METRO SUMBAR

23 Km Jalan di Silayang Memprihatinkan, Warga Kesulitan Menjual Hasil Bumi

0
×

23 Km Jalan di Silayang Memprihatinkan, Warga Kesulitan Menjual Hasil Bumi

Sebarkan artikel ini

PASAMAN, METRO – Sejumlah masyarakat dan petani yang berdomisili di Nagari Silayang, Kecamatan Mapattunggul Selatan mendambakan pembangunan akses jalan ke daerah itu. Pasalnya, selain rusak, jalan tersebut masih kondisi tanah dan bebatuan. Akibatnya, selalu menyulitkan warga dan para pengendara untuk melintasi jalan tersebut.
Padahal kekayaan hasil bumi masyarakat di daerah itu cukup banyak. Selain memiliki perkebunan karet yang begitu luas, para petani saat ini mulai menanami tanaman serai wangi.
Keluhan itu datang dari salah seorang warga, Muhammad Fajri (34). Ia mengungkapkan, jika masyarakat di daerah itu sudah lama mendambakan pembangunan akses jalan ke daerah tersebut. “Benar, sudah lama kita dambakan pembangunan jalan menuju Silayang Kecamatan Mapattunggul ini. Namun, sampai saat ini belum juga ada realisasi,” katanya.
Fajri mengungkapkan, kondisi jalan menuju Silayang, Kecamatan Mapattunggul kian terus memprihatinkan. Selain rusak parah, jalan tersebut masih kondisi tanah dan bebatuan. Otomatis kata dia, menyulitkan warga untuk melintasi daerah itu. “Selain rusak parah, juga rawan longsor, karena sebagian jalan dikelilingi perbukitan. Ini sebenarnya yang harus diperhatikan, karena terus mengancam nyawa para pengendara yang melintas di jalan ini,” kata Fajri.
Fajri mengungkapkan, berbagai upaya sudah dilakukan oleh masyarakat mulai dari mengusulkan melalui pemerintah nagari hingga kabupaten. Namun, kata dia, sampai saat ini belum ada tanggapan. “Selain mencoba mengusulkan melalui pemerintah nagari dan Pasaman, masyarakat juga sudah sering menyampaikan persoalan tersebut kepada anggota dewan yang berasal dari dapil ini, baik kabupaten maupun provinsi. Itu semua hanya tinggal janji,” katanya.
Senada dengan warga lainnya Hendra (28) mengatakan, panjang jalan yang rusak dan parah tersebut sepanjang 23 kilometer. Ia menambahkan, buruknya akses jalan ke daerah itu kata dia menyulitkan para petani karet dan serai wangi untuk menjual hasil buminya. “Ini juga jadi kendala sama kita para petani yakni biaya tranportasi yang begitu besar untuk mengangkut hasil bumi ke pusat kecamatan yang ada di Kecamatan Rao sana. Padahal biaya tersebut sudah bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur dan biaya anak sekolah,” kata dia.
Ia berharap kepada pemerintah daerah agar memperjuangkan pembangunan jalan tersebut. Sementara Kabid Bina Marga Pekerjaan Umum (PU) Pasaman, Gustiawijar mengungkapkan, jika jalan itu merupakan kewenangan Pemprov. Artinya Pemkab Pasaman tidak bisa merencanakan dan menganggarkan untuk pembangunan jalan itu, kecuali hanya bisa mengawal dan mengusulkan kepada Pemprov untuk diprioritaskan.
Walaupun demikian kata dia, Pemkab Pasaman tidak pernah tutup mata dengan kondisi jalan tersebut. Berbagai upaya telah dilakukan Pemkab Pasaman agar jalan tersebut dianggarkan. Bukan hanya jalan tersebut beberapa jalan yang menjadi kewenangan pihak Provinsi, terus diperjuangkan.
“Melalui musrembang Provinsi sudah sering diusulkan, namun belum ada realisasi. Bisa jadi mengingat anggaran saat ini terbatas dan masih ada yang perlu diprioritaskan, tentu harus menunggu. Walaupun demikian, kita tidak diam dan akan perjuangkan” katanya. (cr6)