihan ekonomi pasca pandemi Covid-19. Hal tersebut menjadi angenda yang pen­ting dalam pembahasan finance track dan sherpa track dalam Presidensi G20.

Gubernur BI Perry Warjiyo meng­ungkapkan, dalam hal ini negara-negara yang tergabung dalam G20 terus mencari strategi dalam mengurangi kesenjangan pembiayaan untuk lingku­ngan yang lebih berkelanjutan.

Perry memaparkan, terdapat tiga strategi penting dalam meningkatkan pengembangan inisiatif keuangan berkelanjutan. Pertama, peningkatan instrumen ekonomi hijau dan investasi ramah lingkungan yang berperan penting untuk mendorong kemajuan menuju eko­nomi hijau yang berkelanjutan.

Adapun investasi dalam instrumen keuangan berbasis ekonomi hijau me­ngarah pada transisi energi ramah lingkungan, transportasi ramah lingku­ngan, bangunan ramah lingkungan, dan lainnya yang dapat menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi dan potensi terbukanya lapangan kerja.

“Ini akan membantu transisi menuju ekonomi dan keuangan yang lebih berkelanjutan,” ujarnya secara virtual, Jumat (18/2).

Perry melanjutkan, strategi kedua yaitu pembangunan ekosistem instrumen keuangan yang berkelanjutan. BI sendiri saat ini sedang bergerak menuju bank sentral hijau, di mana ekonomi hijau dan instrumen keuangan merupakan bagian dari bauran kebijakan BI.

Menurutnya, lembaga keuangan dalam hal ini perbankan dan korporasi berperan penting untuk mendukung pembangunan proyek yang ramah lingkingan dengan target penurunan emisi karbon. “Sektor keuangan harus bersinergi untuk mencapai target penurunan emisi karbon dalam mitigasi risiko perubahan iklim,” jelasnya.

Terakhir, yaitu meningkatkan kapasitas dan bantuan teknis berkelanjutan untuk meningkatkan tingkat pemahaman dan keahlian otoritas global dan domestik, industri, dan pelaku pasar. “Hal ini penting untuk mempercepat pengembangan instrumen ekonomi dan keuangan yang berkelanjutan,” pung­kasnya. (jpc)