METRO SUMBAR

Lima Kapalo Banda Rusak, 250 Hektare Sawah Tidak Dialiri Air di Kecamatan Lintaubuo Utara

0
×

Lima Kapalo Banda Rusak, 250 Hektare Sawah Tidak Dialiri Air di Kecamatan Lintaubuo Utara

Sebarkan artikel ini
MENYUSUT—Seorang warga menyaksikan air sungai yang menyusut, akibatnya aliran air ke areal persawahan pun tersendat.

TANAHDATAR, METRO–Masyarakat Jorong Kajai,  Nagari Tepiselo, Kecamatan Lintaubuo Utara membutuhkan perbaikan lima unit Kepala Bandar untuk irigasi persawahan di jorong itu. Perbaikan tersebut sangat mendesak karena lebih kurang 250 hektar sawah di daerah itu tidak terairi sejak lima kepala bandar yang ada rusak sejak tahun 2018 silam. Rusaknya kelima bendungan kepala bandar itu disebabkan terjangan aliran Galodo yang terjadi di Nagari Tanjung Bonai,  Kecamatan Lintaubuo Utara,  pada 2018 silam. Aliran Galodo itu menyatu dengan aliran Batang Selo dan merusak lima bendungan kepala bandar serta ikut merusak satu unit jembatan di Jo­rong Kajai kala itu.

Sejak saat itu, lima tali bandar yang biasanya me­ngaliri persawahan warga Jorong Kajai tidak lagi berfungsi,  hingga sejak saat itu juga warga tidak lagi berpoduksi padi di sawah karena tidak bisa digarap disebabkan tidak adanya air yang mengaliri bandar.

Kepala Jorong Kajai Yulizar mengatakan, akibat minimnya pasokan air, masyarakat kini banyak melakukan alih fungsi lahan. Alih fungsi itu berupa lahan yang sebelumnya sawah, kini telah menjadi ladang. Pada umumnya, sebagian besar petani da­erah itu menanam jagung dan ubi jalar. Namun, hal itu baru dilakukan setahun terakhir. Sebelum itu hanya duri berbatang yang tumbuh di sawah-sawah masyarakat yang luasnya lebih kurang 250 hektar. “Biasanya masyarakat kita menghasilkan beras, kini udah membeli beras, jika­pun hasil dari jagung menjanjikan,  tetap hasil penjualan jagung itu kembali dibelikan untuk beras. Namun,  tentu kebiasaan be­ru­bah,  dari menyimpan dan menjual beras,  seka­rang berubah menjadi mem­beli,  “ kata Yulizar saat ditemui di Jorong Kajai,  kemarin (17/1).

Yulizar mengatakan,  kelima kepala bandar primer yang rusak itu antara lain, Kapalo Bandar Limau Sundai yang ada di Jorong Mudiak Lindan rusak diterpa aliran galodo saat pe­ngerjaan kala itu. Kemudian kepala bandar Koto di Jorong Mudiak Lindan, kemudian Kepala Bandar Parit Rantang di Jorong Ujung Tanah, Kepala Bandar Sawah Loweh di Jo­rong Ujung Tanah, dan Kepala Bandar Kodok di Jo­rong Kajai. “Ke lima bandar itu berbeda letaknya namun tetap untuk mengairi sawah masyarakat kita yang ada di Jorong Kajai,  bahkan sampai ke sawah masyarakat di Sawah Ga­dang nagari Lubukjantan, “ terangnya.

Dari kelima kepala bandar itu sebutnya,  baru satu Kepala Bandar Parit Rantang yang diperbaiki pada tahun 2020 lalu,  dan pada tahun 2021 dilanjutkan perbaikan untuk tali bandarnya. “Bantuan itu dari Pemkab melalui instansi Dinas Pertanian yang pengerjaannya diserahkan kepada kelompok tani pengguna bandar itu sendiri, “ jelasnya.

Sedangkan untuk empat kepala bandar lainnya,  hingga saat ini masih belum tersentuh bantuan. Padahal masyarakat berharap adanya penanganan cepat. “Kita sudah ajukan perbaikan, bahkan setiap kali musrembang juga terus diprioritaskan,  namun masih belum berhasil hingga saat ini, “ sebutnya.

Yulizar mengatakan,  seti­daknya dari luas sawah lebih kurang 250 hektar itu,  terdiri dari hampir lebih kurang 150 pemilik maupun pe­ngolah sawah. “Untuk satu kali panen saja kerugian bisa diprediksi sangat besar. Bahkan beberapa tahun panen padi tidak terolah sekalipun. Bisa di­ba­yangkan beban masya­rakat untuk membeli beras, “ ujarnya.

Bahkan sebut Yulizar,  pada awal-awalnya sawah masyarakat tidak tersentuh sedikitpun,  akibatnya persawahan yang membentang luas dikaki perbukitan itu hanya ditumbuhi durian berbatang. “Sejak setahun terakhir,  masya­rakat berinisiatif untuk menjadikan sawah sebagai ladang jagung. Nah,  itulah yang akhirnya membantu ekonomi masyarakat, mes­kipun tetap harus membeli beras, “ jelasnya.

Meskipun secara swadaya masyarakat berusaha membuat bendungan darurat,  namun,  saat air Batang Selo besar terutama saat hujan lebat,  bendungan sementara itu kem­bali dirusak oleh air. “Kita berharap Pemkab melalui dinas terkait agar dapat segera mungkin membantu perbaikan irigasi kita disini. Agar warga kembali dapat memproduksi padi sebagai kebutuhan makanan pokok kita bersama. Dan lagi, kita ingin agar kebiasaan masyarakat seperti dahulu yang bisa menyimpan padi bisa tetap berlangsung,  hingga masya­rakat tidak terbebani da­lam memenuhi kebutuhan pokok, “ harapnya.

Sementara itu Eka Yeni, Penyuluh Pertanian Lapangan ( PPL) Dinas Pertanian Tanahdatar Tepi Selo membenarkan terkait hal tersebut. Dia juga menyebutkan, tidak hanya irigasi yang saat ini butuh perbaikan,  akan tetapi juga jembatan yang rusak juga butuh diperbaiki karena jembatan itu sangat penting bagi masya­rakat untuk mencari hidup.

“Memang benar baru satu kepala bandar yang diperbaiki,  sisanya masih belum. Kita sudah laporkan hal itu sebelumnya,  namun masih belum ada realisasi. Bahkan bandar itu tidak hanya mengaliri sa­wah di Jorong Kajai saja,  ada yang sampai ke nagari tetangga, “ ujarnya saat dihubungi.

Eka Yeni menjelaskan,  untuk satu tahun panen saja, kerugian masyarakat yang mengelola sawah dilima tali bandar bisa mencapai ratusan juta. (ant)