METRO NASIONAL

Cegah Omicron masuk ke Indonesia, Satgas Covid-19 Tegaskan Pintu Masuk Indonesia Terus Diperketat

0
×

Cegah Omicron masuk ke Indonesia, Satgas Covid-19 Tegaskan Pintu Masuk Indonesia Terus Diperketat

Sebarkan artikel ini
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan, pada Juli, kasus kematian menjadi yang tertinggi sejak awal pandemi. Tercatat sudah mencapai 30.168 kematian (per 28 Juli 2021) dengan rata-rata melebihi seribu kasus per hari dan tertinggi terjadi pada 27 Juli 2021, sebanyak 2.069 kasus per hari. Angka Juli ini meningkat drastis dibandingkan Juni 2021 sebesar 7.913 kematian.

JAKARTA, METRO–Satgas Penanganan Co­­vid-19 memastikan pintu masuk Indonesia terus diperketat guna mencegah pe­nularan varian Omi­cron.­ Pemerintah juga terus berupaya menekan peluang importasi kasus. Sa­lah satunya usaha Polri meluncurkan aplikasi Monitoring Karantina pada Kamis (6/1) di terminal keberangkatan Bandara Soe­karno-Hatta.

Aplikasi ini bentuk kola­borasi lintas sektor untuk memastikan karantina dijalani secara disiplin dan tidak ada transmisi lokal, khususnya terkait varian Omicron melalui upaya penyatuan data satu sis­tem.

 “Demi menekan laju penularan Omicron, pemerintah Indonesia terus meningkatkan upaya skrining ketat di pintu-pintu masuk negara serta menegakkan peraturan karantina tanpa pandang bulu,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito melalui akun BNPB di YouTube. Wiku menjelaskan per 5 Januari, data Omicron Indonesia mencapai 164 kasus.

Kementerian Perhu­bu­ngan pun memprediksi kedatangan ke Indonesia akan mulai meningkat signifikan hingga beberapa minggu ke depan. Setidak­nya sampai minggu ketiga Januari 2022.

“Langkah antisipasi di­rencanakan sedemikian rupa. Termasuk keputusan untuk menunda segala ben­tuk perjalanan yang tidak mendesak dan terencana apalagi dalam jumlah besar. Karena akan memberikan risiko terhadap keberhasilan pengendalian Covid-19 pascanataru,” lanjutnya.

Baca Juga  Presiden Jokowi Bakal Buka Munas V APKASI

Selain itu, Wiku juga mengimbau pemerintah dan Satgas Covid-19 di daerah untuk mengencarkan upaya 3T (testing, tracing dan treatment) agar bisa menghindari lonjakan kasus.  Meski penelitian menunjukkan varian Omicron menyebabkan infeksi yang tidak terlalu parah, tetapi pemerintah terus melakukan upaya pencegahan.  “Saya mohon ma­sya­rakat tidak lengah serta tetap waspada melakukan protokol kesehatan dalam kegiatan sehari-hari,” kata Wiku.

Satgas Minta Daerah Awasi Pelaksanaan Vaksinasi Booster

Satgas Penanganan Co­vid-19 meminta pemerintah daerah mengawasi program vaksinasi booster yang rencananya dimulai pada Rabu (12/1). Satgas menargetkan kepada 21 juta orang divaksinasi pada Januari.  Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan pemerintah berupaya berkontribusi besar terha­dap komitmen dari WHO­ untuk mencapai target 70 persen populasi dunia tervaksinasi di pertengahan 2022.

Untuk vaksinasi booster di Indonesia, fokus vak­sin memperkuat kekebalan komunitas di daerah. Program ini diprioritaskan bagi kabupaten atau kota yang capaian dosis pertama sudah 70 persen dan 60 persen untuk dosis keduanya.  Lalu, penerimanya diperuntukkan bagi yang berusia di atas 18 tahun dan telah mendapatkan vaksin dosis kedua dengan jangka waktu lebih dari enam bulan. Lebih jelasnya, status vaksinasi di tiap daerah dapat dilihat bersama di https://vaksin.­kem­kes.­go.­id.

Baca Juga  Tak Mudik untuk Menanggulangi Penyebaran Covid-19, Gubernur Mahyeldi Apresiasi Perantau Asal Minang

“Bagi daerah yang belum memenuhi kriteria ter­sebut untuk dapat mengejar target vaksinasinya,” kata Wiku melalui akun BNPB di YouTube.

Di samping itu, kata dia, WHO berdasarkan analisis data awal terkait penularan virus Omicron seperti di Inggris dan Afrika Selatan, serta hasil uji dari para produsen vaksin, me­nunjukkan bahwa varian tersebut masih dapat me­nye­rang tubuh yang telah memiliki kekebalan atau imunitas terhadap Covid-19.

Baik kekebalan dari vak­sinasi ataupun infeksi yang diderita sebelumnya. Beberapa studi lain menyatakan bahwa antibodi spesifik yang terbentuk ber­kurang kemampuannya dalam melindungi terha­dap Omicron.  Namun, jenis kekebalan lain masih mampu melindungi. “Untuk itu, mari kita terus menjaga kebugaran tubuh kita yang diiringi dengan pengadaan studi-studi ilmiah yang dapat menguatkan pengendalian Covid-19 di Indonesia,” ujar Wiku. (tan/jpnn)