BERITA UTAMA

Kuota Haji Indonesia Hanya Setengah, Antrean Makin Panjang

3
×

Kuota Haji Indonesia Hanya Setengah, Antrean Makin Panjang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

JAKARTA, METRO–Pelaksanaan ibadah ha­ji 2022 rencananya akan berlangsung setelah dua tahun berturut-turut tertunda akibat Covid-19. Namun, Pemerintah Arab Sau­di dikabarkan hanya memberi setengah kuota jemaah haji bagi Indonesia.

Mengomentari hal ini, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang mengatakan bahwa dari hal ini akan muncul kerumitan baru. Salah satunya adalah siapa saja jemaah yang bisa berhaji tahun ini karena antrean haji pun semakin panjang.

Adapun, saat ini pihak­nya juga sudah membentuk Panja Haji untuk kem­bali menelusuri persoalan haji di masa pandemi ini. Apalagi, kuota yang di­per­kenankan berhaji tahun ini hanya setengahnya dari 220 ribu kuota yang dimiliki Indonesia.

Baca Juga  Geger! Ada Mayat Pria Terbungkus  Kain Merah, Kondisinya Membusuk dan Dikerumuni Lalat, Ada Luka yang Diduga Akibat Kekerasan 

“Komisi VIII sudah mem­bentuk Panja Pembe­rang­katan Ibadah Haji. Dua tahun berturut-turut tidak ada ibadah haji. An­trean jadi semakin panjang. Jemaah kita semakin resah,” jelasnya, Minggu (13/2).

“Jemaah kita rata-rata umurnya sudah tua. Kalau ditunda setahun lagi, apakah masih hidup? Andaikan nanti Pemerintah Arab Saudi memberi kuota kita setengahnya dari 220 ribu menjadi hanya 100 ribu saja, maka akan muncul ke­rumitan baru, siapa yang akan dipastikan berang­kat,” sambungnya.

Lobi dengan Pemerintah Arab Saudi jadi keniscayaan untuk dilakukan Pemerintah Indonesia dan DPR RI. Harapannya, kuota tidak dikurangi, sebab bila kuota didasarkan pada presentasi wilayah, bisa jadi ada provinsi yang tidak kebagian jatah haji.

Baca Juga  Ferdy Sambo Batal Dihukum Mati, MA Pustuskan Penjara Seumur Hidup

Untuk itu, Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohaj) harus diperbaiki. Selain itu juga disampaikan, pelaksanaan ibadah haji di masa pandemi ini akan dikenai biaya tambahan berupa PCR dan karantina sebelum masuk Mekkah dan Madinah.

“Kami sudah menghitung akan ada penambahan ongkos haji yang selama ini tidak pernah kita lakukan. Misalnya, PCR ada tujuh kali, karantina sebelum sampai Madinah dan Mekkah. Semua itu menimbulkan tambahan biaya. Kami tidak ingin terlalu tinggi tambahan yang harus dibayarkan ja­maah,­” pungkas Mar­wan.(jpg)