JATI, METRO–Sebagai rumah sakit rujukan pasien Covid-19, RSUP M Djamil Padang sudah merapatkan kembali barisan di semua lini termasuk Satgasnya menyusul merebaknya varian virus corona yakni Omicron di Indonesia.
Saat ini, M Djamil merawat 16 pasien yang probable omicron, tiga pasien di antaranya kondisi berat, dirawat di ICU RSUP. Usia pasien tersebut 53-76 tahun alias manula, dan belum divaksin.
“Saya sangat mewanti-wanti masyarakat Sumbar, di manapun beraktivitas, jangan lupa selalu pakai masker medis, cuci tangan, dan menjaga jarak dengan orang lain. Sebab, orang yang di dalam tubuhnya telah dimasuki omicron, umumnya tidak bergejala klinis, dan penularan omicron ini jauh lebih gampang dibanding corona, ujar Dirut RSUP M Djamil Padang, DR dr Yusirwan Yusuf, didampingi Dr dr Dovy Djanas, dr Rose Dinda Martini, dan Ketua Tim Satgas Covid-19 RSUP Irvan Edison, Senin (7/2).
Dirut M Djamil Padang ini juga menekankan betul agar masyarakat segeralah melakukan vaksin. Semua kalangan dan semua usia, baik anak-anak, remaja, orang dewasa, dan manula.
“Vaksin akan memberi pelindung bagi tubuh manusia untuk melawan virus yang masuk ke dalam tubuh. Corona dan Delta masuk hingga ke Paru-paru. Namun omicron setelah masuk ia bisa di mana saja, baik di dalam otak, ginjal, lambung dan usus. Orang yang pernah covid, lalu divaksin lengkap, akan lebih bisa bertahan dari tingkat keparahan jika terkena omicron,” jelas Dr Yusirwan Yusuf.
RSUP M Djamil Padang hanya akan merawat pasien covid tingkat sedang dan parah. Jikapun ada yang saat ini dirawat kategori sedang, itu karena masuk ke M Djamil karena penyakit lain. Dan karena setiap pasien yang dirawat harus melalui tes PCR, saat itulah ditemukan virus covid, atau variannya di dalam tubuh pasien tersebut.
Setelah pasien itu diketahui positif covid, harus dilakukan pula tes PCR SGTF (S Gene Target Failure), yang uji labornya ke RS Unand, atau dibawa ke Jakarta. Tes PCR SGTF terletak pada kit reagen khusus yang dibutuhkan untuk SGTF yang fokus pada area genom omicron. Reagen SGTF sangat penting untuk mendeteksi omicron atau skrining varian covid.
Dr Yusirwan juga mengungkapkan pasien omicron di Indonesia tertularnya didominasi dari keluarga.
“Penularan omicron ini terbanyak di dalam keluarga, klaster keluarga. Kalau dulu covid terbanyak menular dari tempat-tempat umum seperti perkantoran, pusat perbelanjaan, kini terbanyak dari keluarga yang memang kuat interaksinya,” ujarnya.
Jadi dengan demikian kata Yusirwan, penting setiap keluarga sudah divaksin, sehingga dari keluarga tidak merebak ke lingkungan tempat tinggalnya, maupun ke saudara-saudaranya yang lain.
“Kemunculan omicron ini tidak ada sangkut-pautnya dengan masuknya bulan Ramadan atau apapun. Di dunia kesehatan, virus dikenal memang mampu bermutasi, berkembang, dan menghasilkan varian-varian baru,” ujarnya.
Terkait banyaknya manula yang belum divaksin, Ketua Tim Satgas Covid-19 RSUP, Irfan Edison mengatakan, manula yang umumnya memiliki penyakit bawaan (komorbid) bisa divaksin, setelah melalui skrining medis.
“Kita akan lihat tingkat komorbidnya, apakah bisa dilakukan vaksin atau tidak. Jadi tidak serta-merta orang yang memiliki riwayat penyakit dalam, tidak bisa divaksin. Saya sangat anjurkan orang lanjut usia untuk proaktif datang ke puskesmas atau ke rumah sakit, untuk mendeteksi kemungkinannya bisa divaksin atau tidak,” ujar dokter paru ini. (rom)






