PAYAKUMBUH/50 KOTA

Luapan Batang Kapur, BWS Sumatera V harus Turun Tangan

0
×

Luapan Batang Kapur, BWS Sumatera V harus Turun Tangan

Sebarkan artikel ini
Syawaluddin Ayub

LIMAPULUH KOTA, METRO–Persoalan banjir yang terus terjadi hampir setiap hujan deras turun sepanjang tahun di Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Lima Puluh Kota, telah menimbulkan kerusakan dan kerugian materi berke­panjangan bagi masya­rakat. Belum lagi rasa cemas dan khawatir dialami warga terutama yang di­lintasi daerah aliran batang Kapur.

Koordinator Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Ampera, Syawaluddin A­yub, ketika diminta komentarnya terkait terus terja­dinya bencana alam banjir di kawasan Kapur IX yang terus menerus, berharap kepada Pemerintah Propinsi Sumatera Barat melalui Balai Wilayah Su­ngai (BWS) Sumatera V dan Balai Wilayah Sungai Riau untuk serius memperhatikan penanggulangan kawasan Sungai Batang Kapur yang menjadi pe­nyebab terjadinya banjir di daerah penghasil gambir terbesar di tanah air itu.

“Penanggulangan wi­layah sungai, khususnya wilayah Sungai Batang Kapur tidak bisa setengah hati. Artinya, pihak Balai Wilayah Sungai harus serius melakukan normalisasi Batang Kapur, agar banjir bandang tidak terjadi lagi setiap tahun di daerah itu,” sebut Sya­waluddin Ayub.

Menurut Syawaluddin Ayub yang juga tokoh masyarakat Lima Puluh Kota ini banjir yang terjadi di kawasan Kapur IX, disebabkan terjadinya pendangkalan terhadap Sungai Batang Kapur. Sehingga tingginya debit air saat hujan dikawasan hulu tidak tertampung oleh sungai akibat terjadi pendangkalan aliran sungai disebabkan sedimentasi.

Baca Juga  PWI Payakumbuh-Limapuluh Kota, Berikan Penghargaan pada Polres Payakumbuh

“Pendangkalan sungai terjadi karena adanya pengendapan partikel padatan yang terbawa oleh arus sungai. Partikel ini dapat berupa sampah dan yang terutama partikel tanah akibat erosi yang berlebihan. Jalan keluar untuk mengatasi agar su­ngai Batang Kapur tidak meluap lagi, harus dilakukan penggerukan karena saat ini telah terjadi pendangkalan,” ungkap Sya­waluddin Ayub.

Menurut Syawaluddin Ayub, kerusakan lingku­ngan akibat luapan Sungai Batang Kapur tidak hanya terjadinya pendangkalan sungai. Namun dibanyak titik sepanjang aliran Su­ngai Batang Kapur, telah terjadi kerusakan parah seperti runtuhnya tebing sungai yang telah merusak badan jalan, persawahan dan perkebunan penduduk.

Sementara itu tokoh masyarakat Kecamatan Kapur IX, Syafrial, ketika diminta komentarnya terkait keresahan ma­sya­rakat Kecamatan Kapur IX yang masih dihantui rasa takut jika terjadinya banjir bandang susulan, berharap kepada Balai Wilayah Sungai Sumatera V dan Balai Wilayah Su­ngai Riau melakukan normalisasi menyeluruh se­panjang aliran Sungai Batang Kapur.

“Ketika Wakil Gubernur Sumbar, Audi Joi­nai­dy, berkunjung ke Kecamatan Kapur IX beberapa minggu lalu, ma­sya­rakat Kecamatan Kapur IX sudah menyampaikan aspirasi mereka terkait persoalan banjir yang selalu menghantui masyarakat Kecamatan Kapur IX,” sebut Syafrial.

 Diakui Syafrizal, untuk penanggulangan kerusakan pasca banjir di kawasan Kapur IX, tidak bisa dengan alokasi anggaran sedikit.  “Kalau Balai Wi­layah Sungai Sumatera V hanya mengucurkan dana terbatas atau berjumlah ratusan juta rupiah, tentu anggaran sebanyak tersebut hanya mampu me­ngatasi kerusakan sisi tebing sungai dengan memasang beronjong ditempat tertentu saja. Padahal, dampak banjir bandang akibat luapan banjir su­ngai Batang Kapur tersebut telah merusak badan jalan dan jembatan serta sarana irigasi persawahan penduduk,” ulas Syafrizal.

Baca Juga  Ketua LKAAM Kota Payakumbuh, Apresiasi Program MBG Presiden Prabowo

Dia berharap, untuk mengatasi agar banjir tidak terjadi lagi di kawasan Kapur IX, pihak Pemerintah Propinsi Suma­tera Barat melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera V harus melakukan normalisasi sungai.

Sementara itu seo­rang tokoh muda Kecamatan Kapur IX yang saat ini sedang diberi amanah sebagai wakil rakyat di DPRD Limapuluh Kota dari Fraksi Partai Hanura, Gusti Randa, mengakui bahwa kondisi sungai Batang Ka­pur telah terjadi pendang­kalan yang sudah berlangsung cukup lama.

“Kondisi Sungai Batang Kapur sudah semestinya dilakukan pengerukan sebagai tindak lanjut normalisasi. Kita harap Balai Wilayah Sungai V (BWS) Sumatera V supaya segera melakukan upaya penanganan agar pada saat musim hujan warga masyarakat  tidak lagi selalu menjadi langganan banjir, dan kerugian materi tidak selalu dialami warga setiap tahun,” sebutnya. (uus)