METRO SUMBAR

Agar Harapan Petani Kabupaten Pesisir SelatanTerakomodir,  KP3 Harus Aktif

0
×

Agar Harapan Petani Kabupaten Pesisir SelatanTerakomodir,  KP3 Harus Aktif

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi petani di sawah.

PESSEL, METRO–Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, Madrianto meminta Komisi Penga­was Pupuk dan Pestisida (KP3) kabupaten untuk aktif, di daerah itu.

“Aktif dalam arti, bagaimana harapan petani bisa terakomodir, terutama dalam pendistribusian dan pengaturan pupuk subsidi bisa merata sesuai kebutuhan,”kata dia, Kamis (27/1)

Sejauh ini, lanjut dia menga­takan, belum me­ngetahui bagai­mana tindak lanjut KP3 soal lon­jakan harga dan kelangkaan pupuk. Sebab, ia mengakui, masih mulai menjabat sebagai kepala dinas per 31 Desember 2021.

Lonjakan harga dan ke­lang­kaan pupuk di daerah itu, sudah berlangsung sejak November 2021. Petani di daerah ini mengeluhkan soal lonjakan dan sulitnya men­dapat pupuk murah itu.

“Pupuk jenis ZA kini Rp 360 ribu per karung (50 Kilogram), melonjak jauh dari harga Maret yang hanya Rp150 ribu per karung,” ungkap Indra, (44) salah seorang petani di Kampung Muaro Nagari (desa adat) IV Koto Hilie Kecamatan Batang Kapas.

Baca Juga  Jelang Lebaran 1441 Hijriah, Semen Padang Bagikan 5.205 Paket Sembako

Untuk jenis Phonska, naik dari Rp 150 ribu per karung, kini menjadi Rp 300 ribu per karung. Sementara keluhan yang disampaikan para petani hingga kini belum mendapat respon dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang ada di keca­matan itu.

Kondisi serupa juga dirasakan Afrizal (56) tahun, salah seorang petani di Nagari IV Koto Mudik Kecamatan Batang Kapas. Tak hanya kenaikan harga, keterse­diaan pupuk bersubsidi mulai langka sejak dua bulan terakhir.

Menurutnya, dari keterangan kios pengecer kekosongan terjadi dari tingkat distributor kabupaten. Bahkan, kuota yang diterima petani masih separo dari Rencana De­finitif Kebutuhan Kelompok (RD­KK).

“Padahal kini memasuki musim tanam. Akibatnya kini banyak padi petani yang menguning karena kekurangan pupuk,” ujarnya.

Baca Juga  Sukseskan Pemilu 2024 Serentak, KPU Pessel Gelar Rapat Konsolidasi Daerah Menyongsong Pemilu 2024

Kelangkaan dan lonjakan har­ga pun dialami petani di Nagari Salido Kecamatan IV Jurai. Ma­radi, (68), salah seorang petani setempat mengaku phonska Rp 150 ribu per karung, dari Rp 135 ribu per karung. Urea Rp150 ribu per karung, dari Rp125 per ka­rung.

Menurut Madrianto, ini perlu dilakukan mu­syawarah bersama. Sebab, katanya, soal harga dan kelangkaan pupuk bersubsidi tidak hanya bisa dibahas di tingkat Dinas Pertanian saja.

Namun, di daerah ada na­manya Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KP3) yang leading sektor digawangi oleh beberapa unsur OPD.

“Leading sektor, ini koordinasi dengan Asisten dan Bagian Pere­konomian, dan kita menginisiasi ini segera diaktifkan bagaimana hak petani dalam hal pupuk subsidi terakomodir,” ujarnya.(rio)